TintaSiyasi.id -- Direktur Siyasah Institute Ustaz Iwan Januar melihat semua kekacauan hari ini, baik di bidang sosial, politik, maupun ekonomi, terjadi karena tidak diterapkannya aturan Islam dalam kehidupan.
"Kekacauan hari ini, dalam bidang sosial politik juga ekonomi, semua disebabkan karena tidak adanya kehidupan Islam, tidak adanya penerapan Islam," jelasnya dalam forum diskusi: Refleksi 2025, Outlook 2026 di kanal YouTube Tabloid Media Umat, Ahad (28/12/2025).
Ia menyoroti, dalam aspek sosial misalnya, ada isu kesehatan mental dan persoalan keluarga yang makin marak, namun hingga saat ini belum ada regulasi yang mampu menjadi solusi untuk mengatasi persoalan tersebut secara tuntas.
"Isu kesehatan mental ini sangat memprihatinkan, sudah banyak para ahli kesehatan jiwa memperingatkan bahwa jumlah warga Indonesia yang mengalami gangguan jiwa jumlahnya selalu meningkat. Tidak sedikit anak-anak muda saat ini mengalami depresi yang akut bahkan sampai pada tindakan bunuh diri," paparnya.
Menurutnya, disfungsi keluarga menjadi salah satu faktor penyebab generasi saat ini mengalami isu kesehatan mental.
Selain itu, kata dia, penurunan angka pernikahan menjadi isu sosial yang kian menurun secara signifikan setiap tahunnya, sementara itu angka pergaulan bebas justru makin meningkat. Ia mencatat, data dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), sebanyak 74 persen remaja laki-laki dan 59 persen remaja perempuan dengan rentang usia 15 sampai 19 tahun sudah pernah melakukan hubungan seks diluar nikah.
Persoalan besar lainnya, ucap dia, seperti program populis Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi persoalan yang menyita perhatian dan kontroversi hingga detik ini.
Ia melihat, pun aktor-aktor politik yang bernaung dalam sistem kapitalis- demokrasi, nyatanya hanya berkhidmat untuk kepentingan partainya saja dan untuk para investor, bukan untuk rakyat.
Misalnya saja, jelasnya, bencana yang terjadi di Sumatera, belum ada pihak yang ditetapkan sebagai tersangka atas segala kerusakan alam yang terjadi, menimbulkan jatuhnya ribuan korban yang kehilangan harta benda hingga kehilangan nyawa.
"Harusnya para pejabat yang mengeluarkan izin konsesi kepada pertambangan, perkebunan sawit yang semua legal itu mesti bertanggung jawab. Kenapa ini enggak keluar? Ya, karena kita tahu ada banyak kepentingan politik di sana," ungkapnya.
"Secara politik, ini lingkaran oligarki yang sulit dipatahkan dan kita melihat para pengusaha yang ada sekarang mendapatkan privilege dari kebijakan politik," tambahnya.
Ia menilai, dari berbagai persoalan yang terjadi di negeri ini, 'Indonesia emas' malah jadi 'Indonesia cemas'.
Namun, jelasnya, umat Muslim harus tetap optimis untuk merubah keadaan ini, karena Islam adalah agama paripurna yang punya solusi atas segala persoalan.
Ia juga mengingatkan, bahwa dakwah sebagai kunci perubahan, dakwah merupakan aktivitas perubahan sosial dan politik yang dilakukan secara masif.
"Jadi kita harus mengedukasi masyarakat supaya mereka jangan masuk ke lubang yang sama. Jangan kemudian masih memilih elite politik yang sudah punya trade record mendukung oligarki yang jelas-jelas merusak lingkungan. Kita edukasi masyarakat agar mereka punya sikap, punya integritas," jelasnya.
Selain dakwah kepada masyarakat, katanya, penting juga untuk mendakwahkan para elite politik, mengajak mereka agar kembali pada fitrahnya, menerapkan aturan Islam dalam bingkai negara.
"Kita sudah bisa melihat kegagalan sistem kapitalisme, liberalisme dalam menciptakan kesejahteraan, sudah seharusnya menjadi pelajaran yang sangat berharga bahwa jangan mengulangi formula yang sama," tandasnya.[] Tenira