Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Selamat Hari Ayah: Renungan dan Terima Kasih yang Mendalam atas Perjuangan dan Keteladanan dalam Membina Keluarga

Kamis, 13 November 2025 | 16:08 WIB Last Updated 2025-11-13T09:08:40Z

TintaSiyasi.id -- Dalam kehidupan ini, ada satu sosok yang sering kali tak banyak bicara, namun langkahnya menjadi arah; yang jarang mengeluh, namun pengorbanannya tiada pernah surut; yang mungkin tak seterang sinar ibu dalam kelembutan, namun menjadi tiang kokoh tempat keluarga bersandar di kala ujian datang bertubi-tubi.

Dialah Ayah, sosok pejuang yang terkadang terlupakan, namun keberadaannya menjadi anugerah besar dari Allah SWT.

1. Ayah: Sosok yang Diam Namun Penuh Makna

Sering kali ayah hadir dalam diamnya. Ia tidak banyak mengekspresikan kasih sayang dengan kata-kata, namun menyalurkannya lewat kerja keras, tanggung jawab, dan keteguhan.
Ketika fajar masih berembun, ayah telah melangkah pergi mencari nafkah. Ketika malam tiba, ia masih menahan lelah demi memastikan keluarga tidur dengan tenang.

Allah SWT menggambarkan pentingnya peran ayah dan ibu dalam Al-Qur’an: “Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman: 14)

Ayah dan ibu adalah dua sisi kasih yang Allah hadirkan dalam kehidupan anak-anak. Ibu dengan kasih dan doanya, ayah dengan tanggung jawab dan perjuangannya. Keduanya sama-sama berkorban, namun dalam wujud yang berbeda.

2. Ayah: Guru Kehidupan dan Teladan Keluarga

Dalam Islam, ayah bukan sekadar pencari nafkah. Ia adalah murabbi, pendidik utama yang menanamkan nilai-nilai tauhid, akhlak, dan keteladanan.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ayah adalah pemimpin dalam rumah tangga. Ia bukan hanya penopang ekonomi, tetapi juga penuntun iman dan akhlak. Dari ayahlah anak belajar tentang tanggung jawab, disiplin, keberanian, dan keikhlasan.

Ketika seorang ayah menegakkan shalat, anak belajar bahwa hidup ini berpijak pada hubungan dengan Allah.

Ketika ayah jujur dalam berdagang, anak belajar tentang keadilan dan amanah.
Ketika ayah lembut kepada ibunya, anak belajar tentang cinta yang berlandaskan iman.

3. Perjuangan yang Tak Terlihat, Doa yang Tak Terdengar

Tak semua pengorbanan ayah bisa dilihat mata. Banyak perjuangan ayah yang tersembunyi dalam kesunyian.
Ia memendam letih demi anak-anaknya bisa bersekolah. Ia menahan rasa ingin menikmati dunia demi masa depan keluarga. Ia menanggung kekhawatiran, namun tetap menampakkan ketenangan agar rumah terasa aman.

Sungguh, pengorbanan ayah adalah amal saleh yang senyap, namun nilainya besar di sisi Allah. Rasulullah SAW bersabda:

“Sebaik-baik nafkah yang dibelanjakan oleh seorang laki-laki adalah nafkah untuk keluarganya.” (HR. Muslim)

Setiap butir keringat yang menetes karena mencari rezeki halal, setiap langkah yang ditempuh untuk membahagiakan keluarga, semuanya bernilai ibadah bila disertai niat lillahi ta‘ala.

4. Ayah dan Doa yang Tak Pernah Putus

Banyak anak tidak menyadari, bahwa di setiap malam, ada ayah yang menengadahkan tangan dalam hening, memohon kepada Allah agar anak-anaknya diberi keselamatan dan kemuliaan hidup.
Ia tak meminta apa-apa untuk dirinya, tapi segalanya untuk keluarganya.

Doa seorang ayah begitu mulia. Rasulullah SAW bersabda:

“Tiga doa yang tidak tertolak: doa orang tua (untuk anaknya), doa orang yang berpuasa ketika berbuka, dan doa orang yang teraniaya.” (HR. Tirmidzi)

Doa ayah menjadi benteng tak terlihat, pelindung yang menjaga anak-anak dari keburukan dunia. Maka betapa ruginya bila seorang anak mengabaikan bakti kepada ayahnya.

5. Saatnya Mengucap Terima Kasih dan Berbakti

Pada Hari Ayah ini, mari kita berhenti sejenak, menundukkan kepala, dan merenung.

Berapa kali kita mengucapkan terima kasih kepada ayah?

Berapa sering kita mendoakan kesehatannya?

Berapa banyak kita menyadari bahwa di balik keberhasilan kita hari ini, ada perjuangan panjang yang mungkin tak pernah disebutnya?

Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur’an: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka sebagaimana mereka telah mendidikku sejak kecil.’” (QS. Al-Isra’: 24)

Doa adalah bentuk bakti paling sederhana namun paling bermakna. Karena bisa jadi ayah kita tidak menginginkan hadiah mahal — cukup melihat anak-anaknya saleh, berbakti, dan istiqamah di jalan Allah, itu sudah menjadi kebahagiaan terbesar baginya.

6. Meneladani Semangat Ayah dalam Iman dan Kehidupan

Meneladani ayah bukan berarti meniru fisiknya, tapi meniru jiwa juangnya. Jadilah generasi yang kuat, sabar, bertanggung jawab, dan berpegang pada agama — seperti ayah yang setia mengajarkan kesederhanaan dan keteguhan.

Ayah mengajarkan bahwa hidup ini bukan tentang banyaknya harta, tapi tentang keberkahan. Bahwa sukses bukan diukur dari jabatan, tapi dari kerelaan hati untuk berjuang demi keluarga dan agama.

Penutup: Doa untuk Ayah

Ya Allah, ampunilah ayah kami, rahmatilah hidupnya, lapangkan rezekinya, kuatkan imannya, dan jadikan setiap langkahnya jalan menuju ridha-Mu.
Jika Engkau telah memanggilnya, maka terimalah ia dengan kasih-Mu, jadikan kuburnya taman dari taman-taman surga, dan satukan ka mi kembali dalam kebahagiaan abadi di surga-Mu.

Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

Ayah,
Engkau mungkin jarang berkata “aku cinta kalian,”
tapi hidupmu telah menerjemahkan cinta itu dalam bahasa pengorbanan yang tak ternilai.
Selamat Hari Ayah — semoga Allah selalu menjaga setiap langkah dan perjuanganmu.

Oleh. Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (12 November 2025 Hari Ayah)

Opini

×
Berita Terbaru Update