Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Perumpamaan Hati menurut Ibnu ‘Athaillah

Minggu, 28 Desember 2025 | 09:15 WIB Last Updated 2025-12-28T02:15:37Z

Tadabbur Tāj al-‘Arūs: Hati sebagai Singgasana Tauhid atau Sarang Dunia

Mukadimah: Mengapa Hati Menjadi Pusat Perhatian Para Arif

TintaSiyasi.id -- Dalam pandangan Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari رحمه الله, hati adalah pusat kehidupan ruhani manusia. Bukan tubuh yang menentukan arah hidup, bukan pula lisan, tetapi hati—tempat iman bersemi atau mati.

Karena itu, dalam Tāj al-‘Arūs, beliau banyak menggunakan perumpamaan (tamtsīl) untuk menjelaskan kondisi hati, agar manusia tidak tertipu oleh amal lahiriah yang tampak indah namun kosong makna. 

“Kerusakan hati lebih berbahaya daripada kerusakan anggota tubuh.”

1. Hati seperti Bejana (Wadah)
Ibnu ‘Athaillah mengumpamakan hati seperti bejana.
Jika bejana itu:
• Bersih → ia layak diisi cahaya
• Kotor → apa pun yang masuk akan tercemar
• Penuh → tidak mampu menerima tambahan
Hati yang penuh dengan:
• Cinta dunia
• Ambisi diri
• Hasad dan ujub
tidak akan mampu menampung cahaya ma’rifat.
“Bagaimana cahaya akan masuk ke dalam hati yang penuh dengan selain Allah?”
Ini adalah kritik ideologis terhadap umat yang sibuk mengisi hati dengan dunia, lalu menuntut ketenangan dari Allah.

2. Hati seperti Cermin
Dalam Tāj al-‘Arūs, hati juga diumpamakan seperti cermin.
• Jika cermin bersih → ia memantulkan kebenaran
• Jika cermin berdebu → kebenaran tampak kabur
• Jika cermin berkarat → kebenaran tertolak
Dosa, kelalaian, dan cinta dunia adalah karat hati.
Akibatnya:
• Ayat dibaca tapi tidak menggerakkan
• Nasihat terdengar tapi tidak menembus
• Ibadah dilakukan tapi tidak mengubah akhlak
Inilah sebabnya Ibnu ‘Athaillah menekankan tazkiyatun nafs sebelum memperbanyak amal.

3. Hati seperti Rumah atau Istana
Ibnu ‘Athaillah menyebut hati sebagai rumah.
Pertanyaannya: siapa yang engkau izinkan tinggal di dalamnya?
Jika hati menjadi rumah bagi:
• Allah → ia bercahaya
• Hawa nafsu → ia gelap
• Dunia → ia sempit
• Setan → ia rusak
“Allah tidak berkumpul dengan selain-Nya dalam satu hati.”
Inilah prinsip tauhid batin: tidak ada dua tuhan dalam satu hati.

4. Hati seperti Tanah
Hati juga diibaratkan tanah:
• Tanah subur >>>menumbuhkan iman
• Tanah keras >>> menolak benih
• Tanah beracun >>> merusak tanaman
Amal saleh adalah benih.
Dzikir dan mujahadah adalah air.
Ilmu adalah pupuk.
Namun jika tanah hati keras karena dosa dan kesombongan, benih iman tidak akan tumbuh meski amal banyak.

5. Hati seperti Raja
Ibnu ‘Athaillah menegaskan:
“Jika hati baik, maka seluruh anggota tubuh akan baik.”
Hati adalah raja, anggota tubuh adalah prajurit.
Jika rajanya:
• Lurus>>>> prajurit taat
• Rusak>>>>prajurit liar
Maka percuma memperbaiki perilaku lahiriah jika raja di dalam dada masih tunduk pada hawa nafsu.

Penutup Dakwah: Menjaga Hati adalah Proyek Tauhid

Menurut Ibnu ‘Athaillah, seluruh perjalanan spiritual bermuara pada penjagaan hati.
Karena:
• Hati adalah tempat iman
• Hati adalah singgasana tauhid
• Hati adalah penentu keselamatan
“Selamatnya hamba tergantung pada selamatnya hati.”
Maka wahai para pencari Allah:
• Bersihkan hatimu sebelum memperindah amalmu
• Kosongkan hatimu sebelum mengisinya dengan cahaya
• Jaga hatimu sebagaimana engkau menjaga imanmu

Catatan Reflektif: Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
(Dai, Akademisi, Konsultan Pendidikan & SDM) 

Opini

×
Berita Terbaru Update