TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) mencatatkan posisi Indonesia yang unik dalam peta kesejahteraan global, yaitu peringkat pertama Global Flourishing Study namun World Happiness Report (WHR) 2025 justru menempatkan Indonesia di peringkat ke-83.
“Posisi Indonesia unik dalam peta kesejahteraan global, yaitu peringkat pertama
Global Flourishing Study, namun World Happiness Report (WHR) 2025
justru menempatkan Indonesia di peringkat ke-83,” ungkap HILMI kepada TintaSiyasi.ID,
Senin (12/01/2026).
Dalam Intellectual Opinion No. 35
berjudul Indonesia-Masyarakat yang Flourishing, Negara yang Masih Belajar
Membahagiakan, HILMI menjelaskan jika Global Flourishing Study adalah
hasil kolaborasi antara Harvard, Baylor, dan Gallup.
“Indonesia menempati peringkat
pertama dunia dengan skor 8,47 dalam kategori masyarakat yang paling "flourishing"
atau berkembang secara utuh, namun di sisi lain WHR justru menempatkan
Indonesia di peringkat ke-83 dengan skor 5,617,” imbuhnya.
“Perbedaan tajam ini terjadi karena
kedua studi menggunakan alat ukur yang berbeda. WHR lebih menekankan pada "evaluasi
hidup" yang sangat dipengaruhi oleh kualitas institusi, keamanan ekonomi,
dan persepsi korupsi. Sementara itu, studi flourishing mengukur "hidup
yang berjalan baik" melalui dimensi relasi sosial, makna hidup, karakter,
dan kesehatan,” beber HILMI.
Tingginya skor flourishing
Indonesia menurut HILMI didorong oleh kekuatan sosial-kultural, seperti
jejaring keluarga yang kuat, solidaritas komunitas, dan praktik keagamaan.
“Sebaliknya, posisi Indonesia yang
rendah di WHR disebabkan oleh lemahnya "arsitektur kebahagiaan",
yaitu tata kelola negara yang belum sepenuhnya mampu memberikan rasa aman,
keadilan hukum, dan kepastian ekonomi bagi warganya,” tandas HILMI.[] Rere
