Tintasiyasi.id.com -- Di ujung tahun 2025, publik dikejutkan dengan berita pembunuhan anak terhadap ibu kandungnya. Karena sakit hati game online dihapus ibunya, anak di Medan tega bunuh ibunya. Dari penjelasan Kapolrestabes Medan Kombes Calvin Simanjuntak, tersangka masih umur 12 tahun terinspirasi membunuh ibunya dari game online. Tersangka sering main game online yang menggunakan pisau (Regional.kompas.com, 29 Desember 2025)
Game online tidak 100% aman dikonsumsi anak. Apalagi game online yang mengandung kekerasan, itu tidak direkomendasikan dimainkan anak-anak. Karena hal itu mempengaruhi emosi dan kesehatan mental anak. Anak cenderung cepat marah, bersikap keras dan sulit diatur.
Ruang Digital Kapitalisme
Perkembangan teknologi informasi setiap tahun semakin maju. Dulu untuk main game butuh pergi ke warung internet (warnet) atau di pusat permainan. Sekarang, main game online bisa sangat mudah diakses melalui smartphone yang terhubung internet.
Pada faktanya, platform digital termasuk game online, tidak netral dari nilai. Terdapat nilai atau ajaran merusak mempengaruhi pola pikir dan pola sikap generasi.
Ruang digital di bawah cengkraman Kapitalisme global hanya fokus pada cuan. Selama game online itu bisa menghasilkan cuan melimpah, maka akan terus diproduksi dengan semenarik mungkin.
Sehingga game online menjadi candu bagi anak-anak yang mengkonsumsinya, mereka akan ketagihan ingin main dan main lagi. Kapitalisme sama sekali tidak memedulikan kerusakan generasi, yang ada untuk meraup keuntungan.
Hal ini menjadi fakta yang tak terbantahkan, betapa negara hari ini gagal melindungi generasi di dunia digital. Khususnya akibat game online dengan konten kekerasan.
Bukankah negara ini ingin generasi menjadi baik agar estafet kepemimpinan terjaga kualitasnya? Jika yang terjadi penurunan kualitas generasi, maka siap-siap masa depan negeri ini semakin suram.
Islam Selamatkan Generasi
Islam sangat memuliakan generasi. Karena mereka bagian utuh dari sebuah peradaban manusia. Generasi yang berkualitas akan menggerakkan potensinya untuk kebaikan negerinya. Mereka akan hadir menjadi pemecah masalah, bukan sebaliknya menjadi sumber masalah.
Untuk itu, tugas mulia untuk menjaga dan melindungi generasi dari berbagai kerusakan. Generasi yang diharapkan Islam adalah generasi yang bertakwa, tangguh, dan bervisi pemimpin. Islam tidak ingin ada generasi lemah iman, lemah fisik, lemah mental, dan lemah yang lainnya.
Untuk itu, menjadi tanggung jawab bersama, yaitu orang tua, masyarakat dan negara. Terutama tugas negara yang mewujudkan atmosfir kehidupan yang kondusif untuk tumbuh kembang generasi secara optimal.
Orang tua bertanggungjawab mendidik anak-anak untuk cerdas beramal. Yaitu amal yang ikhlas dan sesuai dengan aturan Allah Ta'ala. Sehingga anak paham prioritas amal yang dilakukan, mendahulukan yang wajib dari sunnah, melakukan sunnah daripada amal mubah.
Anak yang cerdas paham bermain game online itu hukumnya mubah. Lalu pola sikap anak akan memilih melakukan amal wajib dan sunnah dahulu baru amal mubah. Jika ingin sekedar main game online, maka akan dipilih yang tidak mempengaruhi mentalnya.
Ini peran penting orang tua, khususnya ibu yang tugas utamanya mendidik dan mengarahkan buah hatinya dalam ketaatan. Tugas mulia ibu ini akan dijaga oleh suami dan negara, agar ibu bisa fokus menjalankan tugas mulianya.
Selain tugas orang tua menjaga generasi, ada masyarakat yang peduli. Masyarakat berperan aktif dalam amar ma'ruf nahi munkar di tengah-tengah kehidupan masyarakat.
Jika didapati ada generasi yang main game online mengandung kekerasan, masyarakat bisa menasehati dan membimbingnya. Bahkan, bisa dilaporkan ke pihak berwajib untuk ditertibkan, agar kejadian itu menjadi efek jera bagi generasi lainnya.
Ini menunjukkan juga bahwa negara butuh hadir seutuhnya menjaga dan melindungi generasi. Negara wajib melawan kekuatan hegemoni ruang digital oleh Kapitalisme yang terbukti merusak generasi dengan kekuatan kedaulatan digital.
Negara akan mengatur teknologi informasi dengan sedemikian rupa agar konten platform digital menjadi edukatif dan meningkatkan ketakwaan generasi. Untuk itu, butuh support sistem lainnya. Seperti penerapan sistem politik, ekonomi, pendidikan, pergaulan sosial yang berbasis akidah Islam.
Penerapan Islam secara kafah akan mewujudkan kehidupan yang berkah. Ibu bisa fokus mendidik anaknya dengan optimal. Ayah sebagai kepala keluarga juga mampu mencukupi nafkah keluarganya, karena tersedia lapangan pekerjaan yang mensejahterakan.
Pendidikan di sekolah oleh guru bisa mewujudkan generasi dengan pola pikir dan pola sikap Islam. Kehidupan pergaulan laki-laki dan perempuan juga terjaga dari kekejian. Khususnya dalam bidang teknologi informasi, akan digunakan untuk edukasi dan syiar Islam ke penjuru dunia.
Hanya penerapan Islam secara kafah yang memuliakan generasi dari keburukan ruang digital dalam cengkraman Kapitalisme. Wallahu'alam bishshawab.[]
Oleh: Priani, S.Pd.
(Konselor Remaja dan Keluarga)