Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Krisis Kepemimpinan Nyata di Tengah Bencana

Senin, 05 Januari 2026 | 18:48 WIB Last Updated 2026-01-05T11:49:02Z

TintaSiyasi.id -- Sudah satu bulan lebih bencana di Aceh dan Sumatra melanda, namun kondisi masih belum banyak berubah. Jalanan rusak, jembatan putus, kelaparan, kampung terisolasi tidak ada bantuan, banyak mayat yang belum dievakuasi, penyakit yang mengancam, dan banyak infrastruktur belum bisa beroperasi lagi.

Sungguh, kondisi masyarakat menyedihkan. Yang lebih menyedihkan, sikap para pemimpin negeri ini yang sibuk bernarasi dan tidak segera menangani. Bahkan para jurnalis dan relawan di ancam untuk tidak memberitakan kondisi yang sebenarnya. Apalagi sebelum bencana sudah ada peringatan dini, namun tidak pernah ada antisipasi atau evakuasi agar korban bisa diminimalkan.

Pemimpin yang nirempati, mereka lupa dengan jargon saat kampanye bahwa semua demi kesejahteraan rakyat. Lain di bibir lain dalam tindakan, ketika rakyat memerlukan uluran tangan para pemimpin berkelit dengan berbagai alasan. Padahal mereka punya wewenang luas untuk segera menuntaskan bencana.

Pemimpin yang abai wajar terjadi dalam sistem sekularisme kapitalis saat ini. Sistem yang meninggalkan peran agama, biasa ingkar janji, dan tidak takut dosa. Mereka hanya memikirkan kursi kekuasaan meskipun rakyat menjerit meminta pertolongan. Bahkan ribuan nyawa yang hilang dianggap hanya hitungan angka yang tidak berguna.

Bencana banjir bandang dan tanah longsor terbukti akibat dari penambangan yang ugal-ugalan, deforestasi, dan penebangan yang tidak memperhatikan dampak lingkungan. Kegiatan legal dengan izin usaha yang dikeluarkan oleh pejabat, padahal sangat berbahaya bagi lingkungan. Setelah bencana datang, para pemimpin masih bebal untuk meminta maaf dan tidak peduli kesusahan rakyat.

Pemimpin sejati lahir dari sistem lslam

Bencana memang ketentuan Allah dan harus bersabar menghadapinya. Di sisi lain, wajib bagi pemimpin menyeleseikannya dengan cepat. Di bawah komandonya, maka seluruh elemen akan bahu membahu memperbaiki kondisi. Pemimpin harus berani mengambil sikap, ia adalah pengatur urusan rakyat.
“Pemimpin adalah pengurus dan akan di mintai pertanggungjawaban atas kepengurusannya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Sikap amanah pemimpin menjadikannya tidak menunda menangani bencana. Dengan segenap kemampuan bekerja dan mengerahkan aparatur negara untuk terlibat didalamnya. Ia paham, ada pertanggungjawaban kelak di hadapan Allah terhadap kondisi rakyatnya dan takut adzab Allah karena lalai dari tanggungjawabnya.

Penanganan bencana memerlukan dana yang besar. Indonesia dengan kekayaan alam yang melimpah, seperti tambang, lautan, dan hutan pasti cukup buat mengatasinya. Bantuan bisa juga berasal dari masyarakat agar bencana bisa segera tuntas.

Pemimpin atau khalifah harus tahu kondisi sebenarnya di lapangan agar bisa memberikan solusi yang tepat, bukan sekedar laporan dari bawah. Khalifah sadar, tanggungjawabnya tidak bisa dipindahkan kepada yang lain karena pemimpin harus terdepan dalam menghadapi permasalahan. 

Dengan penerapan sistem lslam, lahir pemimpin sejati dan menjadi pelindung bagi rakyatnya. Sebaliknya, dalam sistem sekularisme kapitalis rakyat hidup sengsara karena dibiarkan sendiri menangani musibah. Ironinya, para pejabatnya tetap hidup mewah dan sejahtera.
Wallahu a’lam


Oleh: Umi Hanifah
Penulis ldeologis

Opini

×
Berita Terbaru Update