Tintasiyasi.id com -- Peringatan hari ibu di Indonesia tanggal 22 Desember sangat diapresiasi oleh semua anak yang berlomba-lomba memberikan kado maupun ucapan terima kasih atas jasa seorang ibu. Euforia tersebut hanya sebuah simbolis namun realitanya masih banyak anak yang belum menghormati betapa besarnya jasa seorang ibu.
Seorang ibu sangat penting dalam kehidupan keluarga, karena ibulah yang bertanggung jawab dalam mendidik anak-anaknya. Tanggung jawab ibu sangat besar, selain melahirkan, merawat, mendidik bahkan sampai anak dewasa pun perannya sangat menentukan masa depan anak.
Ruh dalam keluarga adalah sosok ibu yang yang paling dekat dengan anak-anaknya. Peran ibu sangat menentukan kekuatan sebuah keluarga, maka ibu harus memberikan teladan yang terbaik untuk anggota keluarga. Generasi muda sangat membutuhkan motivasi dari lingkungan keluarga terlebih dahulu.
Sistem saat ini banyak pemuda kehilangan arah, baik dunia nyata maupun digital, jati diri seorang muslim tergerus oleh sekularisasi. Hal ini, adakalanya tidak dapat dipungkiri karena ibu juga menjadi penopang keluarga yang harus mencukupi kebutuha keluarga.
Bagi ibu yang bekerja mengurus dan merawat anak akhirnya tidak menjadi prioritas dan sering terabaikan dari pola pengasuhan. Kondisi kaum ibu ini memprihatinkan, mereka menjadi korban sistem kapitalisme, sehingga perannya sebagai ummun wa rabbatul bayt dan pendidik generasi menjadi lalai.
Digitalisasi dengan mudahnya dapat diakses dari berbagai kalangan karena saat ini hegemoni kapitalisme sudah meracuni pemikaran penerus peradaban. Generasi saat ini dirusak dari semua penjuru terutama ekonomi yang menyebarkan ideologi batil yang menjauhkan umat dari pemikiran Islam.
Negara sekuler memandang generasi muda dan kaum ibu sebagai objek komersial, sekaligus menjauhkan mereka dari pembekalan Islam kaffah.
Seharusnya orang tua dan anak layaknya seorang sahabat yang saling bercerita dan diskusi dalam keseharian. Persoalan umat makin kompleks, dikarenakan kegagalan sistem sekuler kapitalistik. Untuk itu dibutuhkan perubahan sistemis dari regulasi hingga ideologi.
Akar persoalan terletak pada adopsi sekularisme dan kapitalisme sebagai paradigma bernegara, sehingga peran agama dibatasi pada ranah privat. Kapitalisme merusak genarasi di ruang publik dan diperparah ruang digital menjadi mesin penguat yang berdampak secara psikis.
Ibu dan anak menjadi pemisah secara pemikiran di zaman sekuer, sejatinya seorang muslim tidak ada perbedaan kaum tua ataupun muda, mereka sudah terikat pada hukum Allah Swt. Memisahkan agama dari kehidupan itu yang menjadi target orang-orang yang tidak ingin syariat Islam bangkit.
Sistem sekuler kapitalisme memperkenalkan budaya konsumerisme sehingga generasi muslim melepaskan syariat Islam untuk kebahagian yang semu.
Posisi ibu sebagai mashna ar rijal mempunyai kedudukan yang mulia bukan hanya berfungsi biologis saja, melainkan mempunyai peran strategis dan politis untuk menyiapkan generasi masa depan. Tugas utama perempuan sebagai ibu dan pengatur rumah suaminya (alwaie.net, 29/09/2025).
Aktivis muda dan tuntutan perubahan harus dimotori Gen Z serta difasilitasi oleh media digital. Generasi adalah hamba Allah dan milik Allah yang sangat berpotensi besar untuk perubahan terhadap proyek Allah, yaitu meninggikan kalimat Allah di muka bumi.
Optimalisasi menuju kebangkitan peradaban dengan cara membatasi kesenangan untuk mendapatkan ketaatan sesuai perintah dan larangan-Nya.
Penerapan sistem kapitalisme harus ditinggalkan, untuk itu kehadiran jamaah dakwah Islam ideologis menjadi sangat urgen untuk membina ibu dan generasi muda agar memiliki kepribadian Islam dan siap memperjuangkan kebangkitan Islam.
QS. Ali Imran: 104 menjadi landasan bagi kewajiban jamaah Islam yang memiliki visi ideologis dan tujuan perubahan sistemik. Pemuda sebagai kader perjuangan dalam menegakan daulah Islamiah.
Kunci membentuk generasi pelopor yaitu dengan perubahan yang hakiki, akidah yang kuat, dengan memahami dan terlibat dalam memperjuangkan Islam secara paripurna.
Sebagaimana yang diteladankan Rasulullah ﷺ, jamaah dakwah ini membina umat, termasuk ibu dan generasi muda, dengan Islam ideologis, menyiapkan mereka menjadi pelopor peradaban yang membela dan mengemban Islam kaffah.
Pembinaan (tatsqif) adalah tahapan awal metode dakwah Rasulullah di fase Makkah, yang kemudian dilanjutkan dengan interaksi dengan umat dan berakhir pada istilamul hukmi (penyerahan kekuasaan untuk menerapkan Islam sebagai sistem kehidupan).
Dengan demikian, perlu memberikan kesadaran politik pada generasi muda melalui peran ibu melalui proses berpikir yang kritis, analitis untuk kemulian Islam.[]
Oleh: Ariyana
(Dosen dan Aktivis Muslimah)