Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

DAS Sumatra Runtuh, Analis: Konsekuensi Pembangunan Berbasis Eksploitasi

Rabu, 31 Desember 2025 | 06:55 WIB Last Updated 2025-12-30T23:55:49Z

TintaSiyasi.id -- Berdasarkan pendapat dosen Universitas Gajah Mada (UGM) Dr. Hatma Suryatmojo bahwa secara empiris menemukan daerah aliran sungai (DAS) telah runtuh di Sumatra,  Analis Politik dan Ekonomi Agung Wisnuwardana menyebut hal itu sebagai konsekuensi sistemis dari kebijakan tren pembangunan yang berbasis eksploitasi.

 

"Temuan empiris menemukan bahwa fungsi ekologis dari aliran sungai atau daerah aliran sungai telah runtuh, fungsi-fungsinya telah runtuh. Hal ini menegaskan intensitas dan skala kerusakan bukan karena anomali cuaca atau anomali alam, tetapi karena konsekuensi sistemis dari kebijakan tren pembangunan yang berbasis eksploitasi," ucapnya di kanal YouTube One Ummah TV; Dari Krisis Ekologis ke Solusi Ideologis, Jumat (26/12/2025).

 

Alhasil, ia menegaskan, eksploitasi mengakibatkan akumulasi gelondongan kayu di sungai, tingkat sedimentasi yang tinggi, perubahan drastis pola aliran sungai, dan hilangnya tutupan hutan secara masif di hulu.

 

"Bagaimana logika berpikirnya? Begini, kalau kita melihat hutan ini spons raksasa, coba bayangkan saat asah-asah (mencuci) di rumah. Di bagian bawah hijau keras dan atasnya sponsnya begitu ada air masuk dia di serap. Tetapi coba anda bayangkan ketika sponsnya dihilangkan, apa yang terjadi, ya sudah kerasnya saja, jadi gak bisa nyerap," terangnya.

 

Lebih lanjut, ia memaparkan seperti diungkap Dr. Hatma bahwasanya hutan sehat itu ketika air hujan turun maka 35 persen air hujan akan ditangkap oleh tutupan daun. “Tutupan daun-daun akan menangkap air yang turun dari atas sebanyak 35 persen dan kemudian 55 persennya akan diserap oleh akar-akar pohon di hutan hujan tropis,” bebernya.

 

"Sehingga sisanya 10 persen itu akan mengalir di permukaan, pelan-pelan menuju sungai sehingga tidak terjadi longsor. Kenapa? Karena hutannya masih dalam kondisi yang sehat," paparnya.

 

Sehingga, ia memandang, beda persoalan apabila hutan dalam kondisi rusak, maka air hujan akan langsung menghantam ke tanah. "Tidak ada penahan 35 persen, tidak ada tarikan ke bawah 55 persen, hampir sebagian besarnya akan mengalir ke permukaan. Selesailah," keluhnya.

 

"Ini sudah sangat logis ya, tidak perlu teori ilmiah muter-muter. Dengan proses ini saja sudah menggambarkan jelas bahwa problematik daerah aliran sungai kita ada problematik hutan terkait dengan serapan air yang muncul dari atas," tambahnya menegaskan.

 

Adapun, Agung melihat perkebunan sawit membentang dari Aceh hingga Sumatra Barat, kemudian ada pertambangan. “Tanpa berpikir terlalu rumit, keberadaan perkebunan sawit sudah menggambarkan bagaimana munculnya deforestasi,” lugasnya.

 

"Penghilangan tutupan lahan secara sengaja oleh apa? Oleh perkebunan sawit secara luas, oleh pertambangan, ini clear. 34 tahun deforestasi, tahun 1990 sampai 2024, data dari Kompas, jumlah total perubahan deforestasi ini adalah 1,2 juta hektare. Terlalu rumit membayangkannya, coba kita bayangkan 1,2 juta hektare itu adalah dua kalinya Pulau Bali," pungkasnya.[] Taufan

Opini

×
Berita Terbaru Update