TintaSiyasi.id -- Jurnalis Muslim asal London Sami Hamdi ditahan oleh sekelompok yang mengaku agen ICE di AS pada tanggal 25 Oktober 2025 lalu.
Menurut Soumaya Hamdi, istri Sami
Hamdi, menuturkan bahwa suaminya menjadi target karena menyuarakan dukungan
untuk Palestina dan mengkritik Israel.
“Ia hanya seorang jurnalis. Ia hanya
menyuarakan dukungan untuk hak-hak Palestina dan mengkritik negara Israel yang
terus melancarkan genosida terhadap warga Palestina. Itulah yang menyebabkan
Sami menjadi target,“ ujarnya dalam video yang dirilis oleh Al-Jazeera
English, Ahad (09/11/2025).
Ia sangat yakin bahwa suaminya (Sami
Hamdi) telah ditahan tanpa pasal kriminal yang bisa disematkan.
Kantor imigrasi AS membawa Sami Hamdi
dari Bandara San Fransisco ketika aktivis pro Palestina itu sedang mengadakan
perjalanan dalam satu even lokal yang mengundangnya sebagai pembicara di
Amerikan Council-Islamic Relations.
“Ia sudah berada di negara itu (AS)
selama beberapa hari. Kejadian ini terjadi ketika dalam persiapan untuk
penerbangan domestik berikutnya dari San Fransisco ke Florida. Penangkapnya
dari agen ICE yang berpakain preman. Mereka katakan mereka dari ICE,” lanjut
Soumaya.
Para agen ICE tersebut mengatakan
kepada Sami Hamdi bahwa visanya telah dibekukan secara tibai-tiba. Sami meminta
untuk langsung terbang ke London saat itu juga, akan tetapi justru para agen
ICE membawanya dengan penutup kepala hitam.
Soumaya mengakui bahwa kabar
penahanan suaminya diperoleh dari seorang teman melalui via telepon dengan
mengatakan bahwa Sami telah diculik.
Para pendukungnya mengatakan
penahanan Sami adalah tentang kritik di ruang publik atas genosida yang
dilancarkan oleh Israel terhadap Gaza. Sehingga membuat suami Soumaya Hamdi
jadi target dari kelompok Sayap Kanan yang memiliki hubungan dengan Gedung
Putih.
“Penahanan ini bukan hanya
kekhawatiran bagi saya, anak-anak saya, ibunya, ayahnya, saudara-saudaranya.
Tetapi juga seharusnya jadi kekhawatiran bagi warga Amerika yang katanya
menghargai Amandemen pertama mereka, yaitu menjunjung kebebasan berpendapat,”
tegas Soumaya Hamdi.
Namun ironis, Juru Bicara Departemen
Keamanan Dalam Negeri malah menuduh Sami Hamdi salah seorang pendukung teroris
dan turut gembira dengan peristiwa serangan 07 Oktober 2023 lalu terhadap Israel.
Tetapi pendukungnya mengatakan bahwa tuduhan itu adalah bagian dari balutan
kampanye kepentingan.
“Sami menjadi target secara esktrem. Saya
kira juga ampuh untuk menggembleng dukungan kampanye terselubung untuk hak-hak
Palestina, karena kritiknya terhadap negara Israel yang saya harus katakan,
sebagai pengingat untuk negara lain, ia telah diberlakukan layaknya seorang
kriminal dan mereka melempar berbagai tuduhan untuk melawannya,“ lanjut
Soumaya.
Seorang warga Inggris melaporkan
langsung bahwa Sami berada dalam ruang
tahanan yang berbagi dengan 80 tahanan lainnya dan telah menderita kesehatan
yang buruk. Dan menurut Soumaya, pengunjung lain kini merasa ketakutan
berkunjung ke AS.
“Coba bayangkan, Anda tahu pada World Cup 2026, Anda di sana
(AS). Berada di sana dalam beberapa hari,
dan diizinkan masuk. Segalanya baik. Lalu kemudian entah dari mana agen
ICE menargetkanmu dan berkata padamu, visa Anda telah dibekukan. Anda harus
ikut bersama kami,” bebernya.
Oleh karena itu, Soumaya menegaskan
kepada pemerintah AS agar segera membebaskan suaminya. Sebab menahan Sami Hamdi
adalah suatu kesalahan besar. Serta AS harus segera melakukan investigasi ICE
agar ditahan.
“Pemerintah AS harus membebaskan
Sami. Mereka telah melakukan kesalahan besar dan harus membebaskan Sami
secepatnya. Anggota Kongres harus menginvestigasi ICE ini untuk ditahan karena
mereka menciptakan sebuah tekanan berbahaya untuk ke depan dan bisa saja
terhadap warga AS juga,” pungkasnya.[] M. Siregar
