Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Rajab dan Kemenangan Sistem Politik Islam

Selasa, 30 Desember 2025 | 21:34 WIB Last Updated 2025-12-30T14:34:50Z

TintaSiyasi.id -- Rajab bukan sekadar bulan mulia dalam kalender Islam. Ia adalah bulan memori kemenangan, ketika Allah berkali-kali menampakkan pertolongan-Nya kepada kaum Muslim. 

Dalam sejarah, Rajab menjadi saksi runtuhnya tirani dan bangkitnya peradaban yang berlandaskan Islam. Pertanyaannya, mengapa hari ini umat justru terpuruk? Dan bagaimana rahasia kemenangan Allah dapat diraih kembali?

Rajab dalam Jejak Kemenangan Sejarah
Dalam Al-Qur'an surah At-Taubah ayat 36, Allah menegaskan empat bulan mulia, salah satunya Rajab. Para ulama menjelaskan bahwa kemuliaan ini berarti amal salih dilipatgandakan dan kezaliman dilipatberatkan.

Tidak heran jika banyak peristiwa besar Allah takdirkan di bulan ini. Beberapa tonggak sejarah penting terjadi di Rajab,

Pertama, 27 Rajab 583 H (pembebasan Baitul Maqdis).

Salahuddin al-Ayyubi merebut kembali Al-Quds dari pasukan Salib. Kemenangan ini bukan semata strategi militer, tetapi buah dari pembinaan iman, persatuan umat, dan kepemimpinan yang tunduk pada syariat.

Kedua, Rajab 658 H (runtuhnya kekuasaan Mongol di Ain Jalut).

Pasukan Muslim menghentikan ekspansi Mongol yang sebelumnya tak terkalahkan. Kemenangan ini lahir dari keberanian, keimanan, dan kepemimpinan yang mempersatukan barisan umat.

Ketiga, Rajab 1342 H (runtuhnya Khilafah Utsmaniyah).

Tragisnya, bulan yang sama juga menjadi saksi hilangnya payung politik umat. Sejak saat itu, dunia Islam terpecah menjadi negara-negara kecil di bawah pengaruh Barat. Inilah titik balik kemunduran sistemik.

Sejarah Rajab mengajarkan satu hal bahwa kemenangan dan kekalahan umat selalu terkait dengan posisi Islam sebagai sistem hidup. Saat Islam memimpin, umat dimuliakan. Saat Islam dipinggirkan, umat terpuruk.

Mengapa Umat Terpuruk Hari Ini?

Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa kemunduran umat bukan karena Islam lemah, melainkan karena Islam tidak lagi menjadi rujukan sistemik. Dalam Nizhamul Islam, beliau menegaskan bahwa ketika umat mengadopsi sekularisme (memisahkan agama dari kehidupan publik) dan kapitalisme (menjadikan materi sebagai pusat), maka hukum Allah tersingkir dari politik, ekonomi, dan pendidikan. 

Akibatnya, identitas Islam merosot menjadi ritual pribadi, bukan ideologi peradaban.
Negara-negara Muslim terikat pada kepentingan geopolitik dan pasar global, Umat kehilangan arah perjuangan, terpecah, dan mudah didikte oleh agenda Barat.

Dalam kerangka ini, kemunduran adalah konsekuensi logis dari berpalingnya umat dari Islam kaffah sebagai sistem.

Rahasia Kemenangan: Kembali pada Metode Kenabian

Bagaimana kemenangan Allah diraih kembali? Sejarah dan nash memberi jawabannya. Allah berfirman, “Jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (TQS. Muhammad: 7).

Menolong agama Allah berarti mengembalikan Islam sebagai standar kehidupan, bukan sekadar simbol. Di sinilah dakwah ideologis menjadi kunci.

Syekh Taqiyuddin menekankan bahwa perubahan besar tidak lahir dari perbaikan moral parsial, melainkan dari pembinaan pemikiran dan kepribadian yang terorganisasi. 

Metode Rasulullah SAW menunjukkan tiga tahapan besar:

Pertama, tatsqif (pembinaan).

Menanamkan akidah dan tsaqafah Islam hingga lahir pribadi berkepribadian Islam. Dengan demikian akan lahir generasi yang kokoh, sadar misi, dan berani.

Kedua, tafa’ul ma‘al ummah (Interaksi dengan Umat).

Menyebarkan kesadaran, mengkritik kebatilan sistem, dan menumbuhkan dukungan publik.

Ketiga, istinshar (mencari dukungan kekuatan sosial-politik).

Agar Islam dapat diterapkan sebagai sistem yang melindungi jiwa, harta, dan kehormatan manusia.

Semua ini bukan romantisme sejarah, tetapi metodologi perubahan yang telah terbukti melahirkan peradaban.

Rajab sebagai Momentum Ruhiyah dan Ideologis

Rajab mengingatkan bahwa pertolongan Allah dekat ketika umat kembali menata niat dan arah. Ia adalah bulan muhasabah kolektif, apakah kita masih menjadikan Islam sebagai pedoman hidup atau hanya hiasan identitas?

Ibn Rajab al-Hanbali berkata, “Rajab adalah bulan menanam, Sya’ban menyiram, Ramadhan memanen.” 

Menanam di sini bukan hanya amal personal, tetapi juga komitmen pada misi Islam sebagai rahmat bagi alam.

Rajab pernah memuliakan umat dengan kemenangan besar. Ia juga pernah menyaksikan kehilangan terbesar. Maka pesan Rajab hari ini jelas bahwa kemenangan tidak turun pada umat yang ragu pada agamanya sendiri. Ia turun pada mereka yang menolong agama Allah dengan iman, pemikiran, dan perjuangan yang terarah.

Jika Rajab adalah bulan Allah membuka pintu, maka dakwah ideologis adalah kunci yang memutarnya dan bila kunci itu digunakan, sejarah akan kembali bergerak menuju kemuliaan umat dan keadilan bagi manusia dalam bingkai Daulah Khilafah. []


Nabila Zidane
Jurnalis

Opini

×
Berita Terbaru Update