TintaSiyasi.id -- Direktur Indonesia Justice Monitor, Ustaz Agung Wisnuwardana, mengatatakan bahwa kapitalisme itulah yang menyebabkan terjadinya malapetaka bencana.
"Saya sependapat dengan apa yang ditulis oleh Raja Swamy buku Capitalism and Catastrophe. Kapitalisme itulah yang menyebabkan terjadinya catastrophe yaitu malapetaka bencana yang terjadi di mana-mana," paparnya di Kabar Petang, Bikin Warga Geram, Kayu Bernomor Diangkut, Sisa Banjir Lainnya Ditinggalkan, di akun YouTube Khilafah News, Jumat (26/12/2025).
Ia memberikan contoh, dalam konteks Indonesia, ada peng-peng, penguasa pengusaha. Para penguasa itu nanti akan dibantu oleh pengusaha untuk menjadi pejabat, setelah menjadi pejabat maka penguasa harus melayani izin-izin untuk korporasi dan itulah yang merusak sekarang ini.
"Gelindat kerusakan luar biasa di Sumatera kemarin itu menunjukkan kepada kita semua ada gelindat peng-peng, korpora yang merusak alam dan itu kesengajaan atau kebijakan sengaja untuk membunuh umat manusia," cecarnya.
Ia mengungkapkan akar masalah terjadinya banjir bandang, karena deforestasi pembukaan lahan sawit sangat luas. "Enggak bisa dipungkiri 600 sekian ribu hektar itu lahan sawit, hutan tanaman industri itu nomor dua 9000, lalu kemudian stambang gitu memang yang paling besar sawit, cuman banyak orang bilang sawit itu di Wilayah dataran rendah, tetapi persoalannya ini sudah jadi sistemis," jelasnya.
Intinya, ketika ada deforestasi melebihi daya tampung dan daya dukung lingkungan untuk apapun dia, maka ini menjadi keburukan buat masyarakat terkait dengan air, serapan air, run off, erosi, tanah longsor.
"Banjir ini sebuah kesatuan ya enggak bisa dipisahkan, oleh karena itu kita tidak anti sawit, tidak anti tambang, tidak anti hutan tanaman industri tapi yang menjadi persoalan kebijakan deforestasi yang melebihi daya tamping dan daya dukung lingkungan," paparnya.
Ia juga mengutip Dosen UGM Dr. Hatma Suryatmo dua faktor terjadinya bencana di Sumatra. Pertama, kerentanan ekologis. Kerentanan ekologis terjadi karena pembukaan lahan dalam skala besar dan melebihi daya tampung dan daya dukung lingkungan yang disebut deforestasi ada sawit skala besar, hutan tanaman industri segala besar, tambang.
Kedua, digandakan oleh climate change. "Nah perubahan iklim ini karena siapa perubahan iklim terjadi, pemanasan di permukaan laut sehingga terjadi evaporasi dalam sekala besar, terjadi awan dalam jumlah besar di langit, muncul siklon tropis sehingga muncullah hujan dalam skala besar seperti yang terjadi di Aceh kira-kira dua hari 300 MM itu sangat besar sekali, deras dan badai," paparnya.
Ia mengutip, penelitian yang dilakukan oleh lembaga otoritatif Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (Intergovernmental Panel on Climate Change) membuat laporan berkala tentang climate change, terbaru adalah sinergi report tahun 2023 menggambarkan sangat jelas bahwa siklon tropis, pemanasan global yang menyebabkan jumlah air skalanya besar sekali, gas rumah kaca itu terjadi karena ulah tangan manusia, seperti emisi karbon, industrialisasi skala besar yang menyebabkan emisi karbon cukup, pembukaan lahan yang menyebabkan emisi karbon juga meningkat.
"Nah ini semua akumulasi karena ulah tangan manusia yang menerapkan kapitalisme sejak tahun 1800-an sehingga menimbulkan kerusakan ditambah dengan kerentanan ekologis deforestasi terjadilah bencana yang luar biasa," pungkasnya. [] Alfia