"Di dunia yang serba cepat dan
menggoda saat ini, kita sering terjebak dalam tren up grade gaya hidup.
Kita diajarkan untuk mengejar barang, merek, dan status hingga kesuksesan
seseorang diukur melalui mobil mewah, rumah mewah, dan barang-barang
bermerek," ujarnya dalam program Open Circle bertajuk Gaya
Hidup: Jebakan Dunia yang Tak Terucapkan, Ahad (13/07/2025).
Ia menambahkan bahwa tren juga
merupakan jebakan bagi manusia yang dibentuk oleh kapitalisme.
"Kita pikir kita bebas memilih
dan mengikuti, tetapi sebenarnya pilihan kita telah dibentuk oleh iklan, influencer,
dan algoritma yang dikendalikan oleh pemilik modal,” ujarnya.
“Pada akhirnya, tanpa disadari, kita
lebih patuh pada logika pasar daripada apa yang Allah Swt. perintahkan. Inilah
efek kapitalisme yang menyuburkan materialisme," tambahnya.
Ia melanjutkan, materialisme telah
melahirkan cara pandang hidup yang hanya mengejar materi.
"Dalam masyarakat modern, cara
berpikir kita dipengaruhi oleh budaya materialistis Barat yang menganggap dunia
ini hanya tentang materi yang dapat dipegang dan diukur. Hingga lahirlah cara
berpikir bahwa kesuksesan seseorang harus diukur dari kekayaan dan
kemewahan," lanjutnya.
Dampak
“Ada tiga dampak dari gaya hidup ini.
Pertama, dari segi finansial, hingga mengalami tekanan ekonomi,”
tuturnya.
"Kebiasaan terus-menerus
mengganti ponsel pintar ketika ada rilisan terbaru, mobil, atau barang bermerek
dapat menyebabkan utang yang tinggi. Uang yang seharusnya ditabung untuk
keadaan darurat atau pendidikan, malah habis untuk cicilan hanya demi meningkatkan
gaya hidup," ujarnya.
Kedua, dari
perspektif emosional dan mental atau tekanan psikologis.
"Kehidupan yang dibangun di atas
perbandingan dan pengiktirafan orang lain dengan mudah menimbulkan perasaan
iri, rendah diri, dan stres. Setiap kali kita melihat orang lain lebih maju,
kita merasa tertantang dan mencoba bersaing, yang mengakibatkan kelelahan
emosional dan hilangnya rasa syukur," jelasnya.
Ketiga, dari sudut
pandang nilai dan identitas, yang mengakibatkan tekanan status.
"Fokus berlebihan pada pandangan
orang luar membuat jati diri kita di mata orang lain lebih penting daripada
pandangan Allah Swt.. Akibatnya nilai-nilai kesederhanaan, hemat, dan kanaah
semakin memudar,” ulasnya.
“Pada akhirnya, normalisasi
peningkatan gaya hidup ini justru dapat menjauhkan kita dari tujuan hidup yang
sebenarnya," tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa kehidupan dunia
yang tampak menyenangkan dapat berujung pada kelalaian jika hati terpaku pada
dunia. “Allah Swt. memperingatkan dalam surah Al-Hadid ayat 20,” sebutnya.
"... dan ketahuilah bahwa
sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan bagi orang-orang yang
tertipu," nukilnya.
Ia menyimpulkan bahwa dunia ini
memang penting bagi kehidupan manusia, tetapi bukan tujuan utama.
"Dunia seharusnya menjadi ladang
amal saleh, bukan tempat kita tenggelam dalam kemewahan. Hasrat manusia tidak
pernah terpuaskan,” bebernya.
“Maka kita harus selalu ingat bahwa
nilai hidup yang sesungguhnya bukanlah sejauh mana kita mengikuti tren dan gaya
hidup yang ada, melainkan sejauh mana dunia ini dimanfaatkan untuk
mempersiapkan diri menghadapi akhirat yang kekal," pungkasnya.[] Hidayah
Muhammad
