Menanggapi kemenangan Zohran, Muslim Intelektual
Inggris Dr. Abdul Wahid mengatakan bahwa Zohran akan mengalami banyak tekanan
di pundaknya untuk menyesuaikan diri dalam sistem pemerintahan.
“Tekanan akan berada di pundak
Mamdani untuk menyesuaikan diri. Ia dan para pendukungnya pasti akan
berpendapat bahwa hal ini perlu dilakukan setelah ia terpilih. Begitulah cara
kerja sistem ini,” ujarnya dalam Restack dengan judul Zohran Mamdani
Pulls off a Political Coup, But Get a Grip, He isn’t the Messiah, Rabu
(05/11/2025).
Oleh karena itu, Mamdani bukanlah
seorang Mesias, juru selamat bagi kaum Muslim khususnya di New York.
Tidak bisa dipungkiri adanya
hiperbola menyelimuti politisi di New York dan berbagai negeri pendukung
Mamdani. Sayangnya mereka gagal menyadari bahwa sistem yang akan menuntun
Mamdani memimpin adalah sistem yang justru akan membatasinya untuk banyak
bertindak, sehingga jalan satu-satunya hanyalah bersedia menyesuaikan diri di
dalamnya.
Tidak diragukan lagi, lanjut Wahid
bahwa Zohran Mamdani telah melakukan kudeta politik yang luar biasa. Wali kota
termuda dalam lebih dari 100 tahun, di era ketika presiden petahana berusia 79
tahun, sementara pendahulunya berusia 82 tahun.
Zohran juga menjadi wali kota Muslim
pertama di kota yang mencitraburukkan umat Muslim pasca 9/11, dan di negara
yang banyak orangnya tidak bisa menoleransi presiden non-Muslim dengan nama
yang terdengar seperti Muslim.
“Ia seperti seorang pembangkang yang
berhasil menyatukan seluruh kubu Demokrat dan Rebublik yang seharusnya
melawan,” lanjutnya.
Tak diragukan lagi, katanya, dalam
hal ini Zohran telah memperoleh pencapaian besar. Pada pertengahan Januari
2025, ia hanya meraih 1 persen suara dalam jajak pendapat.
Namun, pada bulan November, perolehan
suaranya mencapai 50 persen, setara dengan dua kemenangan Michael Bloomberg
dalam pemilihan wali kota, meskipun ia berhadapan dengan mantan wali kota dari
Partai Demokrat yang meraih 41 persen suara.
Apa Rahasia Kemanangan Zohran?
Selain karismanya yang nyata sebagai
pembicara, Abdul Wahid mengatakan bahwa
Mamdani melakukan dua hal yang sangat mirip dengan rival politiknya Donald
Trump.
“Pertama, ia melawan kemapanan
di partainya sendiri yang menganggapnya sebagai elemen jahat. Partai politik
arus utama—atau lebih tepatnya arus utama dalam partai politik AS—adalah dua
sisi mata uang yang sama. Ada partai Kapitalis Merah dan Biru yang meyakini
hegemoni AS di seluruh dunia,” ungkap Abdul Wahid.
Selama beberapa dekade, perbedaan
antara keduanya hanya tidak
substansial—dan banyak orang di Amerika telah kehilangan kepercayaan pada 'arus
utama' ini.
Kedua, Zohran
menanggapi kekhawatiran rakyat dengan cara yang terlalu jujur bagi kalangan
elite partai, menarik bagi banyak orang yang merasa kehilangan hak pilih di
masa lalu. Ada gaung Jeremy Corbyn dan gerakan Momentum di Inggris.
Mamdani Berani Berbicara tentang Israel
dan Palestina
Penolakan terbuka Mamdani untuk
mengunjungi Israel atau untuk mendukung narasi pendudukan Zionis atas Palestina
dalam konflik tersebut—alih-alih kehilangan dukungan, ia justru mendapatkan
rasa hormat dari masyarakat luas. Para penentangnya yang 'berkuasa' mencoba—dan
gagal—menggunakan hal itu sebagai senjata untuk menyerangnya.
