Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Islam Adalah Mafahim Kehidupan, Bukan Sekadar Pengetahuan

Selasa, 20 Januari 2026 | 16:55 WIB Last Updated 2026-01-20T09:56:20Z
TintaSiyasi.id -- Di zaman ketika ilmu begitu mudah diakses, ceramah berlimpah, kitab tersedia, dan ayat-ayat Al-Qur’an sering terdengar, muncul sebuah ironi besar. Umat mengetahui Islam, tetapi belum tentu hidup dengan Islam.
Banyak yang paham, tetapi tidak tunduk.
Banyak yang mengerti, tetapi tidak tergerak.
Banyak yang hafal, tetapi belum berubah.
Di sinilah pentingnya memahami satu hakikat besar:
Islam bukan sekadar pengetahuan, melainkan mafāhīm kehidupan.

1. Memahami Makna Mafāhīm dalam Islam
Mafāhīm (مفاهيم) adalah konsep-konsep hidup yang membentuk cara berpikir dan bertindak.
Ia bukan hanya informasi yang tersimpan di otak, tetapi keyakinan yang hidup dalam hati dan terwujud dalam perilaku.

Perbedaan mendasar:
• Pengetahuan bisa netral
• Mafahim selalu melahirkan sikap
Seseorang bisa tahu riba itu haram,
namun bila Islam belum menjadi mafahim, ia tetap melakukannya.
Seseorang bisa tahu kejujuran itu wajib, tetapi bila Islam belum menjadi mafahim, ia tetap berdusta.

Karena itu para ulama berkata:
العلم إن لم يعمل به كان حجة على صاحبه
“Ilmu yang tidak diamalkan justru akan menjadi hujjah (senjata) yang memberatkan pemiliknya.”

2. Islam Diturunkan untuk Mengatur Kehidupan
Islam tidak diturunkan sekadar untuk dibaca,
tetapi untuk diterapkan.

Allah Swt., berfirman:
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ
“Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an sebagai penjelas atas segala sesuatu.”
(QS. An-Nahl: 89).

Ayat ini menegaskan bahwa:
• Islam mengatur akidah
• Islam mengatur ibadah
• Islam mengatur akhlak
• Islam mengatur muamalah
• Islam mengatur kehidupan sosial dan publik
Maka, Islam bukan agama ritual semata, tetapi sistem kehidupan yang sempurna.

3. Dari Ilmu Menuju Aksi: Inilah Tujuan Islam
Masalah umat hari ini bukan kurang ilmu,
melainkan terputusnya ilmu dari amal.
Allah Swt., menegur dengan sangat keras:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ ۝ كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
(QS. Ash-Shaff: 2–3).

Islam tidak menghendaki:
• Dai yang pandai bicara tapi lemah keteladanan
• Intelektual Muslim yang cerdas namun jauh dari ketaatan
• Aktivis yang bersemangat, tetapi kosong ruhiyah
Islam menghendaki kesatuan antara iman, ilmu, dan amal.

4. Mafāhīm Islam Melahirkan Kepribadian Islami
Kepribadian Islami (الشخصية الإسلامية) lahir dari dua pilar utama:
a. Aqliyyah Islamiyyah (Pola Pikir Islami)
Yaitu cara berpikir yang:
• Menjadikan wahyu sebagai standar kebenaran
• Mengukur benar dan salah dengan syariat
• Tidak tunduk pada hawa nafsu atau tekanan zaman
b. Nafsiyyah Islamiyyah (Pola Sikap Islami)
Yaitu sikap hidup yang:
• Patuh kepada Allah dalam kondisi lapang dan sempit
• Ikhlas dalam amal, sabar dalam ujian
• Berani taat meski sendirian

Tanpa mafahim Islam:
• Akal bisa cerdas, tetapi arah hidup keliru
• Hati bisa lembut, tetapi mudah goyah
• Amal bisa banyak, tetapi tidak konsisten

5. Mengapa Banyak yang Menolak Islam sebagai Mafahim?
Bukan karena Islam tidak benar, tetapi karena Islam menuntut perubahan.
Islam menuntut:
• Kejujuran ketika kebohongan menguntungkan
• Keadilan ketika kezaliman lebih mudah
• Ketaatan ketika maksiat lebih nikmat

Imam Al-Ghazali Rahimahullah berkata:
“Yang paling berat bagi jiwa manusia adalah meninggalkan kebiasaan buruk yang telah ia nikmati.”

Oleh karena itu, Islam sebagai mafahim sering ditolak, bukan oleh orang bodoh,
tetapi oleh orang yang enggan melepaskan kepentingannya.

6. Islam sebagai Mafahim Peradaban
Jika Islam benar-benar menjadi mafahim umat:
• Keluarga dibangun di atas takwa
• Ekonomi dijalankan dengan keadilan
• Pendidikan melahirkan adab dan ilmu
• Kekuasaan dijalankan sebagai amanah
Sejarah membuktikan:
Islam tidak membangun peradaban dengan slogan, tetapi dengan mafahim yang hidup dalam jiwa umatnya.

7. Jalan Menghidupkan Mafāhīm Islam dalam Diri
Beberapa langkah penting:
1. Belajar Islam dengan niat mengamalkan
2. Membersihkan hati dari dosa dan kesombongan
3. Membiasakan muhasabah diri
4. Menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup
5. Bergaul dengan orang-orang shalih dan berprinsip karena hati yang bersih akan mudah menerima kebenaran.

Penutup: Saatnya Menghidupi Islam
Islam tidak membutuhkan sekadar:
• Pendengar yang kagum
• Pembaca yang terharu
• Penonton yang bertepuk tangan

Islam membutuhkan:
manusia yang menjadikannya mafāhīm hidup,
bukan hanya Islam di lisan, tetapi Islam dalam keputusan. Bukan hanya Islam di mimbar,
tetapi Islam dalam realitas kehidupan.
Semoga Allah Swt., menjadikan Islam:
• Hidup dalam akal kita
• Mengalir dalam hati kita
• Terwujud dalam amal kita

اللهم اجعل الإسلام مفاهيم تحيا في عقولنا وقلوبنا وسلوكنا
“Ya Allah, jadikan Islam sebagai mafahim yang hidup dalam akal, hati, dan perilaku kami.”

Dr. Nasrul Syarif, M.Si
Refleksi Dakwah dan Pencerahan Umat

Opini

×
Berita Terbaru Update