TintaSiyasi.id -- Ibu bukan hanya menjadi pengurus rumah tangga, tetapi ibu memiliki peran yang krusial yaitu madrasah pertama bagi anak-anaknya, yang menanamkan nilai-nilai keimanan dan akhlak yang mulia.
Islam memandang sosok ibu yang ideal adalah pencetak generasi pemimpin dan penakluk peradaban, generasi yang tidak takut oleh apa pun dan siapa pun kecuali kepada Allah SWT. Ibu yang mampu menuntun anak-anaknya memiliki pandangan luar biasa jauh ke depan, tidak hanya untuk tujuan duniawi, tetapi juga untuk tujuan surga yaitu meraih ridha Allah SWT.
Ibu ideal bukan hanya mampu menjalankan peran domestik saja, tetapi juga memiliki kesadaran penuh akan kewajiban dakwah dan kesadaran politik tinggi untuk membentuk anak-anaknya menjadi generasi yang kuat secara ideologi, berkarakter pemimpin, dan siap membangun peradaban Islam. Ibu menjadi pilar utama dalam melahirkan generasi penerus yang berintegritas dan visioner.
Dengan kesadaran politik yang tinggi, seorang ibu akan mendidik dengan tangan yang mengayun buaian, namun pikirannya bekerja untuk mengubah dunia. Ia akan berusaha mempersiapkan generasi yang bukan hanya cerdas secara akademis, tetapi memiliki jiwa kepemimpinan untuk membawa umat ke arah peradaban yang lebih baik.
Sebagaimana kisah ibu Imam asy-Syafi’i, beliau menceritakan tentang masa kecilnya yang yatim. Walaupun memiliki keterbatasan materi, ibu Imam asy-Syafi’i tetap memberi perhatian luar biasa terhadap pendidikan anaknya. Setelah menyempurnakan hafalan Alqurannya, imam Syafi’i masuk ke masjid, duduk di majelisnya para ulama. Menghafalkan hadis atau suatu permasalahan. Pada masa itu beliau tidak memiliki uang untuk membeli kertas, maka menjadikan tulang sebagai tempat menulis.
Namun dalam asuhan sistem sekuler kapitalisme peran ibu bukan lagi sebagai madrasah pertama, tetapi beralih fungsi sebagai penggerak roda perekonomian keluarga dan negara. Paham kesetaraan gender, HAM dan moderasi beragama yang lahir dari rahim sekuler kapitalisme telah berhasil menciptakan tatanan kehidupan yang rusak bahkan semakin menjauhkan peran ibu sebagai pencetak generasi yang bertakwa dan tangguh.
Serangan dunia digital semakin memperparah kondisi generasi muda saat ini. Generasi muda menjadi target empuk dalam serangan hegemoni digital kapitalisme. “Mereka dibentuk oleh konten-konten yang menghibur, tetapi menumpulkan akal, lemah dalam berpikir, mengikis akhlak dan moral sehingga merusak masa depan bangsa.
Tantangan berat yang dihadapi para ibu dalam menetapkan visi pendidikan bagi anak-anaknya sebagai abdullah, khalifah fil ardh dan khairu ummah tidak akan terwujud dalam sistem sekuler kapitalisme saat ini. Namun sebagai ibu ideologis, tidak ada kata menyerah dan putus asa, karena masa depan generasi muda ditangan mereka.
Ibu harus bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya, membimbing mereka dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Orang tua harus memberikan teladan untuk menjadikan Islam sebagai standar setiap perbuatan, juga sebagai rujukan dalam berpikir atau berdiskusi. Buatlah mereka bangga menjadi seorang muslim dengan aturannya yang sempurna. Mereka akan semangat menjalankan dan menyebarkan syariat-Nya meskipun tidak mudah.
Inilah yang akan mengokohkan jiwa untuk menjadi pembela Islam terpercaya saat syariat Islam dan umatnya direndahkan oleh musuh-musuh Islam. Mereka akan menyampaikan kebenaran Islam di mana pun berada.
Wallahu a’lam bishshawab.[]
Oleh: Yeni
Aktivis Muslimah