Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Isra Mikraj: Dari Ritual ke Sistem Pencegahan Kezaliman

Sabtu, 24 Januari 2026 | 09:55 WIB Last Updated 2026-01-24T03:06:05Z

TintaSiyasi.id -- Isra Mikraj adalah peristiwa perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem, kemudian naik ke Sidratul Muntaha untuk bertemu dengan Allah SWT, sebagai tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya, serta sebagai penguat iman dan ketabahan Nabi Muhammad SAW dalam menjalankan misi kenabian. Perjalanan ini merupakan sebuah kekuasaan Allah yang tidak mampu ditembus dengan teknologi yang canggih sekalipun, meski manusia berusaha membuktikan peristiwa ini secara sains.

Nabi Muhammad SAW menerima perintah shalat lima waktu dari Allah SWT tanpa perantara. Awalnya, Allah SWT memerintahkan shalat lima puluh waktu, namun Nabi Muhammad SAW meminta keringanan hingga akhirnya menjadi lima waktu. Shalat memberikan pengaruh spiritual yang membentengi pelakunya dari keinginan berbuat dosa, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Ankabut ayat 45. 

Berikut adalah kutipan ayat dan artinya:
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an), dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya daripada ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Mensinergikan apa yang disyariatkan Allah dengan halal dan haram. Ayat ini seharusnya tidak hanya direduksi sebagai pesan individual, namun lebih dari itu. Kemungkaran akan mampu dicegah jika setiap manusia di bumi Allah melaksanakan kewajibannya, yaitu shalat lima waktu sesuai dengan tuntunannya.

Namun sayangnya, hari ini kita melihat berbagai kezaliman terjadi begitu masif tanpa ada yang mampu menghentikannya. Meskipun dunia saat ini diatur oleh sistem kapitalis yang katanya menjamin keamanan setiap warga negara dari kejahatan.

Kejahatan yang terjadi saat ini tidak hanya disebabkan karena ia tersistemik dan terlembaga, yang semuanya membuat kemungkaran sulit dihentikan. Misalnya di Palestina, duka mendalam telah puluhan tahun dirasakan oleh saudara-saudara kita di sana. Berbagai upaya telah dilakukan, baik dalam skala individu, organisasi masyarakat, bahkan kecaman dari berbagai kepala negara, namun kejahatan genosida terus berlangsung hingga saat ini. Ini membuktikan bahwa sebuah kejahatan dapat diatur dan dikelola oleh sebuah lembaga penguasa dunia.
Beberapa bentuk kemungkaran modern yang sistemik telah berhasil menjarah negara-negara lemah dengan upaya yang modern, seperti sanksi ekonomi yang mematikan rakyat sipil dan manipulasi informasi global.

Teknologi digunakan untuk menjajah tanpa berperang. Semua ini adalah kemungkaran, meski sering dibungkus dengan legalitas internasional dan jargon keamanan global. Al-Qur’an memerintahkan umat untuk menyiapkan kekuatan semaksimal mungkin guna menggentar-kan kemungkaran yang terjadi, yaitu dengan memaknai konsep shalat sebagai sebuah cakupan yang luas, bukan sekadar ritual privat tanpa implikasi hukum, politik, dan ekonomi.

Shalat bukan sebatas pelaksanaan ibadah fisik semata, tetapi pelaksanaannya harus menyentuh semua elemen, mulai dari kepala negara hingga rakyatnya. Ketundukan dan keistikamahan dalam menegakkan shalat akan tampak dari ketundukan kepada seluruh hukum Allah, menjadikan hukum-Nya sebagai rujukan keadilan.

Kepala negara akan melindungi rakyat dari kezaliman internal maupun eksternal, serta mengelola kekuasaan sebagai amanah, bukan alat dominasi. Di sinilah shalat menjadi sistem pengaman moral dan politik, bukan sekadar rutinitas ritual. Jika negara menegakkan shalat, maka akan terjadi proses amar makruf nahi mungkar dan pengembalian seluruh urusan kepada Allah semata.

Isra Mikraj menemukan dua pilar peradaban yang tidak boleh dipisahkan, yaitu ilmu dan syariat, di mana penguasaan teknologi tanpa nilai ilahi melahirkan penindasan yang canggih terhadap yang lemah. Sejarah modern penuh dengan contoh bagaimana teknologi digunakan untuk mengeksploitasi, mengawasi, dan mengendalikan bangsa lain.

Sebaliknya, semangat keagamaan tanpa kekuatan dan ilmu akan melahirkan umat yang saleh secara personal, tetapi rentan secara struktural. Kebaikan mudah diinjak, doa mudah dipatahkan oleh sistem yang tidak adil. Bahaya ekstrem di atas dapat diatasi dengan pemahaman bahwa langit harus didekati dengan ilmu, bumi diatur dengan shalat melalui penerapan syariat, dan kedaulatan hanya akan terjaga jika keduanya berjalan bersama. Isra Mikraj bukan sekadar peristiwa masa lalu, melainkan peta jalan peradaban masa depan yang mengingatkan bahwa umat yang ingin merdeka harus menguasai strategi zaman tanpa kehilangan moral ilahi.

Shalat merupakan sistem nilai yang menjaga agar teknologi tidak berubah menjadi alat kezaliman. Umat akan menjaga kedaulatannya sebagai bangsa dan peradaban, dan tidak ada jalan lain selain mengintegrasikan iman, ilmu, dan kekuasaan secara bertanggung jawab.

Oleh: Putri Rahmi DE, SST
Aktivis Muslimah

Opini

×
Berita Terbaru Update