Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Gempuran Teknologi Kapitalis: Ancaman Serius bagi Mental Generasi

Selasa, 16 Desember 2025 | 04:58 WIB Last Updated 2025-12-15T21:58:42Z

TintaSiyasi.id -- Media digital hari ini bak ganja yang membuat semua orang kecanduan terutama generasi muda. Di mana sejak pandemi Covid-19 mempercepatan gerak digitalisasi dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik. Sehingga platfrom digital menjadi ruang tumbuh dalam pembentukan kesadaran terutama generasi muda. Mengutip daripada CNBC Indonesia (Sabtu, 29 November 2025), Global Overview mencatat sebanyak 98,7% penduduk Indonesia berusia enam belas tahun ke atas kini online melalui ponsel, dengan durasi rata-rata 7 jam 22 menit perhari. Ketergantungan ini membuat remaja semakin rentan terhadap resiko seperti pinjol, judol, kekerasan seksual, perundungan digital hingga meningkatnya kasus gangguan mental. 

Data Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), mencatat satu dari tiga remaja Indonesia memiliki masalah kesehatan mental. Semua ini harus kita pahami sebagai konsekuensi dari tatanan kehidupan sekuler kapitalistik yang melahirkan kapitalisme platfrom, yaitu dominasinya perusahaan teknologi besar yang memonopoli infrastruktur digital dunia. Dalam kapitalisme platfrom, data, algoritma, dan jaringan pengguna menjadi sumber utama keuntungan. Platfrom seperti Google, Meta, Tiktok, Shopee, Gojek, dan lainnya bukan hanya menyediakan layanan, tetapi membentuk pola kerja, konsumsi, interaksi sosial, hingga cara berpikir masyarakat. 

Hingga dominasi ini menciptakan hegemoni digital, yaitu situasi ketika platfrom tidak lagi sekedar alat, tetapi ruang yang membentuk kesadaran, menentukan tren, preferensi, dan cara memaknai realitas. Semua berlangsung tanpa kita merasa dipaksa, sebab digital hadir sebagai sesuatu yang praktis, cepat dan seolah tak tergantikan. Kekuasaan kini berpusat pada data dan algoritma, bukan lagi pabrik. Dan karena platfrom besar berasal dari negara sekuler barat, nilai-nilai sekuler menjadi fondasi mereka sehingga, agama dipaksa keluar dari ruang publik, sementara nilai individualisme dan liberalisme dianggap aman dan universal. 

Akibatnya, platfrom akan membentuk lobang-lobang dalam bentukan kepribadian Islam generasi Muslim, menjauhkan dari identitas dan profil generasi Muslim. Implikasinya, kegagalan dalam menyolusi semua persoalan kehidupan, memunculkan kondisi batin khawatir akan yang belum terjadi, dan sedih terhadap apa yang sudah terjadi. Ini adalah pra-kondisi depresi yang masuk spektrum isu kesehatan mental. Gangguan kesehatan mental akan berpengaruh langsung pada cara seseorang berpikir, merasakan, dan bertindak. Jika tidak ditangani, depresi dapat merusak fondasi perkembangan generasi — baik pada aspek psikologis, sosial, maupun fisik — serta menghambat potensi jangka panjangnya.

Menyelamatkan generasi dari pengaruh buruk hegemoni digital adalah tugas setiap Muslim. Dominasi platfrom teknologi raksasa yang sekuler tidak bisa ditangani hanya dengan memblokir konten, karena algoritma mereka terus menghasilkan arus informasi yang menjauhkan manusia dari nilai-nilai Islam. Negara hari ini yang berbasis sistem sekuler hanya mengurangi dampak negatifnya, bukan menghentikan akar masalahnya karena meraka juga bergantung pada industri digital tersebut.

Karena itu, diperlukan kekuatan politik yang benar-benar berpihak pada kemaslahatan manusia. Dalam hal ini khilafah hadir sebagai sistem yang mampu membangun teknologi dan ekosistem digital mandiri yang melindungi umat dari kerusakan moral dan budaya. Upaya ini bukan sekadar mengatur ruang maya, tetapi menanamkan literasi digital berbasis nilai Islam melalui pendidikan, dakwah, dan penguatan karakter. Algoritma dan konten digital akan diarahkan pada kebaikan, ilmu, dan pembinaan umat, bukan sekadar hiburan tanpa arah.

Selain itu, Khilafah akan mengambil kebijakan konkret, seperti mengawasi dan menyaring ketat seluruh konten agar sesuai syariat, membatasi platform yang boleh beroperasi, menetapkan batas usia penggunaan media sosial, serta mengatur penggunaan AI agar tidak memberikan dampak buruk bagi generasi.

Sebelum sistem itu terwujud, umat memikul kewajiban untuk berdakwah dan mempersiapkan generasi—terutama pemuda—agar memiliki identitas kuat dan kesiapan menjadi agen perubahan. Allah memerintahkan umat untuk membentuk kelompok yang menyeru kepada kebaikan, sebagaimana termaktub dalam QS. Ali Imran: 104. Dengan pembinaan yang benar, potensi pemuda dapat menjadi motor kebangkitan yang mendorong tegaknya kembali peradaban Islam. Wallahu a'lam. []


Oleh: Tsabitah Dien
Aktivis Muslimah

Opini

×
Berita Terbaru Update