TintaSiyasi.id -- Peristiwa Isra Mikraj ditegaskan Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) bukan hanya peristiwa spiritual, tetapi penyingkapan bahwa domain langit adalah wilayah strategis yang menentukan nasib bumi.
“Peristiwa Isra Mikraj bukan
hanya peristiwa spiritual, tetapi penyingkapan bahwa domain langit adalah
wilayah strategis yang menentukan nasib bumi,” tegas HILMI dalam Intellectual
Opinion No. 036 kepada TintaSiyasi.ID, Senin (19/01/2026).
HILMI mengungkapka jika Isra
Mikraj dibaca sebagai peringatan keras tentang langit yang hari ini dikuasai
asing. “Sekaligus pesan bahwa kedaulatan negara modern ditentukan oleh
penguasaan sains dan teknologi, bukan semata kekuatan darat,” ulasnya.
Dalam pembacaan tersebut, ia
mengatakan bahwa Al-Qur’an membuka kisah Isra Mikraj dengan perjalanan lintas
ruang dan lintas otoritas, bukan langsung dengan perintah ibadah.
“Penekanan itu dipahami sebagai
isyarat bahwa langit adalah bagian dari amanah kekuasaan yang harus dikelola
dengan ilmu,” sebutnya.
“Hari ini langit bukan lagi
metafisik. Ia adalah orbit satelit, spektrum elektromagnetik, sistem navigasi
global, dan teknologi antariksa yang menopang negara modern,” imbuh HILMI.
Lanjut dikatakannya, fungsi dasar
negara—mulai dari transportasi, logistik, komunikasi, perbankan, hingga
pertahanan—bergantung pada infrastruktur di luar atmosfer. “Karena itu,
penguasaan langit diposisikan sebagai fondasi kedaulatan,” jelasnya.
“Siapa yang menguasai langit,
menguasai bumi,” tandas HILMI.
HILMI juga menyoroti bahwa
penjajahan abad ke-21 tidak lagi membutuhkan invasi militer. “Negara dapat
dilumpuhkan hanya dengan membutakan radar, mengacaukan navigasi, memutus
komunikasi, atau mengendalikan sistem digitalnya,” bebernya.
“Ketergantungan pada teknologi
asing membuat kemerdekaan hanya simbolis, karena saklar kedaulatan bisa berada
di luar negeri,” pungkasnya.[] Rere
