TintaSiyasi.id -- Aktivis Muslim Malaysia Ustaz Abdul Hakim Othman menyatakan bahwa penyebab korupsi bukan hanya ketakwaan individu semata.
“Pertanyaannya adalah, adakah tindak pidana korupsi
ini, penyebab korupsi ini, hanya ketakwaan individu saja? Jadi jawabannya pasti
tidak,” katanya dalam program Kupas Tuntas Bersama Jurucakap HTM yang
berjudul Demokrasi: Sistem yang Memicu Korupsi, Jumat (28/11/2025).
“Jadi, jika ada orang yang mengatakan ini hanya tindak
pidana individu saja, tidak ada hubungannya dengan hal-hal lain, kita dapat
membantah pendapat tersebut,” tegasnya.
Ia mengakui bahwa hilangnya ketakwaan kepada Allah Swt.
merupakan faktor utama terjadinya korupsi.
“Ketakwaan individu merupakan faktor utama terjadinya
korupsi. Hilangnya ketakwaan, tidak ada rasa takut kepada Allah Swt. pada
individu, maka individu tersebut dapat melakukan dosa apa pun termasuk
korupsi,” jelasnya.
Ia menunjukkan bahwa kepemimpinan negara atau bahkan
politisi yang terlibat korupsi memang berkaitan dengan hilangnya ketakwaan
dalam diri mereka sendiri.
"Mereka memegang jabatan dengan pengkhianatan.
Mereka tidak dapat dipercaya dalam memegang jabatan," katanya.
Namun, ia menambahkan, korupsi juga terjadi sebagai
akibat dari mentalitas bahwa korupsi adalah hal yang normal.
“Karena hal itu sudah terbiasa di negara ini atau
bahkan di lingkungan kerja, lingkungan politik yang menerima korupsi, sehingga
menerima korupsi dianggap sebagai sesuatu yang normal. Mereka yang tidak
menerima atau tidak memberikan suap dianggap aneh,” jelasnya.
Ia melanjutkan, lingkungan kerja juga memengaruhi
individu untuk terjerat dalam korupsi.
“Jika lingkungan kerja korup, teman-teman di
sekitarnya benar-benar menerima suap, sehingga ia akan terjerat dalam hal yang
sama,” katanya.
Ia juga percaya bahwa ragam birokrasi di sektor
pemerintahan, yang merupakan sistem administrasi berlapis dan tidak efisien,
hal itu juga merupakan faktor penyebab.
“Ragam birokrasi di pemerintahan itu sendiri, karena
ada sistem persetujuan dari pemerintah, mereka yang berkuasa memiliki hak untuk
menyetujui,” sebutnya.
“Jadi orang-orang menginginkan sesuatu, ingin
memberikan persetujuan, mereka menyalahgunakan posisi mereka untuk mendapatkan
pembayaran yang dikenal sebagai korupsi,” imbuhnya.
Ia menambahkan bahwa korupsi juga berkembang karena
lemahnya penegakan hukum.
“Lemahnya penegakan hukum juga menjadi faktor dalam
penyebaran korupsi. Orang yang mencuri susu untuk diberikan kepada anak-anaknya
akan dihukum 10 tahun penjara, mereka yang menerima suap miliaran akan dihukum
tiga tahun penjara,” jelasnya.
Ia mengungkapkan bahwa sistem yang mengatur negara
juga merupakan faktor dalam pertumbuhan korupsi.
“Sistem yang mengatur dan sistem yang memerintah
negara ini adalah sistem demokrasi sekuler yang memisahkan agama dari
kehidupan, jadi siapa pun yang mengendalikan sistem ini tidak perlu memerintah
dengan agama, karena pemerintahan memang terpisah dari agama,” katanya.
Ia menambahkan bahwa itulah mengapa korupsi terjadi di
antara individu-individu di pemerintahan, dari tingkat terendah hingga tingkat
tertinggi.
“Para Perdana Menteri sebelumnya telah terbukti
menerima korupsi. Jadi itu terjadi di semua tingkatan,” katanya.
Ia juga menyatakan bahwa sistem demokrasi juga
menyebabkan korupsi berkembang, sehingga korupsi menjadi skandal besar.
“Korupsi ini telah menjadi seperti sebuah industri,
industri korupsi. Begitu banyak pihak yang terlibat dan segala macam hal
menjadi rumit hingga kasus korupsi muncul. Jadi, bukan hanya muncul begitu
saja, tetapi ada skandal,” tegasnya.
Lanjut dikatakan, korupsi tidak dapat dipisahkan dari
sistem atau ideologi yang memengaruhi seseorang, yaitu ideologi kapitalis.
“Saya meminta korupsi, saya mendapat keuntungan, halal
atau haram saya tidak peduli, yang penting mendapat uang meskipun uang itu
haram. Begitulah cara berpikir kapitalisme,” pungkasnya.[] Syamsiyah Jamil
