Menjaga Kesucian Tauhid di Tengah Lalai dan Tipuan Dunia
Mukadimah: Cemburu yang Salah Arah
TintaSiyasi.id -- Manusia hari ini pandai cemburu. Cemburu pada pasangan, cemburu pada harta, cemburu pada status dan kehormatan. Namun betapa banyak yang tidak cemburu pada imannya sendiri.
Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari رحمه الله berkata dengan nada peringatan yang tajam: “Kau sudah layak disebut bodoh jika kau cemburu kepada isteri, tetapi tidak cemburu kepada imanmu.”
Sebuah kalimat yang mengguncang kesadaran.
Karena iman jauh lebih berharga daripada segala yang kita jaga dengan kecemburuan duniawi.
1. Hakikat Cemburu dalam Islam
Cemburu (ghirah) bukan sekadar emosi, tetapi energi penjaga.
Dalam syariat:
• Allah cemburu ketika hamba-Nya melanggar batas-Nya
• Rasulullah ﷺ cemburu terhadap kehormatan agama
• Orang beriman cemburu ketika tauhidnya ternodai
Namun, kata Ibnu ‘Athaillah, cemburu yang tidak diarahkan kepada iman adalah kecemburuan yang cacat.
2. Kebodohan Spiritual: Menjaga Dunia, Mengabaikan Iman
Mengapa Ibnu ‘Athaillah menyebutnya bodoh?
Karena:
• Isteri bisa diganti, iman tidak
• Harta bisa dicari, iman jika hilang sulit kembali
• Nama baik bisa pulih, iman yang rusak menghancurkan akhirat
Ironinya, banyak orang:
• Gelisah jika cintanya direbut manusia
• Tenang ketika hatinya direbut dunia
Inilah kebodohan ruhani yang paling halus namun paling berbahaya.
3. Hati: Medan Pertempuran Tauhid
Ibnu ‘Athaillah menegaskan bahwa iman tidak rusak di lisan, tetapi di hati.
Hati yang tidak dijaga akan:
• Berharap kepada selain Allah
• Takut kepada makhluk lebih dari takut kepada Allah
• Bergantung pada sebab, lupa kepada Musabbib al-Asbab
Padahal hakikat iman adalah:
Hati yang berharap dan takut hanya kepada Allah SWT.
Jika hati sudah berharap pada makhluk dan takut kehilangan dunia, maka iman mulai tergadaikan secara perlahan.
4. Ciri Orang yang Cemburu pada Imannya
Orang yang cemburu pada imannya akan:
• Resah ketika hatinya condong kepada dunia
• Takut jika amalnya tercampur riya
• Gelisah saat sholatnya kosong dari khusyuk
• Waspada terhadap dosa kecil yang merusak hati
Ibnu ‘Athaillah mengajarkan:
“Tidak ada dosa yang lebih berbahaya daripada dosa yang kau anggap remeh.”
Karena dosa kecil yang dibiarkan akan mencuri iman tanpa terasa.
5. Cemburu Ideologis: Benteng dari Syirik Halus
Dalam dakwah ideologis, cemburu pada iman berarti:
• Tidak membiarkan tauhid tercemari pragmatisme
• Tidak menjadikan dakwah sebagai alat dunia
• Tidak menjual prinsip demi popularitas
• Tidak menukar keikhlasan dengan tepuk tangan
Inilah ghirah tauhid yang melahirkan:
• Dai yang jujur
• Aktivis yang bersih
• Umat yang merdeka dari selain Allah
Penutup: Jagalah Iman Sebagaimana Engkau Menjaga Kehormatan
Jika engkau cemburu ketika kehormatan duniamu terancam,
maka lebih pantas engkau cemburu ketika imanmu digoda dunia.
Karena:
• Iman adalah cahaya hidup
• Iman adalah harga mati
• Iman adalah bekal mati
“Hati yang selamat adalah hati yang tidak berharap dan tidak takut kecuali kepada Allah.”
— Ibnu ‘Athaillah
Catatan Dakwah: Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Dai & Akademisi, Konsultan Pendidikan dan SDM)