Tintasiyasi.id.com --Oxford University Press merilis definisi Brain Rot (Kerusakan otak) sebagai dugaan penurunan kondisi mental atau intelektual seseorang, sebagai akibat dari konsumsi berlebihan konten yang dianggap sepele atau tidak menantang (corp.oup.com/2 Desember 2024).
Hasil penelitian dari Pandit Ariwibowo dan Mahendra menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan berdampak negatif terhadap harga diri, mengganggu kualitas tidur, dan meningkatkan risiko gangguan psikologis seperti kecemasan dan depresi (Jurnal Sosial dan Teknologi,Vol 5,No.3 March 2025).
Konten receh juga menurunkan fungsi kognitif. Hasil penelitian Firzani menunjukkan bahwa anak-anak usia 7-11 tahun memiliki minat tinggi terhadap media sosial terutama konten digital.
Dampak pada kemampuan berpikir anak yaitu anak menjadi kesulitan menghafal, menyusun kalimat dan berpikir kritis. Sebaliknya, anak mudah menghafal dan melafalkan tokoh-tokoh konten (Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar Vol.2, No.4, 2025).
Digitalisasi di Sistem Kapitalisme
Saat ini dunia digital dicengkeram ideologi kapitalisme sekulerisme. Jika diperhatikan, konten digital mempromosikan kehidupan sekuler. Yaitu memisahkan aturan kehidupan manusia dengan aturan agama.
Jika pun ada konten agama, itu dalam ranah ritual dan motivasi. Pemahaman agama secara menyeluruh, tidak diizinkan eksis, karena dianggap tidak sesuai standar Barat. Maka sangat wajar, jika generasi muda yang mengakses konten digital semakin sekuler.
Diperparah dengan design algoritma, yang menjadikan generasi muda mendapatkan konten sesuai kesenangannya. Ini tidak lain, agar generasi muda berlama-lama konsumsi platform digital. Para pebisnis raksasa digital teknologi yang untung besar, tanpa memedulikan akibatnya pada generasi.
Generasi muda dengan segala potensinya, idealnya bisa menjadi subjek perubahan kebaikan. Bukan malah menjadi objek pasar platform digital yang tidak meningkatkan kualitas daya pikir kritis generasi.
Padahal, kemampuan menganalisa menjadi hal sangat penting, agar generasi mampu memikirkan solusi atas berbagai permasalahan kehidupan. Baik permasalahan dirinya masyarakat, maupun negaranya. Untuk itu, penting membangun ulang pola pikir generasi yang sesuai Islam dengan meningkatkan tsaqofah (pengetahuan) Islam.
Islam Solusi Hakiki
Otak salah satu bagian penting dari proses berpikir. Jika otak rusak karena konten digital receh, maka pola berpikir generasi juga akan rusak. Akibatnya perilaku generasi pun akan jauh dari kemuliaan. Padahal, di pundak merekalah, bangsa ini dipimpinnya.
Apa jadinya jika generasi calon pemimpin peradaban otaknya rusak karena konsumsi konten digital berlebihan? Bukan kah kita ingin memiliki pemimpin yang cerdas dan amanah agar kehidupan masyarakat semakin sejahtera?
Islam tidak anti teknologi, tetapi Islam mengatur penggunaan teknologi tersebut dengan batasan syariat. Selama digunakan untuk kebaikan Islam dan tidak untuk maksiat, itu boleh saja.
Intinya, generasi muda harus bijak menggunakan teknologi digital, bukan menjadi budak digital yang mengendalikan cara berpikir dan bersikapnya. Untuk itu, butuh edukasi literasi ideologis yang dilakukan masif berbagai pihak.
Baik di keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara. Tanpa adanya kerjasama ini, mustahil generasi mampu mengendalikan perangkat digitalnya.
Generasi muda saat ini butuh pembinaan diri secara teratur. Pembinaan ini tidak hanya membangun pola pikir Islam, tetapi juga menerapkan konsep pemikiran yang benar dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai contoh, ketika generasi muda paham makna kehidupan di dunia ini hanya sementara, dia hamba yang hidup bersama Allah dengan menaati aturannya, serta generasi yakin bahwa setelah kehidupan ini ada akhirat yang kekal abadi.
Maka, potensi generasi muda akan melejit dengan menggunakan teknologi digital untuk menyebarkan Islam. Dia bisa mengontrol diri dalam menggunakan perangkat digitalnya. Bukan untuk scroll konten receh, tapi untuk berdakwah.
Inilah generasi muda yang didambakan umat. Generasi muda taat dan istikamah dalam pembinaan partai Islam ideologis. Wallahu'alam bishshawwab.[]
Oleh: Priani, S.Pd.
(Konselor Remaja dan Keluarga)