TintaSiyasi.id -- Saat ini kita sedang menghadapi era digital yang semakin cepat. Di tengah deras digitalisasi membuat pemuda menghadapi tantangan baru. Tantangan dunia digital yang memberikan pengaruh signigikan dalam mempengaruhi arah pandang pemuda.
Akibatnya pemuda mengalami krisis identitas. Hal ini disebabkan oleh media sosial yang semakin masif. Sosial media mampu mengubah arah pandang dan tujuan hidup. Mempengaruhi pemikiran dan tingkah laku.
Hal ini berdampak juga kepada hilangnya jati diri pemuda sebagai pelopor perubahan. Pemuda dengan segala potensi dan intelektualitasnya harusnya menjadi corong perubahan ditengah-tengah umat. Mengkritisi setiap kebijakan yang menyesarakan bahkan menumbalkan rakyat. Namun nyatanya kondisi tersebut saat ini jauh panggang dari api.
Pemuda hanya disibukkan dengan aktivitas digital yang unfaedah. Mengikuti standar sosial media yang minim bahkan tidak berdampak kepada perubahan ditengah masyarakat.
Kondisi kaum ibu pun tak kalah memprihatinkan. Ibu sebagai al umm warabbatul bait, pencetak generasi unggul dan berkualitas. Perannya tak lagi hadir ditengah-tengah keluarga. Tidak sedikit ibu yang disibukkan dengan urusan nafkah karena himpitan sistem kapitalis. Pun tidak jarang mereka hanya menyibukkan diri dengan sosial media dan meniadakan peran penting di tengah keluarga.
Dunia digital di bawah naungan sistem kapitalisme telah merongrong potensi ibu dan pemuda. Sistem kapitalisme mengaruskan pandangan dan pemikiran mereka kepada standar yang dibuat barat. Menjadikan kebahagiaan materi sebagai standart kebahagiaan. Sosial media sebagai ajang eksistensi diri tanpa dampak yang berarti ditengah-tengah masyarakat.
Tanpa sadar mereka telah dijauhkan dari Islam. Mereka telah dipisahkan dari aturan kehidupan yang seharusnya menjadi arah pandang dalam kehidupan mereka. Sistem kapitalisme memandang mereka hanya sebagai objek komersial yang secara tidak langsung menyebarkan ide-ide sekuler mereka. Sungguh sistem ini telah merusak generasi dengan segala potensinya.
Di tengah himpitan sistem kapitalis saat ini, haruslah ada kelompok dakwah Islam yang mampu mengembalikan peran generasi muda dan ibu. Kelompok ini adalah kelompok Islam ideologis yang membina ibu dan generasi. Membimbing mereka agar bisa menjadi individu yang memperjuangkan Islam di tengah-tengah masyarakat.
Hal ini berdasarkan dalam Al-Qur'an:
تَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
"Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali-imran : 104)
Di sini menjelaskan urgensitas keberadaan kelompok dakwah sebagaimana kelompok dakwah Rasul yang membina masyarakat dengan Islam. Hingga mampu menjadikan Islam sebagai aturan kehidupan ditengah-tengah umat. Dan diterapkan dalam naungan Khilafah ar-Rasyidah.
Wallahu a'lam bishshawab.[]
Yosie Purwanti
(Youth Enthusiast)