Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tren Up Grade Gaya Hidup, Aktivis: Jebakan Dunia

Senin, 15 Desember 2025 | 07:41 WIB Last Updated 2025-12-15T00:41:26Z

TintaSiyasi.id -- Aktivis Muslimah Malaysia,Shahirah Shafaruddin menyatakan bahwa tren up grade gaya hidup dapat menjadi jebakan bagi dunia saat ini.

 

"Di dunia yang serba cepat dan menggoda saat ini, kita sering terjebak dalam tren up grade gaya hidup. Kita diajarkan untuk mengejar barang, merek, dan status hingga kesuksesan seseorang diukur melalui mobil mewah, rumah mewah, dan barang-barang bermerek," ujarnya dalam program Open Circle bertajuk Gaya Hidup: Jebakan Dunia yang Tak Terucapkan, Ahad (13/07/2025).

 

Ia menambahkan bahwa tren juga merupakan jebakan bagi manusia yang dibentuk oleh kapitalisme.

 

"Kita pikir kita bebas memilih dan mengikuti, tetapi sebenarnya pilihan kita telah dibentuk oleh iklan, influencer, dan algoritma yang dikendalikan oleh pemilik modal,” ujarnya.

 

“Pada akhirnya, tanpa disadari, kita lebih patuh pada logika pasar daripada apa yang Allah Swt. perintahkan. Inilah efek kapitalisme yang menyuburkan materialisme," tambahnya.

 

Ia melanjutkan, materialisme telah melahirkan cara pandang hidup yang hanya mengejar materi.

 

"Dalam masyarakat modern, cara berpikir kita dipengaruhi oleh budaya materialistis Barat yang menganggap dunia ini hanya tentang materi yang dapat dipegang dan diukur. Hingga lahirlah cara berpikir bahwa kesuksesan seseorang harus diukur dari kekayaan dan kemewahan," lanjutnya.

 

Dampak

 

“Ada tiga dampak dari gaya hidup ini. Pertama, dari segi finansial, hingga mengalami tekanan ekonomi,” tuturnya.

 

"Kebiasaan terus-menerus mengganti ponsel pintar ketika ada rilisan terbaru, mobil, atau barang bermerek dapat menyebabkan utang yang tinggi. Uang yang seharusnya ditabung untuk keadaan darurat atau pendidikan, malah habis untuk cicilan hanya demi meningkatkan gaya hidup," ujarnya.

 

Kedua, dari perspektif emosional dan mental atau tekanan psikologis.

 

"Kehidupan yang dibangun di atas perbandingan dan pengiktirafan orang lain dengan mudah menimbulkan perasaan iri, rendah diri, dan stres. Setiap kali kita melihat orang lain lebih maju, kita merasa tertantang dan mencoba bersaing, yang mengakibatkan kelelahan emosional dan hilangnya rasa syukur," jelasnya.

 

Ketiga, dari sudut pandang nilai dan identitas, yang mengakibatkan tekanan status.

 

"Fokus berlebihan pada pandangan orang luar membuat jati diri kita di mata orang lain lebih penting daripada pandangan Allah Swt.. Akibatnya nilai-nilai kesederhanaan, hemat, dan kanaah semakin memudar,” ulasnya.

 

“Pada akhirnya, normalisasi peningkatan gaya hidup ini justru dapat menjauhkan kita dari tujuan hidup yang sebenarnya," tegasnya.

 

Ia mengingatkan bahwa kehidupan dunia yang tampak menyenangkan dapat berujung pada kelalaian jika hati terpaku pada dunia. “Allah Swt. memperingatkan dalam surah Al-Hadid ayat 20,” sebutnya.

 

"... dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan bagi orang-orang yang tertipu," nukilnya.

 

Ia menyimpulkan bahwa dunia ini memang penting bagi kehidupan manusia, tetapi bukan tujuan utama.

  

"Dunia seharusnya menjadi ladang amal saleh, bukan tempat kita tenggelam dalam kemewahan. Hasrat manusia tidak pernah terpuaskan,” bebernya.

 

“Maka kita harus selalu ingat bahwa nilai hidup yang sesungguhnya bukanlah sejauh mana kita mengikuti tren dan gaya hidup yang ada, melainkan sejauh mana dunia ini dimanfaatkan untuk mempersiapkan diri menghadapi akhirat yang kekal," pungkasnya.[] Hidayah Muhammad

Opini

×
Berita Terbaru Update