TintaSiyasi.id -- Pendahuluan: Ilmu yang Meninggi, Adab yang Menyusut
Kita sedang hidup di zaman ketika ilmu dapat diakses hanya dengan sentuhan jari. Kitab-kitab klasik hadir dalam format digital, ceramah para ulama tersedia tanpa batas, dan gelar akademik dapat diraih dengan relatif mudah. Namun, di balik kemajuan itu, ada satu kegelisahan yang semakin terasa. Adab murid kepada guru kian memudar.
Majelis ilmu tetap ramai, bangku sekolah tetap terisi, tetapi ruh pendidikan terasa menipis. Murid semakin berani menyanggah tanpa hikmah, menilai guru dengan standar duniawi, bahkan menjadikan ilmu sebagai alat pembuktian ego, bukan jalan mendekatkan diri kepada Allah. Inilah krisis sunyi. Tidak riuh, tetapi dampaknya panjang dan dalam.
Adab dalam Tradisi Keilmuan Islam
Dalam khazanah Islam, adab bukan pelengkap, melainkan pondasi utama. Para ulama salaf tidak memulai perjalanan ilmiahnya dengan banyak bertanya, tetapi dengan banyak merendah.
Imam Malik Rahimahullah ketika mengajar hadits Rasulullah Saw., mandi terlebih dahulu, mengenakan pakaian terbaik, dan duduk dengan penuh khidmat. Ketika ditanya mengapa demikian, beliau menjawab, “Aku ingin mengagungkan hadits Nabi Saw.” Jika kepada ilmu saja adab dijaga sedemikian rupa, apalagi kepada guru sebagai perantara sampainya ilmu.
Imam Syafi’i Rahimahullah berkata,
“Aku membuka lembaran kitab di hadapan Imam Malik dengan sangat pelan, khawatir suaranya mengganggu beliau.”
Inilah generasi yang memahami bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya tidak masuk ke hati yang sombong.
Akar Masalah Pudarnya Adab Murid
Pudarnya adab murid hari ini tidak bisa dilepaskan dari perubahan zaman. Beberapa faktor utama di antaranya:
1. Budaya Ilmu Instan
Zaman instan melahirkan generasi yang ingin cepat paham, cepat terkenal, dan cepat diakui. Proses panjang berguru dianggap kuno. Padahal adab justru lahir dari proses, dari menunggu, melayani, dan membersamai guru dalam waktu yang lama.
2. Ego Digital dan Mental Panggung
Media sosial mengubah murid menjadi “pakar dadakan”. Sedikit membaca, lalu merasa cukup untuk berdebat. Diskusi berubah menjadi kompetisi, dan majelis ilmu berubah menjadi arena unjuk diri. Guru tidak lagi dilihat sebagai pembimbing, melainkan sebagai “lawan argumen”.
3. Relasi Guru–Murid yang Terdistorsi
Guru dinilai dari viralitas, bukan dari kedalaman ilmu dan keteladanan akhlak. Sanad keilmuan dianggap tidak penting, yang penting adalah jumlah pengikut. Akibatnya, wibawa guru runtuh bukan karena ilmunya berkurang, tetapi karena cara pandang murid yang berubah.
4. Hilangnya Ta’zhim dan Rasa Takzim
Keakraban yang kebablasan menggerus batas adab. Murid merasa sejajar dalam segala hal, lupa bahwa kesetaraan manusia di hadapan Allah tidak menghapus hirarki adab dalam belajar.
Dampak Pudarnya Adab terhadap Ilmu dan Umat
Ketika adab pudar, ilmu kehilangan keberkahan. Banyak tahu, tetapi sedikit berubah. Banyak bicara, tetapi miskin hikmah. Inilah yang dikhawatirkan para ulama.
Ibnu Mubarak Rahimahullah berkata,
“Kami lebih membutuhkan sedikit adab daripada banyak ilmu.”
Sebab ilmu tanpa adab melahirkan:
Ulama instan yang keras lisannya.
Aktivis yang semangat, tetapi miskin hikmah.
Cendekia yang pintar, tetapi kering spiritualitas.
Generasi kritis yang kehilangan kebijaksanaan.
Lebih jauh lagi, pudarnya adab murid akan melahirkan krisis otoritas keilmuan dalam umat. Siapa saja bisa bicara atas nama agama, tanpa rasa takut kepada Allah dan tanpa tanggung jawab ilmiah.
Tanda-Tanda Adab Murid yang Telah Memudar
Beberapa gejala yang patut kita renungkan:
Mudah menyalahkan guru, sulit menyalahkan diri sendiri.
Sibuk mengoreksi kesalahan orang lain, lalai memperbaiki niat.
Mengutip pendapat ulama untuk membenarkan hawa nafsu.
Berani bicara di luar kapasitas, tetapi enggan belajar dari dasar.
Menghidupkan Kembali Adab: Jalan Pulang yang Terlupakan
Islam selalu menyediakan jalan pulang, selama hati masih mau tunduk.
1. Meluruskan Niat dalam Menuntut Ilmu
Ilmu dicari bukan untuk menang debat, tetapi untuk mendekat kepada Allah. Niat yang lurus akan melahirkan sikap yang lurus.
2. Menghidupkan Kembali Ta’zhim kepada Guru
Menghormati guru tidak berarti mengkultuskan, tetapi menempatkan mereka pada posisi yang layak. Doakan guru, jaga lisan, dan terima nasihat dengan lapang dada.
3. Menumbuhkan Tawadhu’ sebagai Etika Intelektual
Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin rendah hatinya. Tawadhu’ adalah tanda ilmu yang hidup.
4. Bersabar dalam Proses Berguru
Keberkahan tidak lahir dari loncatan, tetapi dari ketekunan. Duduk lama di majelis, mendengar dengan penuh adab, dan mengamalkan sedikit demi sedikit.
5. Kembali Membaca Sirah Ulama Salaf
Kisah hidup para ulama bukan sekadar sejarah, tetapi cermin adab. Dari merekalah kita belajar bagaimana ilmu dijaga dengan akhlak.
Penutup: Menyelamatkan Ilmu dengan Adab
Ketika adab murid mulai pudar, sesungguhnya yang terancam bukan hanya hubungan guru dan murid, tetapi masa depan peradaban ilmu itu sendiri. Ilmu tidak runtuh karena kurangnya kecerdasan, tetapi karena hilangnya ketundukan.
Mari kita hidupkan kembali adab sebagai ruh pendidikan, sebab ilmu yang diberkahi akan melahirkan hikmah, dan hikmah hanya lahir dari hati yang bersih dan tawadhu’.
Ilmu tidak ditinggikan oleh suara paling lantang, tetapi oleh hati yang paling tunduk di hadapan kebenaran.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo