Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Ketika Allah Melapangkan Dada dan Menyempitkan Jiwa: Rahasia Besar Hidayah dan Kesesatan

Jumat, 09 Januari 2026 | 23:30 WIB Last Updated 2026-01-09T16:30:25Z
TintaSiyasi.id — Membaca Al-Qur’an Bukan dengan Mata, tetapi dengan Hati yang Dibersihkan

فَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يَهۡدِيَهُۥ يَشۡرَحۡ صَدۡرَهُۥ لِلۡإِسۡلَٰمِۖ وَمَن يُرِدۡ أَن يُضِلَّهُۥ يَجۡعَلۡ صَدۡرَهُۥ ضَيِّقًا حَرَجٗا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي ٱلسَّمَآءِۚ كَذَٰلِكَ يَجۡعَلُ ٱللَّهُ ٱلرِّجۡسَ عَلَى ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ  

Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. (QS. Al-An‘ām (6): 125)

Pendahuluan: Mengapa Kebenaran Tidak Selalu Menenangkan?

Tidak semua orang yang mendengar ayat Allah merasa tenteram. Tidak semua yang mendengar dakwah merasa tercerahkan. Tidak semua yang membaca Al-Qur’an merasa lapang. Sebagian justru:
• Gelisah
• Merasa tersinggung
• Merasa agama sebagai beban
• Bahkan membenci kebenaran yang disampaikan dengan lembut

Al-Qur’an tidak menutup mata terhadap fenomena ini. Justru, ia menjelaskannya dengan sangat jujur dan ilmiah, sebagaimana termaktub dalam QS. Al-An‘ām ayat 125 — ayat yang membedah psikologi hati manusia di hadapan hidayah.

Ayat Agung Tentang Hidayah dan Jiwa
فَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يَهۡدِيَهُۥ يَشۡرَحۡ صَدۡرَهُۥ لِلۡإِسۡلَٰمِۖ وَمَن يُرِدۡ أَن يُضِلَّهُۥ يَجۡعَلۡ صَدۡرَهُۥ ضَيِّقًا حَرَجٗا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي ٱلسَّمَآءِۚ كَذَٰلِكَ يَجۡعَلُ ٱللَّهُ ٱلرِّجۡسَ عَلَى ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ

Ayat ini tidak sekadar berbicara tentang iman dan kufur, tetapi tentang keadaan batin manusia ketika berhadapan dengan kebenaran.

1. Hakikat Hidayah: Anugerah yang Masuk ke Dalam Dada

Allah berfirman: “Barang siapa yang Allah kehendaki untuk diberi petunjuk, niscaya Dia lapangkan dadanya untuk Islam.”

Hidayah Bukan Sekadar Informasi
Banyak orang memiliki:
• Ilmu agama
• Pengetahuan dalil
• Akses kajian
Namun tidak memiliki hidayah. Mengapa?
Karena hidayah bukan soal informasi, melainkan transformasi batin.

Ibnu Katsir menjelaskan:
Allah menjadikan hatinya terang, lembut, dan mudah menerima kebenaran.

2. Makna Syarḥuṣ-Ṣadr: Dada yang Dibuka oleh Cahaya Ilahi
Syarḥuṣ-ṣadr bukan sekadar perasaan nyaman, tetapi:
• Terbukanya tabir kesombongan
• Luruhnya keangkuhan ego
• Tumbuhnya kesiapan tunduk kepada Allah

Islam tidak terasa berat bagi hati yang lapang, tetapi terasa menyesakkan bagi hati yang penuh nafsu.

3. Islam Masuk ke Hati, Bukan Dipaksakan ke Akal
Inilah kesalahan besar sebagian manusia modern:
• Mengira iman hanya hasil logika
• Mengira hidayah bisa diperdebatkan
• Mengira kebenaran bisa dipaksakan
Padahal, Al-Qur’an tidak memulai dari akal, tetapi dari hati.

Al-Ghazali berkata: Jika hati bersih, kebenaran datang tanpa diundang. Jika hati kotor, seribu dalil pun tidak berguna.

4. Ketika Allah Menyempitkan Dada: Neraka yang Dimulai dari Jiwa
Allah berfirman: “Dan barang siapa yang Allah kehendaki kesesatannya, Dia jadikan dadanya sempit lagi sesak…”

Ciri Jiwa yang Sempit
• Berat shalat
• Malas berzikir
• Alergi nasihat
• Merasa agama menghalangi kebebasan
• Cepat marah saat diingatkan
Ini bukan sekadar psikologi, tetapi penyakit ruhani.

5. Perumpamaan Mendaki ke Langit: Mukjizat Bahasa Al-Qur’an
“Seakan-akan ia sedang mendaki ke langit.”
Perumpamaan ini sangat dalam:
• Semakin tinggi>>>oksigen berkurang
• Semakin jauh dari Allah>>>jiwa makin sesak

Al-Qur’an mendahului sains, karena manusia zaman Nabi belum mengetahui fenomena ini.

6. Apakah Allah Berlaku Zalim?
Tidak.
Allah tidak menyesatkan orang yang mencari kebenaran.
Allah menyesatkan orang yang:
• Menolak kebenaran
• Membangkang setelah tahu
• Menutup hati dengan kesombongan

Ath-Thabari menegaskan:
Kesesatan adalah akibat berpalingnya hati dari kebenaran.

7. Rijs: Kekotoran yang Menggelapkan Jiwa
“Allah menimpakan rijs kepada orang-orang yang tidak beriman.”
Rijs adalah:
• Kotoran batin
• Kebingungan nilai
• Kekacauan orientasi hidup
Orang yang terkena rijs:
• Meremehkan dosa
• Menormalisasi maksiat
• Menganggap kebenaran sebagai ancaman

8. Relevansi Ayat dengan Dunia Modern
Hari ini:
• Banyak orang sukses tapi gelisah
• Banyak orang kaya tapi sempit
• Banyak orang pintar tapi kosong
 Masalahnya bukan dunia, tetapi hati yang jauh dari cahaya Islam.

9. Tanda Orang yang Mendapat Syarḥuṣ-Ṣadr
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jika cahaya masuk ke dalam hati, maka hati itu menjadi lapang.”
Para sahabat bertanya:
“Apa tandanya, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab:
1. Condong kepada akhirat
2. Menjauh dari tipuan dunia
3. Bersiap sebelum mati

10. Cara Membuka Dada Agar Layak Menerima Hidayah
Para ulama menyebutkan:
• Kejujuran niat
• Doa yang terus-menerus
• Menjauhi maksiat kecil maupun besar
• Bergaul dengan orang saleh
• Dzikir yang menghidupkan hati
• Muhasabah sebelum tidur
Hidayah adalah cahaya. Cahaya tidak masuk ke ruang yang penuh kotoran.

11. Renungan Terakhir: Jangan Salah Menyalahkan
Jika kita merasa:
• Berat beribadah
• Sulit menerima nasihat
• Gelisah mendengar ayat Allah
Maka jangan sibuk menyalahkan:
• Dai
• Ustadz
• Lingkungan
• Keadaan
Tetapi periksalah hati kita sendiri.

Penutup: Doa Orang yang Takut Kehilangan Hidayah

“Ya Allah, jangan Engkau sempitkan dada kami karena dosa-dosa kami. Lapangkanlah hati kami untuk Islam, hidupkanlah kami dalam iman, dan wafatkanlah kami dalam husnul khatimah.”

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Dakwah yang Menyentuh Akal, Menghidupkan Hati, dan Mencerahkan Umat)

Opini

×
Berita Terbaru Update