Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Dr. Abdul Wahid: Tekanan Akan Berada di Pundak Zohran Mamdani untuk Menyesuaikan Diri

Sabtu, 15 November 2025 | 21:50 WIB Last Updated 2025-11-15T14:52:38Z

TintaSiyasi.id -- Zohran Mamdani, kandidat walikota terpilih untuk Kota New York yang mengantongi lebih dari 50 persen suara pemilih dengan melakukan kudeta politik.

 

Menanggapi kemenangan Zohran, Muslim Intelektual Inggris Dr. Abdul Wahid mengatakan bahwa Zohran akan mengalami banyak tekanan di pundaknya untuk menyesuaikan diri dalam sistem pemerintahan.

 

“Tekanan akan berada di pundak Mamdani untuk menyesuaikan diri. Ia dan para pendukungnya pasti akan berpendapat bahwa hal ini perlu dilakukan setelah ia terpilih. Begitulah cara kerja sistem ini,” ujarnya dalam Restack dengan judul Zohran Mamdani Pulls off a Political Coup, But Get a Grip, He isn’t the Messiah, Rabu (05/11/2025).

 

Oleh karena itu, Mamdani bukanlah seorang Mesias, juru selamat bagi kaum Muslim khususnya di New York.

 

Tidak bisa dipungkiri adanya hiperbola menyelimuti politisi di New York dan berbagai negeri pendukung Mamdani. Sayangnya mereka gagal menyadari bahwa sistem yang akan menuntun Mamdani memimpin adalah sistem yang justru akan membatasinya untuk banyak bertindak, sehingga jalan satu-satunya hanyalah bersedia menyesuaikan diri di dalamnya.

 

Tidak diragukan lagi, lanjut Wahid bahwa Zohran Mamdani telah melakukan kudeta politik yang luar biasa. Wali kota termuda dalam lebih dari 100 tahun, di era ketika presiden petahana berusia 79 tahun, sementara pendahulunya berusia 82 tahun.

 

Zohran juga menjadi wali kota Muslim pertama di kota yang mencitraburukkan umat Muslim pasca 9/11, dan di negara yang banyak orangnya tidak bisa menoleransi presiden non-Muslim dengan nama yang terdengar seperti Muslim.

 

“Ia seperti seorang pembangkang yang berhasil menyatukan seluruh kubu Demokrat dan Rebublik yang seharusnya melawan,” lanjutnya.

 

Tak diragukan lagi, katanya, dalam hal ini  Zohran telah memperoleh  pencapaian besar. Pada pertengahan Januari 2025, ia hanya meraih 1 persen suara dalam jajak pendapat.

 

Namun, pada bulan November, perolehan suaranya mencapai 50 persen, setara dengan dua kemenangan Michael Bloomberg dalam pemilihan wali kota, meskipun ia berhadapan dengan mantan wali kota dari Partai Demokrat yang meraih 41 persen suara.

 

Apa Rahasia Kemanangan Zohran?

 

Selain karismanya yang nyata sebagai pembicara,  Abdul Wahid mengatakan bahwa Mamdani melakukan dua hal yang sangat mirip dengan rival politiknya Donald Trump.

 

Pertama, ia melawan kemapanan di partainya sendiri yang menganggapnya sebagai elemen jahat. Partai politik arus utama—atau lebih tepatnya arus utama dalam partai politik AS—adalah dua sisi mata uang yang sama. Ada partai Kapitalis Merah dan Biru yang meyakini hegemoni AS di seluruh dunia,” ungkap Abdul Wahid.

 

Selama beberapa dekade, perbedaan antara keduanya hanya  tidak substansial—dan banyak orang di Amerika telah kehilangan kepercayaan pada 'arus utama' ini.

 

Kedua, Zohran menanggapi kekhawatiran rakyat dengan cara yang terlalu jujur bagi kalangan elite partai, menarik bagi banyak orang yang merasa kehilangan hak pilih di masa lalu. Ada gaung Jeremy Corbyn dan gerakan Momentum di Inggris.

