Refleksi Ekologis, Moral, dan Spiritual Bangsa
Pendahuluan: Ketika Alam Menangis dan Angka Bicara
TintaSiyasi.id -- Indonesia adalah negeri yang dianugerahi Allah SWT kekayaan alam yang luar biasa. Hutan tropisnya disebut sebagai paru-paru dunia, tanahnya subur, lautnya luas, dan biodiversitasnya termasuk yang tertinggi di muka bumi. Namun ironisnya, di tengah limpahan karunia itu, bangsa ini justru terus dibelit oleh persoalan hutang yang menggunung.
Sebuah kalimat reflektif layak kita renungkan bersama: “Indonesia butuh banyak hutan, bukan banyak hutang.”
Kalimat ini bukan sekadar kritik ekonomi, tetapi jeritan nurani, panggilan moral, dan peringatan spiritual bagi arah pembangunan bangsa.
Hutan: Amanah Ilahi dan Penyangga Kehidupan
Dalam perspektif Islam, alam bukan sekadar objek eksploitasi, tetapi amanah dari Allah SWT. Hutan memiliki fungsi yang jauh melampaui nilai ekonomi jangka pendek. Ia adalah:
1. Penyangga ekosistem kehidupan
Hutan menjaga keseimbangan air, iklim, tanah, dan udara. Ketika hutan rusak, banjir, longsor, kekeringan, dan krisis pangan menjadi keniscayaan.
2. Sumber keberkahan sosial
Jutaan masyarakat adat dan rakyat kecil menggantungkan hidup pada keberlanjutan hutan. Ketika hutan hilang, yang miskin semakin terpinggirkan.
3. Tanda kasih sayang Allah
Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56)
Merusak hutan berarti menentang sunnatullah dan mengkhianati amanah kekhalifahan manusia di bumi.
Utang: Antara Kebutuhan dan Ketergantungan
Hutang dalam konteks negara tidak selalu haram atau salah. Namun masalah muncul ketika hutang:
Tidak produktif
Tidak transparan
Membebani generasi mendatang
Ditebus dengan eksploitasi sumber daya alam secara brutal
Ketika hutan ditebang demi menutup defisit anggaran, saat itulah bangsa ini sedang menjual masa depan untuk menambal masa kini.
Rasulullah SAW sendiri sangat berhati-hati terhadap hutang. Bahkan beliau sering berdoa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari lilitan hutang dan penindasan manusia.” (HR. Bukhari)
Jika individu saja diperingatkan tentang bahaya hutang, maka sebuah bangsa tentu lebih layak untuk bermuhasabah.
Paradoks Pembangunan: Tumbuh Angka, Runtuh Nilai
Pembangunan hari ini sering diukur dengan angka: pertumbuhan ekonomi, investasi, dan infrastruktur. Namun sering lupa bertanya:
Apakah pembangunan ini adil?
Apakah ia berkelanjutan?
Apakah ia ramah terhadap alam dan manusia?
Ketika hutan dikorbankan demi proyek-proyek jangka pendek, maka sesungguhnya yang runtuh bukan hanya pohon, tetapi nilai moral, keadilan ekologis, dan tanggung jawab spiritual.
Islam dan Etika Pembangunan Berkelanjutan
Islam mengajarkan keseimbangan (mīzān). Tidak berlebihan, tidak merusak, dan tidak zalim. Allah SWT berfirman:
“Dan langit telah Dia tinggikan dan Dia ciptakan keseimbangan, agar kamu tidak merusak keseimbangan itu.”
(QS. Ar-Rahman: 7–8)
Pembangunan yang benar adalah pembangunan yang:
Menjaga keseimbangan alam
Menguatkan kemandirian bangsa
Menghindari ketergantungan hutang
Menjamin keadilan lintas generasi
Hutan yang lestari adalah simbol pembangunan yang beradab. Hutang yang tak terkendali adalah tanda krisis kebijaksanaan.
Hutan vs. Hutang: Warisan untuk Anak Cucu
Apa yang akan kita wariskan kepada generasi mendatang?
Hutan yang hijau atau lahan gundul?
Air bersih atau banjir dan kekeringan?
Kemandirian atau beban hutang?
Ingatlah, hutan adalah warisan kehidupan, sedangkan hutang adalah beban sejarah. Generasi mendatang berhak atas udara bersih, tanah subur, dan lingkungan yang sehat—bukan sekadar kewajiban membayar kesalahan masa lalu.
Penutup: Seruan Kesadaran dan Muhasabah Bangsa
Kalimat “Indonesia butuh banyak hutan, bukan banyak hutang” adalah panggilan untuk kembali pada akal sehat, nurani, dan nilai-nilai ilahiah. Ini bukan ajakan anti-pembangunan, tetapi seruan agar pembangunan berjalan dengan hikmah, keadilan, dan keberlanjutan.
Sudah saatnya bangsa ini:
Menghentikan eksploitasi alam yang serakah
Membangun dengan kesadaran spiritual
Menempatkan hutan sebagai aset strategis, bukan korban kebijakan
Karena sejatinya, bangsa yang merusak hutannya sedang menggali lubang kehancurannya sendiri, sementara bangsa yang menjaga hutannya sedang menanam masa depan yang penuh keberkahan.
Semoga Allah SWT membimbing para pemimpin dan seluruh rakyat Indonesia untuk menjadi penjaga bumi, bukan perusaknya. Aamiin.
Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa