Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tragedi di Sudan, FIWS: Sebenarnya Perang antara Sesama Agen Amerika

Sabtu, 08 November 2025 | 12:50 WIB Last Updated 2025-11-08T05:50:22Z

TintaSiyasi.id -- Merespons tragedi di Sudan, Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS) Ustaz Farid Wadjdi menilai itu sesungguhnya adalah peperangan antara sesama antek-antek Amerika Serikat (AS).

"Perang ini yang tampak seperti perang antara tentara Sudan yang dipimpin oleh  Jenderal Abdel Fattah al-Burhan (SAF) dengan milisi cepat (RSF) yang dipimpin oleh Mohamed Hamdan Dagalo (Hemedti), sesungguhnya adalah perang antara sesama agen Amerika," tuturnya kepada TintaSiyasi.id pada Kamis (6/11/2025).

Ia menyebut, kota Al-Fashir, Darfur yang telah jatuh ke tangan RSF, ini merupakan bagian dari skenario AS untuk  memisahkan Darfur dari Sudan. Perang ini hanya menumpahkan darah rakyat Sudan demi proyek geopolitik.

Ini semua terjadi, lanjutnya, sebagai bentuk instruksi AS terhadap tentara binaannya (SAF dan RSF) yang berperan sebagai agen pelaksana.

"AS pada prinsipnya ingin membagi Sudan menjadi dua entitas kekuasaan. Seperti yang pernah mereka lakukan, telah berhasil memisahkan antara Sudan dengan Sudan Selatan pada tahun 2011. Sekarang AS ingin memisahkan Darfur dan menjadikannya wilayah otonom atau negara baru yang nanti benar-benar ada dalam pengaruhnya," bebernya.

Ia melihat, secara de facto Sudan telah terbagi menjadi dua kekuasaan, wilayah Timur dikuasai oleh Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) dan wilayah bagian Barat dikuasai oleh Pasukan Dukungan Cepat (RSF).

"Perlu dicatat ya, ini sebenarnya bukan kekalahan tentara Sudan (SAF) tetapi penyerahan. Jadi, tentara Sudan sengaja menarik diri dari Al-Fashir dengan alasan taktis. Demikian juga pemerintah al-Burhan itu tidak memberikan dukungan militer logistik kepada pasukan di Al-Fashir selama satu tahun penuh," ungkapnya. 

Ini kemudian menunjukkan, jelasnya, RSF yang telah mengambil alih Al-Fashir  bukanlah murni dari hasil kemenangan militer. "Singkatnya, kejatuhan Al-Fashir ini bukan sekedar kemenangan militer RSF tapi bagian dari rencana Amerika untuk memecah Sudan dan memisahkan Darfur. SAF dan RSF berperan sebagai agen pelaksana, sementara rakyat menjadi korban tentara-tentara yang brutal," jelasnya.

Menurutnya, adapun indikasi-indikasi keterlibatan AS bisa dilihat saat pertemuan Kuartet (yang terdiri dari Amerika Serikat, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Mesir) dengan pihak-pihak yang bertikai di Sudan (Angkatan Bersenjata Sudan/SAF dan Pasukan Dukungan Cepat/RSF) di Washington DC, AS. Pertemuan atau perundingan di Washington September 2025 lalu itu, membahas rencana genjatan senjata.

Ia menilai, poin penting yang harus diperhatikan dibalik rencana genjatan senjata itu ialah AS telah mengokohkan kekuasaan RSF di Darfur, kemudian setelah RSF menguasai Darfur, AS lalu mendorong penghentian perang untuk mencegah tentara SAF merebutnya kembali. Artinya, AS secara de facto telah mengakui pemerintahan separatis RSF di Darfur.

"Jadi, ini merupakan pelaksanaan dari berbagai kesepakatan yang dirancang oleh Amerika. Rencana ini mengakui kedua belah pihak, baik itu SAF dan RSF secara setara. Jadi bukan sebagai pemerintah dan pemberontak. Dan keputusan menyerahkan Al-Fashir itu sesungguhnya dibuat di Washington dan dilaksanakan di lapangan," pungkasnya.[]Tenira

Opini

×
Berita Terbaru Update