"Temuan empiris menemukan bahwa fungsi ekologis
dari aliran sungai atau daerah aliran sungai telah runtuh, fungsi-fungsinya
telah runtuh. Hal ini menegaskan intensitas dan skala kerusakan bukan karena
anomali cuaca atau anomali alam, tetapi karena konsekuensi sistemis dari
kebijakan tren pembangunan yang berbasis eksploitasi," ucapnya di kanal YouTube
One Ummah TV; Dari Krisis Ekologis ke Solusi Ideologis, Jumat
(26/12/2025).
Alhasil, ia menegaskan, eksploitasi mengakibatkan
akumulasi gelondongan kayu di sungai, tingkat sedimentasi yang tinggi,
perubahan drastis pola aliran sungai, dan hilangnya tutupan hutan secara masif
di hulu.
"Bagaimana logika berpikirnya? Begini, kalau kita
melihat hutan ini spons raksasa, coba bayangkan saat asah-asah (mencuci)
di rumah. Di bagian bawah hijau keras dan atasnya sponsnya begitu ada air masuk
dia di serap. Tetapi coba anda bayangkan ketika sponsnya dihilangkan, apa yang
terjadi, ya sudah kerasnya saja, jadi gak bisa nyerap," terangnya.
Lebih lanjut, ia memaparkan seperti diungkap Dr. Hatma
bahwasanya hutan sehat itu ketika air hujan turun maka 35 persen air hujan akan
ditangkap oleh tutupan daun. “Tutupan daun-daun akan menangkap air yang turun
dari atas sebanyak 35 persen dan kemudian 55 persennya akan diserap oleh
akar-akar pohon di hutan hujan tropis,” bebernya.
"Sehingga sisanya 10 persen itu akan mengalir di
permukaan, pelan-pelan menuju sungai sehingga tidak terjadi longsor. Kenapa?
Karena hutannya masih dalam kondisi yang sehat," paparnya.
Sehingga, ia memandang, beda persoalan apabila hutan
dalam kondisi rusak, maka air hujan akan langsung menghantam ke tanah.
"Tidak ada penahan 35 persen, tidak ada tarikan ke bawah 55 persen, hampir
sebagian besarnya akan mengalir ke permukaan. Selesailah," keluhnya.
"Ini sudah sangat logis ya, tidak perlu teori
ilmiah muter-muter. Dengan proses ini saja sudah menggambarkan jelas bahwa
problematik daerah aliran sungai kita ada problematik hutan terkait dengan
serapan air yang muncul dari atas," tambahnya menegaskan.
Adapun, Agung melihat perkebunan sawit membentang dari
Aceh hingga Sumatra Barat, kemudian ada pertambangan. “Tanpa berpikir terlalu
rumit, keberadaan perkebunan sawit sudah menggambarkan bagaimana munculnya
deforestasi,” lugasnya.
"Penghilangan tutupan lahan secara sengaja oleh
apa? Oleh perkebunan sawit secara luas, oleh pertambangan, ini clear. 34
tahun deforestasi, tahun 1990 sampai 2024, data dari Kompas, jumlah
total perubahan deforestasi ini adalah 1,2 juta hektare. Terlalu rumit
membayangkannya, coba kita bayangkan 1,2 juta hektare itu adalah dua kalinya Pulau
Bali," pungkasnya.[] Taufan
