Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Swasembada Pangan Warisan Presiden Soeharto Tidak Lepas dari Deforestasi

Rabu, 31 Desember 2025 | 22:52 WIB Last Updated 2025-12-31T15:52:29Z

TintaSiyasi.id -- Salah satu warisan Soeharto yang kerap digembar-gemborkan adalah keberhasilannya dalam menciptakan swasembada pangan (lebih tepatnya beras) pada tahun 1984, namun Pengamat Sosial dan Politik Iwan Januar menilai program tersebut dapat dijalankan salah satu caranya dengan deforestasi.

 

"Barangkali masih ingat bagaimana Presiden Soeharto terkenal dengan satu keberhasilannya yaitu swasembada pangan dan itu merupakan salah satu caranya dengan melakukan pembukaan hutan atau yang kita kenal sekarang dengan sebutan deforestasi," ujarnya di kanal YouTube One Ummah TV; Dari Krisis Ekologis ke Solusi Ideologis, Jumat (26/12/2025).

 

Lanjutnya, ia menjelaskan dari berbagai sumber media alasan pemerintah Orde Baru mencanangkan program swasembada pangan bermula dari kekhawatiran pada saat itu, andaikan pemerintah tidak membuka lumbung pangan  maka akan terjadi krisis pangan.

 

"Terutama bahwa kebutuhan akan beras sangat tinggi di tanah air. Maka kemudian pemerintah Orde baru mereka mengizinkan pembukaan hutan untuk dijadikan lumbung pangan, dijadikan sawah, dan juga ladang dengan tujuan menghindari krisis pangan yang sangat mungkin terjadi di tanah pada saat itu," jelasnya.

 

Selain swasembada pangan, ia menambahkan, deforestasi pada masa Orde Baru dilakukan untuk kebutuhan devisa impor. “Waktu itu pemerintah memiliki pandangan untuk membangun negara dibutuhkan sumbangan untuk APBN dan salah satu sumber yang sangat menggiurkan adalah ekspor kayu di dunia internasional,” ungkapnya.

 

"Pada tahun 1978, Indonesia tercatat sebagai negara yang memasok 44 persen kebutuhan kayu dunia. Dan tiap tahun Indonesia juga mengekspor sekitar 18 juta meter kubik kayu, dan ini menjadi sumbangan devisa yang cukup besar untuk APBN," terangnya.

 

Lebih lanjut, ia memaparkan kembali bahwa saat itu deforestasi dilakukan pemerintah Orde Baru dengan alasan bertambahnya populasi penduduk, maka pemerintah harus membuka lahan baru. “Alhasil pemerintah Orde Baru memberikan izin hutan yang tidak produktif kemudian dijadikan lahan pemukiman,” sebutnya.

 

"Termasuk kemudian di era Orde Baru, kita mengenal program yang namanya transmigrasi. Dengan alasan kalau Pulau Jawa terus menjadi sentral perkembangan masyarakat, sentral ekonomi, maka akan terjadi kemudian kepadatan bahkan ledakan populasi di Pulau Jawa, maka dibuatlah kebijakan transmigrasi di berbagai pulau seperti Sumatra dan Kalimantan," paparnya.

 

Meski demikian, ia menilai program transmigrasi bukan tanpa persoalan karena sering terjadi konflik antara warga pendatang dan warga asli. “Warga asli memiliki tanah wilayah dan tanah adat, serta lahan yang dibuka kemudian dikatakan pemerintah sebagai hutan yang tidak produktif itu pun masih punya banyak penafsiran berbeda di lapangan,” jelasnya.

 

"Bahkan sering kali verifikasi atau validasi apakah betul hutan yang tidak produktif ini menjadi sangat abu-abu dan sering kali juga kemudian menjadi peluang terjadinya kongkalikong antara pejabat terkait dengan kemudian para pengusaha dan warga yang membutuhkan lahan tersebut baik untuk pemukiman," tandasnya.[] Taufan

Opini

×
Berita Terbaru Update