TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menyebut Indonesia mengalami inferiority complex pascakolonial dalam dunia ilmu yang menjadikan standar eksternal satu-satunya cermin harga diri akademik.
“Indonesia mengalami inferiority complex
pascakolonial dalam dunia ilmu yang menjadikan standar eksternal satu-satunya
cermin harga diri akademik,” ulas HILMI dalam Intellectual Opinion No. 030 kepada
TintaSiyasi.ID.
HILMI menyerukan kesadaran kolektif
untuk meninggalkan fokus pada peringkat dan beralih membangun martabat akademik
yang hakiki.
“Hal ini menyebabkan banyak kampus
mengorbankan konteks lokal, misi sosial, dan tugas mendidik secara utuh demi
menyelaraskan diri dengan algoritma ranking global,” beber HILMI, Senin
(08/12/2025).
HILMI menegaskan bahwa martabat harus
tetap dijaga, sebab peringkat bisa naik turun, tetapi makna yang akan
menyelamatkan.
Sebagai pembanding, HILMI menyebut bahwa universitas yang besar di peradaban
bukanlah yang tertinggi di tabel dunia, melainkan yang terdalam jejaknya dalam
sejarah kemanusiaan.
“Contoh nyata dari sejarah Islam adalah Universitas Al Azhar (berdiri tahun 970 M) dan Qarawiyin (859 M). Bangsa ini memerlukan universitas yang memuliakan manusia, tinggi ilmunya, dalam maknanya, luas manfaatnya, dan lurus keberpihakannya, serta nyata manfaatnya di sawah petani hingga di ruang-ruang kelas anak-anak miskin,” tutup HILMI.[] Rere
