Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Putarlah Modal, Raihlah Laba

Minggu, 28 Desember 2025 | 09:25 WIB Last Updated 2025-12-28T02:26:05Z

Fikih Kehidupan dan Strategi Keselamatan Menurut Imam Al-Ghazali

“Putarlah modal, raihlah laba.
Perintah fardhu adalah modal, dengannya diraih keselamatan. Sedangkan perintah sunnah adalah laba, dengannya diraih berbagai derajat.” — Imam Al-Ghazali  

Pendahuluan: Kehidupan sebagai Perdagangan Abadi

TintaSiyasi.id -- Imam Al-Ghazali adalah ulama yang mampu menjelaskan hakikat akhirat dengan bahasa yang sangat membumi. Salah satu pendekatan beliau yang paling menggugah adalah analogi perdagangan. Manusia, menurut Al-Ghazali, sedang berada dalam pasar kehidupan. Setiap detik adalah transaksi, setiap amal adalah investasi, dan setiap niat adalah arah keuntungan atau kerugian.

Allah ﷻ sendiri menggunakan bahasa ini dalam Al-Qur’an: “Wahai orang-orang yang beriman, maukah Aku tunjukkan kepada kalian suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kalian dari azab yang pedih?” (QS. Ash-Shaff: 10)

Artinya, agama bukan sekadar ritual, tetapi strategi keselamatan. Dan seperti perdagangan, ia mengenal modal, laba, dan risiko rugi.

Perintah Fardhu: Modal Keselamatan

Imam Al-Ghazali menegaskan:
Perintah fardhu adalah modal.
Modal dalam bisnis bukan untuk dibanggakan, tetapi untuk menyelamatkan usaha agar tidak bangkrut. Begitu pula fardhu:
• Shalat lima waktu
• Puasa Ramadhan
• Zakat
• Haji (bagi yang mampu)
• Menjauhi yang haram
Semua ini bukan untuk mengejar derajat tinggi, tetapi agar selamat dari kebinasaan.
Seseorang yang hanya mengerjakan fardhu ibarat pedagang yang:
• Tidak rugi
• Tidak bangkrut
• Tetapi juga belum untung besar
Ia selamat, namun belum mulia.

Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits qudsi: “Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai selain apa yang Aku fardhukan kepadanya.” (HR. Bukhari)

Ini menegaskan: fardhu adalah fondasi cinta Allah, bukan pilihan, bukan tambahan, tetapi keharusan hidup seorang mukmin.

Bahaya Meremehkan Modal
Dalam dunia bisnis, orang yang menghabiskan modal akan bangkrut. Begitu pula orang yang:
• Meremehkan shalat
• Merutinkan dosa kecil
• Menggampangkan yang haram
• Mengulur taubat
Ia sedang menggerogoti modal keselamatannya sendiri.
Imam Al-Ghazali mengingatkan:
Banyak orang sibuk mencari laba sunnah, tetapi modal fardhunya bocor.
Ia rajin dzikir, tetapi shalatnya lalai.
Ia aktif dakwah, tetapi akhlaknya buruk.
Ia mengejar amalan besar, tetapi meninggalkan kewajiban dasar.
Ini bukan kecerdasan spiritual, melainkan ilusi keberagamaan.

Perintah Sunnah: Laba dan Kenaikan Derajat

Setelah modal aman, barulah seorang pedagang berpikir tentang laba.
Dan di sinilah perintah sunnah mengambil peran.
• Shalat sunnah rawatib
• Qiyamul lail
• Puasa sunnah
• Sedekah
• Dzikir dan tilawah
• Khidmah dan akhlak mulia
Inilah laba ruhani yang mengangkat derajat hamba di sisi Allah.
Rasulullah ﷺ melanjutkan hadits qudsi:
“Dan hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya.”
Jika fardhu adalah keselamatan, maka sunnah adalah kemuliaan.
Jika fardhu menyelamatkan dari neraka, sunnah mendekatkan ke surga tertinggi.

Derajat Tidak Diraih dengan Modal Saja

Imam Al-Ghazali menegaskan:
Tidak semua orang selamat akan mendapatkan derajat yang sama.
Surga memiliki tingkatan.
Kedekatan dengan Allah memiliki level.
Dan perbedaan itu ditentukan oleh laba sunnah.
Seorang hamba mungkin:
• Selamat dari neraka
• Masuk surga
• Tetapi jauh dari derajat para muqarrabin
Karena ia puas dengan modal, tidak berambisi pada laba.

Keseimbangan: Jangan Terbalik

Kesalahan spiritual yang sering terjadi ada dua:
1. Fokus Sunnah, Lalai Fardhu
Ini adalah kerugian nyata meski tampak religius.
2. Puas dengan Fardhu, Malas Sunnah
Ini selamat, tetapi miskin derajat.
Jalan lurus adalah:
Menjaga modal dengan ketat, dan memutar laba dengan cerdas.

Refleksi Ruhani: Di Mana Kita Berdiri?

Cobalah bertanya pada diri sendiri:
• Apakah shalat fardhu sudah tepat waktu dan khusyuk?
• Apakah dosa-dosa kecil sudah benar-benar ditinggalkan?
• Apakah sunnah hadir sebagai kebutuhan, bukan beban?
• Apakah amal kita sekadar rutinitas, atau perdagangan akhirat?
Imam Al-Ghazali tidak mengajak kita menjadi ekstrem, tetapi cerdas dalam beragama.

Penutup: Jadilah Pedagang Akhirat yang Bijak

Wahai jiwa, hidup ini terlalu singkat untuk asal beragama. Dan akhirat terlalu mahal untuk disia-siakan. Putarlah modalmu dengan menjaga fardhu. Kejar labamu dengan menghidupkan sunnah. Karena:
• Modal menyelamatkanmu
• Laba memuliakanmu
• Dan kerugian adalah milik mereka yang lalai

Semoga Allah menjadikan kita termasuk pedagang akhirat yang beruntung,
yang selamat dari kebinasaan,
dan dimuliakan dengan kedekatan kepada-Nya. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Oleh. Dr Nasrul Syarif M.Si. +Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update