(Tadabbur Tasawuf Ideologis berdasarkan pemikiran Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari dalam Tāj al-‘Arūs)
Mukadimah Dakwah: Krisis Iman di Tengah Ritualisme
Umat Islam hari ini rajin sholat, tetapi miskin perubahan.
Masjid penuh, tetapi akhlak kosong.
Gerakan sholat sempurna, tetapi jiwa jauh dari Allah.
Di sinilah letak krisis ideologis umat: sholat direduksi menjadi rutinitas, bukan perlawanan ruhani terhadap hawa nafsu dan sistem jahiliyah modern.
Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari رحمه الله mengingatkan dalam Tāj al-‘Arūs bahwa sholat sejatinya adalah jalan pengenalan hakikat diri, dan dari sanalah lahir ketundukan ideologis total kepada Allah.
1. Qiyām: Deklarasi Ideologis Kehambaan
Berdiri dalam sholat bukan sekadar postur tubuh, tetapi pernyataan ideologis:
Aku berdiri bukan karena kekuatanku, tetapi karena izin-Mu.
Dalam perspektif Ibnu ‘Athaillah, qiyām adalah saat seorang hamba melepaskan ilusi kemandirian.
Inilah benteng pertama melawan ideologi materialisme yang menuhankan diri dan kemampuan.
Siapa yang berdiri di hadapan Allah dengan rasa cukup, ia belum mengenal dirinya.
Karena hakikat diri manusia adalah faqir mutlak.
2. Takbiratul Ihram: Revolusi Tauhid
“Allāhu Akbar” adalah seruan revolusi ruhani.
Ia bukan hanya pembuka sholat, tetapi penutup bagi semua tuhan-tuhan palsu:
• Ambisi dunia
• Jabatan
• Popularitas
• Ego keilmuan
• Fanatisme golongan
Ibnu ‘Athaillah menegaskan, siapa yang mengucapkan takbir tetapi masih mengagungkan selain Allah, maka ia terjebak dalam kemunafikan batin.
Sholat mendidik kita menjadi umat tauhid yang merdeka dari selain Allah.
3. Ruku’: Keruntuhan Kesombongan Intelektual
Ruku’ adalah pendidikan ideologis bagi kaum berilmu.
Ilmu yang tidak melahirkan tunduk hanya akan melahirkan arogansi intelektual—penyakit yang merusak dakwah dan memecah umat.
Ibnu ‘Athaillah berkata dengan makna yang dalam:
Ilmu yang tidak membawamu kepada Allah hanyalah beban, bukan cahaya.
Dalam ruku’, seorang dai, ulama, dan aktivis dakwah diajari:
• Menundukkan akal di bawah wahyu
• Menempatkan ilmu sebagai sarana, bukan tujuan
• Menghancurkan ego keilmuan yang merasa paling benar
4. Sujud: Puncak Ideologi Kehambaan
Sujud adalah manifesto kehambaan paling jujur.
Dahi—simbol kehormatan—diletakkan di tanah.
Inilah tamparan keras bagi ideologi kesombongan manusia modern.
Ibnu ‘Athaillah menegaskan:
Kedekatan seorang hamba tidak diukur dari ketinggiannya, tetapi dari kerendahannya di hadapan Allah.
Sujud melahirkan manusia:
• Tidak silau kekuasaan
• Tidak mabuk pujian
• Tidak tunduk pada tirani selain Allah
Inilah ruh pejuang Islam ideologis: rendah di hadapan Allah, tegas di hadapan kebatilan.
5. Tasyahud: Pembaruan Baiat Tauhid
Tasyahud adalah baiat ideologis harian seorang mukmin.
Kesaksian ini bukan formalitas, tetapi ikrar:
• Allah satu-satunya tujuan
• Rasulullah satu-satunya teladan
• Hamba satu-satunya identitas
Ibnu ‘Athaillah mengingatkan, siapa yang bersyahadat tetapi masih menjadikan hawa nafsu sebagai pemimpin, maka syahadatnya belum merdeka.
Sholat melahirkan manusia tauhid yang berkarakter, bukan sekadar religius simbolik.
6. Salam: Kembali ke Medan Dakwah dan Perjuangan
Salam adalah perintah untuk membawa nilai sholat ke dalam kehidupan.
Orang yang benar sholatnya:
• Adil dalam muamalah
• Lembut dalam dakwah
• Tegas dalam prinsip
• Bersih dalam niat
Ibnu ‘Athaillah berkata:
Ibadah yang tidak mengubah akhlak hanyalah kelelahan tubuh.
Penutup Dakwah: Sholat sebagai Proyek Peradaban
Sholat bukan sekadar ibadah personal, tetapi pondasi peradaban tauhid.
Jika sholat hidup:
• Keluarga akan lurus
• Dakwah akan jernih
• Umat akan kuat
• Ideologi Islam akan tegak
Mengenal diri sebagai hamba adalah awal kebangkitan umat.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Dai, Akademisi, Konsultan Pendidikan & SDM)