 

Mamdani Berani Berbicara tentang Israel dan Palestina

 

Penolakan terbuka Mamdani untuk mengunjungi Israel atau untuk mendukung narasi pendudukan Zionis atas Palestina dalam konflik tersebut—alih-alih kehilangan dukungan, ia justru mendapatkan rasa hormat dari masyarakat luas. Para penentangnya yang 'berkuasa' mencoba—dan gagal—menggunakan hal itu sebagai senjata untuk menyerangnya.

 

“Penolakannya untuk mengutuk pernyataan seperti 'Globalisasikan Intifada' dan 'Dari Sungai ke Laut' masuk akal bagi mereka yang tidak menerima penafsiran yang menyimpang yang dituduhkan oleh lawan-lawannya terhadap slogan-slogan tersebut, yang entah bagaimana secara keliru menyiratkan bahwa mereka menyerukan pembunuhan massal terhadap orang-orang Yahudi,” lanjutnya.

 

“Tolong jangan Obama Kami!”

 

Namun banyak dari mereka yang menyambut kemenangannya kini mulai mengungkapkan kekhawatiran bahwa Zohran mungkin akan bernasib sama seperti Barack Obama - berkampanye dengan puisi, tetapi memerintah dengan prosa brutal - dan meninggalkan para pendukungnya yang kecewa dan merasa kepercayaan mereka dikhianati.

 

Mereka sudah merasakan bahwa semakin dekat Mamdani dengan kemenangan, retorikanya semakin bergeser ke arah pendekatan "Zionis liberal" alih-alih pendekatan anti-Zionis.

 

“Beberapa orang akan mengatakan bahwa ini karena sebagai wali kota, ia harus menjadi wali kota bagi seluruh warga New York. Meskipun hal itu memang benar, seharusnya ya  tidak perlu menganut pandangan seluruh warga New York untuk menjadi politisi yang adil dan memerintah,” terangnya lanjut.

 

Kredo Tak Tertulis Politik Barat

 

Barat memiliki keyakinan politik yang tidak tertulis dengan pilar-pilar tertentu, dan tidak dapat dinegosiasikan. Akan tetapi memiliki kemungkinan variatif dari satu tempat ke tempat lain dalam tingkatan tertentu, tetapi tidak pernah pada prinsipnya.

 

Beberapa kredo yang tidak tertulis yang dimaksud Abdul Wahid diantaranya adalah bahwa masyarakat Barat sekuler memahami agama harus dibatasi pada ranah pribadi.

 

“Politisi Amerika dapat menyuarakan afiliasi dan keyakinan agama mereka, tetapi hal itu tidak boleh memengaruhi kebijakan eksekutif mereka,” terangnya.

 

Selanjutnya adalah terkait supremasi negara bangsa. Amerika adalah negara utama yang bisa menentukan benar atau salah bagi negara-negara di dunia.

 

Begitupun dengan sektor ekonomi yang menganut kapitalisme. Dengan kata lain, tidak ada politisi yang dapat melampaui batas tertentu untuk memengaruhi kepentingan pengusaha di Amerika.

 

Bahkan secara norma sosial Barat, Mamdani tidak bisa menolak untuk menerimanya.

 

“Secara terbuka Mamdani mendukung hal ini, bahkan mendukung 'hak trans' dalam pidato kemenangannya,” tegas Abdul Wahid.

 

Kekuatan yang Membuat Setiap Politisi Harus Menyesuaikan Diri

 

Negara demokrasi sekuler memiliki banyak mekanisme yang melindungi pilar-pilar politiknya. Sistem kepartaian adalah salah satunya.

 

“Ini yang dipelajari Jeremy Corbyn selama masa ia masih menjabat. Kemudian  partai memecatnya pertama dari kepemimpinan dan kemudian dari partai sepenuhnya,” Abdul Wahid mengatakan.

 

Selain itu, eksekutif sangat untuk bernegosiasi dengan badan politik lain untuk mencapai tujuan mereka.

 

Di tingkat lokal, Walikota New York harus bekerja sama dengan Dewan Kota New York (yang menyetujui anggaran, mengonfirmasi penunjukan penting, mengawasi penggunaan lahan), Pengawas Keuangan (pengawas fiskal anggaran perumahan) dan lain-lain.[] M. Siregar

Opini

×
Berita Terbaru Update