TintaSiyasi.id -- Kondisi generasi hari ini sedang tidak baik-baik saja. Dapat terbaca jelas dari fakta-fakta yang terus mencuat. Sepanjang 2024, Komdigi mencatat 1,45 juta kasus child sexual exploitation (CSE) di ruang digital, menjadikan Indonesia salah satu negara dengan laporan pornografi anak tertinggi (komdigi.go.id, 3/10/2025). Lalu 1,35 juta konten negatif—didominasi pornografi dan perjudian online—ditindak dalam kurun Oktober 2024 hingga Maret 2025 (komdigi.go.id, 10/3/2025). Di sisi lain, laporan Indonesia Indicator menunjukkan puluhan ribu unggahan cyberbullying sepanjang pertengahan 2024 (antaranews.com, 27/7/2024). Sementara itu, OJK dan Satgas PASTI menghentikan lebih dari 1.500 pinjol ilegal sejak awal 2025, dan MPR menyebut pinjol serta judol makin mencemaskan bagi generasi muda (mpr.go.id, 19/2/2025).
Fakta-fakta ini menunjukkan satu hal: ruang digital kita sedang sakit parah, tetapi negara tampak berjalan seperti biasa saja. Masalahnya bukan sekadar internet yang berbahaya, melainkan ketiadaan visi ideologis negara sekuler. Ruang digital diperlakukan seperti pasar bebas: yang penting ramai, yang penting ada trafik. Sementara algoritma raksasa digital menjejalkan apa pun yang membuat orang terus menggulir layar—tanpa peduli nilai, akhlak, atau kesehatan mental generasi.
Akibatnya, generasi tumbuh dengan jati diri yang rapuh. Mereka ingin memegang nilai Islam, tetapi setiap hari layar menyuguhkan budaya hedonis, seks bebas, gaya hidup instan, hingga candu digital. Tanpa negara yang membingkai arah moral masyarakat, benturan ini menggerus kepribadian secara perlahan namun pasti.
Bagaimana Seharusnya Negara Melihat Generasi?
Dalam Islam, generasi bukan sekadar angka demografis. Mereka adalah aset peradaban. Rasulullah saw. sangat menyadari hal ini. Lihat bagaimana beliau membina generasi muda: Ali, Zaid, Usamah, Ibn Abbas, dan Anas—bukan hanya diajari ilmu, tetapi diberi kepercayaan, tanggung jawab, dan kedekatan spiritual.
Usamah, yang sangat muda, memimpin pasukan berisi sahabat senior.
Ibn Abbas tumbuh menjadi ulama besar yang memahami Al-Qur’an secara mendalam. Anas dididik di rumah Rasul hingga menjadi teladan akhlak dan amanah.
Para sahabat pun meneruskan pola ini. Umar bin Khattab kerap melibatkan anak muda dalam majelisnya karena ketajaman pikiran mereka. Mereka sadar bahwa generasi yang kuat adalah pondasi kekokohan umat.
Negara dalam perspektif Islam bukan penjaga lalu lintas digital semata, tetapi junnah—perisai yang melindungi umat dari setiap ancaman yang merusak akidah dan akhlak. Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya imam (pemimpin) adalah junnah (perisai); manusia berlindung di baliknya dan berperang bersamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dengan prinsip ini, negara wajib memastikan setiap unsur kehidupan—termasuk ruang digital dan media massa—menguatkan jati diri Islam generasi, bukan mengikisnya.
Bagaimana Khilafah Mengelola Media dan Teknologi?
Khilafah bukan musuh teknologi. Justru ia menata arah penggunaan teknologi agar selaras dengan misi peradaban Islam. Media massa tidak dibiarkan berubah menjadi arena hiburan destruktif atau ruang infiltrasi ideologi asing. Ada tiga prinsip utama:
Pertama, media sebagai alat pencerdasan.
Berita, film, edukasi publik—semuanya tunduk pada standar syariat Islam. Negara memastikan tidak ada promosi pornografi, kekerasan, perjudian, atau gaya hidup permisif.
Kedua, menjaga ruang informasi dari ideologi asing. Nilai sekuler, liberal, hedonis, dan materialistis yang merusak pola pikir tidak dibiarkan menormalisasi gaya hidup yang bertentangan dengan Islam. Negara sadar bahwa tsaqafah membentuk peradaban, dan peradaban menentukan arah umat.
Ketiga, teknologi sebagai sarana dakwah dan pengembangan kompetensi.
Platform digital dimaksimalkan untuk riset, pendidikan, literasi, kreativitas, dan peningkatan kepribadian generasi. Kreator konten bernilai diberikan ruang, bukan dikalahkan oleh algoritma yang memuja sensasi.
Di tangan negara yang berideologi Islam, internet diarahkan menjadi arus pengetahuan yang menumbuhkan kedalaman berpikir, bukan gelombang besar yang menenggelamkan.
Relakah kita masa depan generasi ditentukan oleh algoritma yang lebih cinta trafik daripada akhlak mereka?
Jika tidak, maka kita membutuhkan negara yang bukan sekadar hadir, melainkan memimpin arah peradaban. Negara yang tidak sibuk menutup konten satu per satu, tetapi membangun visi jangka panjang bagi generasi. Negara yang memandang mereka sebagai amanah, bukan sekadar angka dan pangsa pasar.
Di era scroll tanpa henti ini, generasi tidak butuh negara yang sibuk pencitraan. Mereka butuh junnah—perisai yang menjaga iman, jati diri, dan masa depan mereka.
Wallahu a’lam. []
Oleh: Tuty Prihatini, S.Hut.
Aktivis Muslimah Banua