Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Aktivis Malaysia: Penyebab Korupsi Bukan Hanya Ketakwaan Individu.

Sabtu, 27 Desember 2025 | 21:38 WIB Last Updated 2025-12-27T14:38:56Z

TintaSiyasi.id -- Aktivis Muslim Malaysia Ustaz Abdul Hakim Othman menyatakan bahwa penyebab korupsi bukan hanya ketakwaan individu semata.

 

“Pertanyaannya adalah, adakah tindak pidana korupsi ini, penyebab korupsi ini, hanya ketakwaan individu saja? Jadi jawabannya pasti tidak,” katanya dalam program Kupas Tuntas Bersama Jurucakap HTM yang berjudul Demokrasi: Sistem yang Memicu Korupsi, Jumat (28/11/2025).

 

“Jadi, jika ada orang yang mengatakan ini hanya tindak pidana individu saja, tidak ada hubungannya dengan hal-hal lain, kita dapat membantah pendapat tersebut,” tegasnya.

 

Ia mengakui bahwa hilangnya ketakwaan kepada Allah Swt. merupakan faktor utama terjadinya korupsi.

 

“Ketakwaan individu merupakan faktor utama terjadinya korupsi. Hilangnya ketakwaan, tidak ada rasa takut kepada Allah Swt. pada individu, maka individu tersebut dapat melakukan dosa apa pun termasuk korupsi,” jelasnya.

 

Ia menunjukkan bahwa kepemimpinan negara atau bahkan politisi yang terlibat korupsi memang berkaitan dengan hilangnya ketakwaan dalam diri mereka sendiri.

 

"Mereka memegang jabatan dengan pengkhianatan. Mereka tidak dapat dipercaya dalam memegang jabatan," katanya.

 

Namun, ia menambahkan, korupsi juga terjadi sebagai akibat dari mentalitas bahwa korupsi adalah hal yang normal.

 

“Karena hal itu sudah terbiasa di negara ini atau bahkan di lingkungan kerja, lingkungan politik yang menerima korupsi, sehingga menerima korupsi dianggap sebagai sesuatu yang normal. Mereka yang tidak menerima atau tidak memberikan suap dianggap aneh,” jelasnya.

 

Ia melanjutkan, lingkungan kerja juga memengaruhi individu untuk terjerat dalam korupsi.

 

“Jika lingkungan kerja korup, teman-teman di sekitarnya benar-benar menerima suap, sehingga ia akan terjerat dalam hal yang sama,” katanya.

 

Ia juga percaya bahwa ragam birokrasi di sektor pemerintahan, yang merupakan sistem administrasi berlapis dan tidak efisien, hal itu juga merupakan faktor penyebab.

 

“Ragam birokrasi di pemerintahan itu sendiri, karena ada sistem persetujuan dari pemerintah, mereka yang berkuasa memiliki hak untuk menyetujui,” sebutnya.

 

“Jadi orang-orang menginginkan sesuatu, ingin memberikan persetujuan, mereka menyalahgunakan posisi mereka untuk mendapatkan pembayaran yang dikenal sebagai korupsi,” imbuhnya.

 

Ia menambahkan bahwa korupsi juga berkembang karena lemahnya penegakan hukum.

 

“Lemahnya penegakan hukum juga menjadi faktor dalam penyebaran korupsi. Orang yang mencuri susu untuk diberikan kepada anak-anaknya akan dihukum 10 tahun penjara, mereka yang menerima suap miliaran akan dihukum tiga tahun penjara,” jelasnya.

 

Ia mengungkapkan bahwa sistem yang mengatur negara juga merupakan faktor dalam pertumbuhan korupsi.

 

“Sistem yang mengatur dan sistem yang memerintah negara ini adalah sistem demokrasi sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, jadi siapa pun yang mengendalikan sistem ini tidak perlu memerintah dengan agama, karena pemerintahan memang terpisah dari agama,” katanya.

 

Ia menambahkan bahwa itulah mengapa korupsi terjadi di antara individu-individu di pemerintahan, dari tingkat terendah hingga tingkat tertinggi.

 

“Para Perdana Menteri sebelumnya telah terbukti menerima korupsi. Jadi itu terjadi di semua tingkatan,” katanya.

 

Ia juga menyatakan bahwa sistem demokrasi juga menyebabkan korupsi berkembang, sehingga korupsi menjadi skandal besar.

 

“Korupsi ini telah menjadi seperti sebuah industri, industri korupsi. Begitu banyak pihak yang terlibat dan segala macam hal menjadi rumit hingga kasus korupsi muncul. Jadi, bukan hanya muncul begitu saja, tetapi ada skandal,” tegasnya.

 

Lanjut dikatakan, korupsi tidak dapat dipisahkan dari sistem atau ideologi yang memengaruhi seseorang, yaitu ideologi kapitalis.

 

“Saya meminta korupsi, saya mendapat keuntungan, halal atau haram saya tidak peduli, yang penting mendapat uang meskipun uang itu haram. Begitulah cara berpikir kapitalisme,” pungkasnya.[] Syamsiyah Jamil

Opini

×
Berita Terbaru Update