TintaSiyasi.id -- Gaza masih menderita, walau ternyata disepakati telah gencatan senjata, nyatanya warga Gaza masih sulit di tengah pemblokadean zionis Israel. Susahnya bantuan-bantuan dari luar untuk masuk ke kawasan Gaza tentu sangat menyulitkan ditambah lagi musim hujan yang melanda. Tenda-tenda yang menjadi tempat warga Gaza mengungsi dan tinggal tidak mampu menahan hujan. Ditemukan banyak tenda sobek dan roboh, membuat banyak pengungsi terpaksa berlindung di tempat yang menjadi genangan lumpur. Banyak dari warga yang juga menjadi korban akibat bencana musim dingin ini, Sedikitnya 260 warga Palestina tewas dan lebih dari 630 lainnya mengalami luka-luka sejak gencatan senjata dimulai (10 Oktober).
Telah bertahun-tahun warga Gaza menderita. Walaupun telah banyak hal yang diupayakan seperti bantuan atau gencatan senjata, tidaklah cukup mampu menghentikan genosida yang ada di sana. Lantas apakah akar masalah dari penderitaan yang tiada akhir ini?
Jika ditelusuri ternyata dulunya Palestina bukanlah negara yang berdiri sendiri, melainkan menginduk kepada negara Islam dengan kesatuan kepemimpinan. Negara kesatuan Islam tersebut adalah khilafah. Khilafah adalah sebuah sistem negara yang berjalan dan berjalan sesuai atas syari’at Islam. Khilafah inilah yang dahulu dahulu menyatukan negeri-negeri muslim seperti Palestina, Syria dan Sudan dalam satu komando kepemimpinan dan pengurusan.
Dalam Sistem Khilafah tersebut negeri-negeri Muslim seperti Palestina hidup dengan sejahtera, tenteram walau beragam kepercayaan. Namun sejak sistem khilafah itu runtuh di tangan penjajah-penjajah Barat Inggris dan Perancis, negeri-negeri Muslim menjadi terpecah belah dan terbagi menjadi negara-negara kecil dan berakhir menjadi jajahan negeri-negeri Barat. Sehingga mudah bagi negeri-negeri Muslim saat ini dijajah dan diatur oleh kehendak Barat seperti Amerika.
Walau pada faktanya telah terbentuk lembaga-lembaga dunia yang menyerukan perdamaian. Ternyata fakta berkata lain, seruan perdamaian itu hanyalah janji palsu belaka. Ditambah lagi keberadaan lembaga-lembaga dunia seperti PBB ini menyulitkan banyak negara-negara Muslim untuk saling tolong-menolong. Hal tersebut dikarenakan masing-masing negara yang beranggotakan PBB terikat dengan aturan-aturan yang dibentuk organisasi bangsa-bangsa tersebut. Walaupun pernah bagi lembaga tersebut memberikan sanksi internasional dan mengadakan kesepakatan kedua belah pihak untuk gencatan senjata, namun hal itu malah menyuburkan penjajahan atas zionis kepada saudara Muslim Palestina.
Dari penjelasan yang telah dipaparkan, Palestina dan negeri-negeri Muslim pernah tenteram saat di bawah naungan negeri khilafah. Maka tentu untuk bisa mengembalikan perdamaian Palestina adalah tidak lain mengembalikan sistem kepemimpinan Islam itu kembali. Hal ini adalah tugas besar seluruh kaum Muslim yang mengaku bahwa dirinya berakidah Islam.
Patut disadari untuk membela saudara-saudara Muslim di luar batas wilayah negeri ialah tidak lepas dari kewajiban. Dan juga merebut tanah Palestina kembali dalam naungan sistem kepemimpinan khilafah Islam. Bagi seorang Muslim setidaknya ada langkah-langkah kecil mewujudkan kepemimpinan Khilafah Islam itu. Baik dimulai dari mengkaji dan memahaminya, menjalankan setiap ilmu yang Allah tunjuki untuk bisa mewujudkan kembalinya sistem kepemimpinan khilafah.
Dalam hal mengkaji Islam selain hanya tahu bagaimana menyelamatkan saudara-saudara Muslim yang ada di Palestina, tetapi juga memantapkan hujjah atau komitmen semua Muslim bagi yang ingin dikatakan sebagai hamba yang beriman dan layak untuk dikatakan sebagai umat Nabi Muhammad Saw. Sebagaimana hadis Rasulullah Saw., “Barangsiapa yang tidak peduli (atau tidak mengingat) urusan umatku, maka dia bukan bagian dari golonganku (umatku).”
Wallahu a'lam bishshawab. []
Oleh: Ainun Saifia
Aktivis Muslimah