Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Berbagai Keadaan Nafsu Menurut Ibnu Ata'illah dalam Kitab Tajul 'Arus

Jumat, 09 Januari 2026 | 23:29 WIB Last Updated 2026-01-09T16:29:41Z
Mengenal Musuh dalam Diri dan Jalan Menuju Tazkiyatun Nafs

Pendahuluan: Nafsu, Musuh Terdekat yang Paling Sulit Ditaklukkan

TintaSiyasi.id -- Ibnu ‘Aṭā’illāh as-Sakandarī — seorang imam besar dalam dunia tasawuf Ahlus Sunnah — menegaskan bahwa musuh terbesar manusia bukanlah setan di luar dirinya, melainkan nafsu di dalam dadanya. Setan hanya membisikkan, tetapi nafsulah yang mengiyakan.

Dalam Tājul ‘Arūs al-Ḥāwī li Tahdzīb an-Nufūs, Ibnu ‘Aṭā’illāh membedah nafsu bukan sekadar sebagai dorongan biologis, melainkan realitas batin yang bertingkat-tingkat, yang menentukan apakah seseorang akan terjatuh atau justru naik menuju kedekatan dengan Allah.

Siapa yang tidak mengenal nafsunya, ia akan diperbudak olehnya. Siapa yang mengenalnya, ia akan mampu menundukkannya.

1. Hakikat Nafsu Menurut Ibnu ‘Aṭā’illāh
Menurut Ibnu ‘Aṭā’illāh, nafsu bukan sekadar keinginan, tetapi:
• Pusat kecenderungan ego
• Sumber keakuan (ana)
• Penghalang terbesar antara hamba dan Rabb-nya
Nafsu selalu:
• Menuntut
• Membenarkan diri
• Membenci tunduk
• Tak pernah puas
Namun nafsu tidak diciptakan untuk dimatikan, melainkan dididik dan diarahkan.

2. Nafsu Ammārah: Nafsu yang Mengajak kepada Keburukan
Definisi
Nafsu ammārah bis-sū’ adalah keadaan nafsu yang:
• Dominan oleh syahwat
• Dikendalikan hawa
• Membenci perintah
• Meremehkan dosa
Allah berfirman:
“Sesungguhnya nafsu itu benar-benar menyuruh kepada kejahatan.”
(QS. Yusuf: 53)

Ciri-ciri Nafsu Ammārah
• Mudah marah dan dengki
• Membenarkan maksiat
• Menunda taubat
• Menyukai pujian
• Merasa dosa kecil

Menurut Ibnu ‘Aṭā’illāh, selama seseorang masih sibuk membela kesalahan dirinya, berarti nafsu ammārah masih berkuasa.

3. Nafsu Lawwāmah: Nafsu yang Mencela Diri
Definisi
Ini adalah nafsu yang mulai sadar, tetapi belum stabil.
Allah bersumpah:
“Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang selalu mencela.”
(QS. Al-Qiyāmah: 2)
Ciri-ciri Nafsu Lawwāmah
• Menyesal setelah bermaksiat
• Hati bergejolak antara taat dan maksiat
• Kadang kuat, kadang lemah
• Sering berjanji taubat, lalu jatuh lagi
Ibnu ‘Aṭā’illāh menyebut tahap ini sebagai:
“Medan jihad terpanjang bagi seorang salik.”
Orang yang berada di tahap ini jangan putus asa, karena kesadaran adalah awal keselamatan.

4. Nafsu Mulhimah: Nafsu yang Mulai Mendapat Ilham
Definisi
Nafsu yang mulai:
• Cenderung kepada kebaikan
• Mudah tersentuh nasihat
• Cepat kembali kepada Allah
Allah berfirman:
“Maka Allah mengilhamkan kepadanya jalan kefasikan dan ketakwaannya.”
(QS. Asy-Syams: 8)

Ciri-ciri Nafsu Mulhimah
• Ada kelezatan dalam ibadah
• Hati mudah menangis
• Dosa terasa pahit
• Ketaatan terasa manis
Namun Ibnu ‘Aṭā’illāh mengingatkan:
Di tahap ini sering muncul ujian halus: ujub dan merasa sudah baik.

5. Nafsu Muṭma’innah: Jiwa yang Tenang
Definisi
Ini adalah jiwa yang telah tunduk, ridha, dan tenang bersama Allah.

Allah berfirman:
“Wahai jiwa yang tenang…”
(QS. Al-Fajr: 27)

Ciri-ciri Nafsu Muṭma’innah
• Tenang dalam taat
• Sabar dalam ujian
• Tidak gelisah oleh dunia
• Tidak sombong oleh amal
Menurut Ibnu ‘Aṭā’illāh, ketenangan ini bukan karena dunia tertata, tetapi karena hati telah bersandar kepada Allah.

6. Nafsu Rāḍiyah dan Marḍiyyah: Jiwa yang Ridha dan Diridhai
Nafsu Rāḍiyah
• Ridha terhadap takdir
• Tidak protes kepada Allah
• Menerima pahit-manis dengan iman
Nafsu Marḍiyyah
• Diridhai oleh Allah
• Akhlaknya menjadi rahmat
• Kehadirannya menenangkan orang lain
“Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai.”
(QS. Al-Fajr: 28)

7. Nafsu Kāmilah: Puncak Kesempurnaan Jiwa
Dalam Tājul ‘Arūs, Ibnu ‘Aṭā’illāh menyebut nafs kamilah sebagai:
• Jiwa para nabi
• Jiwa para wali besar
• Jiwa yang hidup sepenuhnya karena Allah
Ciri utamanya:
• Tidak melihat diri
• Tidak menggantungkan amal
• Tidak terguncang pujian atau celaan
Inilah jiwa yang telah bebas dari perbudakan selain Allah.

8. Jalan Menyucikan Nafsu Menurut Ibnu ‘Aṭā’illāh

1. Mujahadah yang konsisten
2. Dzikir yang terus-menerus
3. Tafakur atas aib diri
4. Mengurangi cinta dunia
5. Bersahabat dengan orang saleh
6. Merasa fakir di hadapan Allah

Penutup: Perjalanan Panjang Menuju Jiwa yang Tenang

Perjalanan melawan nafsu:
• Tidak instan
• Tidak linier
• Penuh jatuh-bangun
Namun setiap langkah sadar adalah kemenangan.

Ibnu ‘Aṭā’illāh menutup dengan hikmah besar: “Jangan heran jika engkau jatuh, heranlah jika engkau tidak bangkit.”

Doa
“Ya Allah, perlihatkan kepada kami aib nafsu kami, jinakkan ia dengan cahaya-Mu, dan angkat kami menuju jiwa yang Engkau ridai.”

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Tazkiyatun Nafs, Jalan Sunyi Menuju Ridha Ilahi)

Opini

×
Berita Terbaru Update