“Penolakannya untuk mengutuk
pernyataan seperti 'Globalisasikan Intifada' dan 'Dari Sungai ke Laut' masuk
akal bagi mereka yang tidak menerima penafsiran yang menyimpang yang dituduhkan
oleh lawan-lawannya terhadap slogan-slogan tersebut, yang entah bagaimana
secara keliru menyiratkan bahwa mereka menyerukan pembunuhan massal terhadap
orang-orang Yahudi,” lanjutnya.
“Tolong jangan Obama Kami!”
Namun banyak dari mereka yang
menyambut kemenangannya kini mulai mengungkapkan kekhawatiran bahwa Zohran
mungkin akan bernasib sama seperti Barack Obama - berkampanye dengan puisi,
tetapi memerintah dengan prosa brutal - dan meninggalkan para pendukungnya yang
kecewa dan merasa kepercayaan mereka dikhianati.
Mereka sudah merasakan bahwa semakin
dekat Mamdani dengan kemenangan, retorikanya semakin bergeser ke arah
pendekatan "Zionis liberal" alih-alih pendekatan anti-Zionis.
“Beberapa orang akan mengatakan bahwa
ini karena sebagai wali kota, ia harus menjadi wali kota bagi seluruh warga New
York. Meskipun hal itu memang benar, seharusnya ya tidak perlu menganut pandangan seluruh warga
New York untuk menjadi politisi yang adil dan memerintah,” terangnya lanjut.
Kredo Tak Tertulis Politik Barat
Barat memiliki keyakinan politik yang
tidak tertulis dengan pilar-pilar tertentu, dan tidak dapat dinegosiasikan.
Akan tetapi memiliki kemungkinan variatif dari satu tempat ke tempat lain dalam
tingkatan tertentu, tetapi tidak pernah pada prinsipnya.
Beberapa kredo yang tidak tertulis
yang dimaksud Abdul Wahid diantaranya adalah bahwa masyarakat Barat sekuler
memahami agama harus dibatasi pada ranah pribadi.
“Politisi Amerika dapat menyuarakan
afiliasi dan keyakinan agama mereka, tetapi hal itu tidak boleh memengaruhi
kebijakan eksekutif mereka,” terangnya.
Selanjutnya adalah terkait supremasi
negara bangsa. Amerika adalah negara utama yang bisa menentukan benar atau
salah bagi negara-negara di dunia.
Begitupun dengan sektor ekonomi yang
menganut kapitalisme. Dengan kata lain, tidak ada politisi yang dapat melampaui
batas tertentu untuk memengaruhi kepentingan pengusaha di Amerika.
Bahkan secara norma sosial Barat,
Mamdani tidak bisa menolak untuk menerimanya.
“Secara terbuka Mamdani mendukung hal
ini, bahkan mendukung 'hak trans' dalam pidato kemenangannya,” tegas Abdul
Wahid.
Kekuatan yang Membuat Setiap Politisi
Harus Menyesuaikan Diri
Negara demokrasi sekuler memiliki
banyak mekanisme yang melindungi pilar-pilar politiknya. Sistem kepartaian
adalah salah satunya.
“Ini yang dipelajari Jeremy Corbyn
selama masa ia masih menjabat. Kemudian
partai memecatnya pertama dari kepemimpinan dan kemudian dari partai
sepenuhnya,” Abdul Wahid mengatakan.
Selain itu, eksekutif sangat untuk
bernegosiasi dengan badan politik lain untuk mencapai tujuan mereka.
Di tingkat lokal, Walikota New York
harus bekerja sama dengan Dewan Kota New York (yang menyetujui anggaran,
mengonfirmasi penunjukan penting, mengawasi penggunaan lahan), Pengawas
Keuangan (pengawas fiskal anggaran perumahan) dan lain-lain.[] M. Siregar
