Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Ketika Adab Tak Lagi Menjadi Guru: Guru Dikeroyok, Murid Dihina

Selasa, 27 Januari 2026 | 19:11 WIB Last Updated 2026-01-27T12:11:20Z

Tintasiyasi.id.com -- Kasus kekerasan di dunia pendidikan kembali mencuat. Kali ini, publik dihebohkan dengan peristiwa guru SMK di Jambi yang dikeroyok oleh muridnya. Insiden ini viral di media sosial dan memantik keprihatinan banyak pihak. 

Dunia pendidikan yang seharusnya menjadi ruang aman dan bermartabat justru berubah menjadi arena konflik antara pendidik dan peserta didik.

Peristiwa ini bermula saat guru menegur siswa di kelas ketika proses belajar berlangsung. Menurut pengakuan guru bernama Agus, siswa tersebut menegur dengan tidak sopan dan mengucapkan kata-kata tidak pantas saat pelajaran berlangsung (DetikSumbagsel, 14/1/2026).

Namun dari sisi siswa, muncul pengakuan bahwa guru tersebut kerap berbicara kasar, menghina siswa dan orang tua, bahkan melabeli mereka dengan kata “bodoh” dan “miskin”.

Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, menilai peristiwa ini sebagai pelanggaran hak anak untuk memperoleh pendidikan yang aman, bebas dari rasa takut dan kekerasan, sebagaimana dijamin dalam konstitusi dan UU Perlindungan Anak.

Peristiwa ini tidak bisa dipandang sebagai konflik pribadi semata. Ia menunjukkan adanya masalah mendasar dalam sistem pendidikan hari ini. Relasi guru dan murid yang idealnya dilandasi rasa hormat dan keteladanan justru bergeser menjadi hubungan yang penuh gesekan dan ketegangan.

Di satu sisi, murid menunjukkan hilangnya adab: berbicara kasar, melawan guru, bahkan melakukan kekerasan. Di sisi lain, tak bisa diabaikan adanya guru yang terbiasa merendahkan, menghina, dan melukai psikologis murid melalui kata-kata kasar. Kedua pihak akhirnya terjebak dalam lingkaran konflik yang berujung pada tindakan fisik.

Fenomena ini adalah buah dari pendidikan dalam sistem sekuler-kapitalistik yang menjauhkan Islam dari kurikulum dan pembentukan karakter. Pendidikan dipersempit menjadi transfer ilmu dan keterampilan kerja, sementara adab dan akhlak hanya menjadi pelengkap, bukan fondasi. 

Ketika agama dipisahkan dari pendidikan, maka yang lahir adalah generasi yang miskin hormat dan pendidik yang kehilangan ruh keteladanan.

Islam memandang pendidikan secara berbeda. Tujuan pendidikan bukan sekadar mencetak manusia pintar, tetapi membentuk manusia beradab. Rasulullah saw. bersabda bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak. Dalam sistem pendidikan Islam, adab didahulukan sebelum ilmu.

Murid dididik untuk memuliakan guru (ta’dzim), sementara guru diwajibkan mendidik dengan kasih sayang, bukan dengan hinaan atau caci maki. Guru bukan sekadar pengajar materi, melainkan figur teladan dalam sikap dan tutur kata.

Lebih dari itu, negara dalam sistem Islam memastikan kurikulum berlandaskan akidah Islam. Setiap mata pelajaran diarahkan untuk membentuk kepribadian Islam, bukan sekadar memenuhi kebutuhan pasar kerja. 

Dengan demikian, hubungan guru dan murid dibangun dalam suasana saling menghormati, bukan saling melukai.

Kasus guru dikeroyok murid dan murid dihina guru seharusnya menjadi alarm keras bahwa pendidikan kita sedang kehilangan arah. Selama sistem pendidikan masih bertumpu pada paradigma sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, konflik serupa akan terus berulang.

Sudah saatnya pendidikan dikembalikan pada fungsi sejatinya: membentuk manusia berilmu dan berakhlak mulia, sebagaimana yang diajarkan Islam.[]

Oleh: Nur Hidayah 
(aktivis muslimah)

Opini

×
Berita Terbaru Update