Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Keutamaan Kalimat Tauhid dalam Kitab 'Aja'ib Al-Qur'an

Selasa, 27 Januari 2026 | 05:52 WIB Last Updated 2026-01-26T22:52:50Z

Menurut Syaikhul Islam Fakhruddin ar-Razi (w. 606 H)

Pendahuluan

TintaSiyasi.id -- Kalimat Tauhid: Lā ilāha illallāh bukan sekadar lafaz yang diucapkan oleh lisan, tetapi inti dari seluruh ajaran Al-Qur’an, ruh dari iman, dan fondasi seluruh amal. Dalam kitab ‘Ajā’ib al-Qur’ān, Fakhruddin ar-Razi mengupas keajaiban Al-Qur’an bukan hanya dari sisi bahasa dan struktur, tetapi juga dari kandungan maknawi dan pengaruh ruhaniahnya, terutama pada kalimat Tauhid sebagai poros utama.

1. Tauhid sebagai Intisari Seluruh Al-Qur’an

Fakhruddin ar-Razi menjelaskan bahwa seluruh isi Al-Qur’an—baik kisah para nabi, hukum-hukum syariat, janji dan ancaman—pada hakikatnya kembali kepada penguatan Tauhid.

“Seluruh kandungan Al-Qur’an kembali kepada penetapan keesaan Allah dan penafian segala bentuk sekutu bagi-Nya.”

Kalimat Lā ilāha illallāh adalah ringkasan paling padat dari seluruh misi kenabian.

Makna penting:
Orang yang benar-benar memahami Tauhid, sejatinya telah membuka pintu pemahaman terhadap seluruh Al-Qur’an.

2. Keajaiban Tauhid: Penafian dan Penetapan

Ar-Razi menekankan bahwa keajaiban utama kalimat Tauhid terletak pada susunan logis dan maknawinya:

Lā ilāha >>> penafian total segala sesembahan selain Allah

Illallāh >>> penetapan mutlak keilahian Allah semata

Menurut beliau, penafian harus mendahului penetapan, sebab hati yang masih dipenuhi berhala dunia (harta, jabatan, hawa nafsu) tidak akan mampu menerima kebenaran Tauhid secara murni.

Ini menunjukkan Tauhid bukan sekadar keyakinan, tetapi proses pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs).

3. Tauhid sebagai Kunci Pembebasan Manusia

Dalam ‘Ajā’ib al-Qur’ān, ar-Razi menyinggung bahwa Tauhid adalah kunci kebebasan hakiki manusia.

Barang siapa mentauhidkan Allah dengan benar, maka ia telah membebaskan dirinya dari penghambaan kepada selain Allah.

Makna ilāh menurut ar-Razi bukan hanya “yang disembah”, tetapi segala sesuatu yang ditaati secara mutlak, ditakuti secara berlebihan, atau dicintai melebihi Allah.

Implikasi dakwah:
Tauhid melahirkan manusia merdeka, berani, dan bermartabat—tidak tunduk pada tirani makhluk.

4. Tauhid dan Keajaiban Pengaruh Spiritual Al-Qur’an

Fakhruddin ar-Razi menegaskan bahwa kalimat Tauhid memiliki pengaruh ruhani yang luar biasa karena ia selaras dengan fitrah manusia.

Ketika Tauhid dibaca, direnungi, dan diimani, maka ia:

menenangkan hati,

menundukkan ego,

mematahkan kesombongan akal,

dan menghubungkan ruh dengan sumber cahaya Ilahi.

Hal ini sejalan dengan firman Allah:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. ar-Ra‘d: 28)

5. Tauhid sebagai Pondasi Amal dan Keselamatan

Ar-Razi menegaskan bahwa amal sebesar apa pun akan runtuh jika tidak dibangun di atas Tauhid yang benar.

Dalam perspektif beliau:

Tauhid adalah syarat diterimanya amal

Tauhid adalah kunci keselamatan di akhirat

Tauhid adalah pembeda antara iman dan kesia-siaan

Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang akhir perkataannya adalah ‘Lā ilāha illallāh’, maka ia akan masuk surga.”
(HR. Abu Dawud)

Namun ar-Razi menekankan: bukan sekadar diucapkan, tetapi dipahami, diyakini, dan diwujudkan dalam ketaatan.

6. Tauhid: Dari Ilmu menuju Ma‘rifat

Dalam gaya khas ar-Razi yang memadukan rasionalitas kalam dan kedalaman spiritual, Tauhid memiliki tingkatan:

1. Tauhid lisan – pengakuan verbal

2. Tauhid akal – keyakinan rasional

3. Tauhid hati – penyaksian ruhani

4. Tauhid amal – totalitas penghambaan

Puncaknya adalah Tauhid Ma‘rifat, ketika seorang hamba:

“Tidak melihat sebab kecuali Allah,
tidak bersandar kecuali kepada-Nya,
dan tidak mencintai kecuali karena-Nya.”

Penutup: Tauhid sebagai Jalan Kehidupan

Menurut Syaikhul Islam Fakhruddin ar-Razi dalam ‘Ajā’ib al-Qur’ān, kalimat Tauhid bukan hanya kata pembuka Islam, tetapi jalan hidup seorang mukmin.

Tauhid yang sejati akan:

meluruskan akidah,

membersihkan jiwa,

menegakkan keberanian,

dan mengantarkan manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Inilah keajaiban terbesar Al-Qur’an:
satu kalimat Tauhid yang mampu mengubah manusia, masyarakat, bahkan peradaban.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo

Opini

×
Berita Terbaru Update