“Indonesia perlu membangun "arsitektur kebahagiaan" untuk mengubah modal sosial masyarakat yang tinggi menjadi kualitas negara yang nyata,” sebut HILMI dalam Intellectual Opinion No. 35 berjudul Indonesia-Masyarakat yang Flourishing, Negara yang Masih Belajar Membahagiakan.
Kepada TintaSiyasi.ID, Senin
(12/01/2026), HILMI menyebutkan jika tantangan terbesar bangsa saat ini bukan
pada kurangnya kebahagiaan secara personal, melainkan pada kesenjangan kualitas
layanan publik dan keamanan ekonomi yang belum menenangkan.
“Untuk mencapai kesejahteraan
holistik, Indonesia disarankan mengambil "jalan tengah" dengan meramu
tiga keunggulan global: disiplin Finlandia dalam membangun institusi yang
dipercaya, arah kebijakan Butan yang menjadikan kebahagiaan sebagai kompas
pembangunan, dan tetap menjaga jiwa sosial serta religiusitas asli Indonesia,”
saran HILMI.
Dalam perspektif Islam, HILMI
menyebut bahwa konsep itu sejalan dengan upaya mewujudkan ḥayātan ṭayyibah
atau kehidupan yang baik, yang mencakup ketenangan batin dan keadilan muamalah.
“Negara yang bahagia bukan hanya
negara yang mengejar target ekonomi (PDB), tetapi negara yang melembagakan
keadilan dan ihsan sehingga sistem yang ada mendukung warga untuk hidup
bermartabat dan selaras dengan nilai-nilai moral,” simpul HILMI.[] Rere
