Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Gen Z di Persimpangan Jalan Peradaban

Selasa, 16 Desember 2025 | 19:01 WIB Last Updated 2025-12-16T12:01:33Z

Tintasiyasi.id.com -- Di zaman Era Digital pada saat ini Generasi Z dikenal sebagai generasi yang paling dekat dengan teknologi dan media sosial. Mereka tumbuh dalam era digital yang memberikan kebebasan berekspresi tanpa batas.

Era digital tidak terelakkan, banyak kemudahan tapi juga banyak pengaruh buruk. Melalui berbagai platform seperti TikTok, Instagram, dan Twitter, mereka dapat mengakses dan menmapilkan identitas serta pandangan hidup secara luas.Tapi dibalik kebebasan, tibul pertanyaan besar: apakah mereka benar-benar bebas atau malah semakin terjebak dalam tekanan sosial efek dari penggunaan media sosial itu sendiri ?

Fenomena saat ini menunjukkan bahwa meskipun media sosial memberikan ruang untuk berekspresi, realitasnya sering berbeda bagi Gen Z. Media sosial bukan hanya wadah untuk berekspresi, tapi bisa juga sebagai tempat persaingan yang tidak terlihat.

Asosiali Penyelenggaraan Internet Indonesia ( AP JII),dalam surveinya melibatkan 8.700 responden berusia minimal 13 tahun di 38 provinsi pada periode 10 April–16 Juli 2025, mereka mencatat bahwa tingkat penetrasi internet di Indonesia mencapai 80,66 persen. 

Dalam hai ini berarti lebih dari 8 dari 10 penduduk Indonesia telah memiliki akses pada layanan internet. Konsistensi pertumbuhan ini terlihat jelas dalam empat tahun terakhir: 2022: 77,01 %, 2023: 78,19 %,2024: 79,50 % dan 2025: 80,66 %.

Dengan jumlah penduduk Indonesia yang diperkirakan mencapai 284,43 juta jiwa tahun ini, capaian tersebut menjadi sinyal kuat bahwa teknologi digital telah merambah hampir seluruh lapisan masyarakat.

Gen Z dipandang sebagai generasi lemah, tapi di satu sisi memiliki potensi kritis dan mampu menginisiasi perubahan melalui sosmed.

Sekuler Kapitalis

Ruang digital tidak netral, karena semua yang ada didalamnya didominasi oleh nilai-nilai sekuler kapitalistik. Jika melihat fakta yang ada sebenarnya perusak generasi ini bisa dilihat dari berbagai sisi mulai dari individunya sendiri.

Tidak hanya itu, perusahaan media juga berpengaruh, karena mereka yang membuat maka mereka juga yang tau tujuan utama media diciptakan. Positifnya ada activism global, mudah belajar,dan lain sebagainya, tapi nilai negatifnya pada problem mental, inklusif-progresif, mempertanyakan agama-otentik, memiliki nilai sendiri yang berbeda dengan generasi tua.

Negara bertanggung jawab dalam mengawasi seluruh aktivitas media, mulai dari segi pengelolaan, batas penggunaan, batas konten dan lainnya.Jika negara tidak pandai dalam mengawasi, maka yang terjadi ialah kerusakan generasi dan menurunnya kualitas generasi seperti saat ini. Pergerakan cenderung pragmatis, mencari validasi, karakteristik digital natif.

Islam Solusinya

Dalam persoaalan ini akan selesai jika dihadirkannya negara khilafah yang fungsi utamnya adalah sebgai ‘raa’in'(pengurus urusan rakyat) dan ‘junnah'(pelindung).

Sabda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, “Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu (laksana) perisai yang (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sangat penting untuk menyelamatkan generasi dari pengaruh hegemoni ruang digital yang sekuler kapitalistik.Salah satu cara menyelamatkan mereka dengan mengubah paradigma berpikir sekuler menjadi paradigma berpikir Islam.

Pelindungan yang nyata tidak hanya berlaku didunia maya saja, tetapi pada ruang lingkup digital yang saat ini menjamur dikalangan anak muda.Dengan visi ideologis yang jelas, Khilafah memastikan bahwa setiap kebijakan digital, pendidikan, dan informasi selalu berpihak pada penjagaan akidah, akhlak, dan intelektualitas umat.

Pergerakan gen Z harus diarahkan untuk memberikan solusi sistemis dan ideologis berdasarkan paradigma Islam. Khalifah adalah sebuang negara yang berdiri tegak tapa bergantung pada negara asing termasuk dalam urusan bidang teknologi digital.

Negara secara mandiri mampu mengembangkan infrastruktur digital, perangkat lunak, keamanaan cyber dan teknologi lainnya untuk kebaikan Islam dan kaum muslim. Sehingga dalam dunia Pendidikan dikukung penuh oleh negara dalam hal riset dan inovasi.

Dalam pengelolaan ruang digital, negara akan melakukan seleksi ketat terhadap seluruh konten yang dapat merusak akidah, kepribadian Islam, dan kehidupan sosial umat dengan teknologi cangih. Ruang digital akan diarahkan sebagai sarana Pendidikan Islam, penyebarluasan dakwah dan sebgai media propaganda negara untuk menunjukan kekuatan, peradapan, dan ketangguhan umat Islam kepada dunia.

Dalam hal ini Kerjasama keluarga, Masyarakat dan negara dibutuhkan untuk menyelamatkan generasi menuju pergerakan sesuai syariat Islam.Wallahualam bishshawwab.[]

Oleh: Fitri Susilowati
(Aktivis Muslimah)

Opini

×
Berita Terbaru Update