Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Pernikahan Hilang Makna, Saat Hidup Tak Lagi Berdasar Wahyu

Jumat, 14 November 2025 | 03:02 WIB Last Updated 2025-11-13T20:02:49Z

TintaSiyasi.id -- “Dulu pernikahan dianggap suci, kini perceraian dianggap solusi.” Kalimat ini mencerminkan wajah keluarga Muslim hari ini. Gelombang perceraian yang terus meningkat menandakan bahwa institusi keluarga yang seharusnya menjadi pilar peradaban kini rapuh diterpa arus sekularisme dan gaya hidup liberal.

Fakta yang Mengkhawatirkan

Angka perceraian di Indonesia terus menunjukkan tren meningkat. Data Kompas.id mencatat bahwa jumlah perkara perceraian melonjak dalam dua tahun terakhir, sementara angka pernikahan justru menurun. Kondisi ini menjadi bukti bahwa ketahanan keluarga di masyarakat modern semakin rapuh. (Kompas.id, 5 November 2025)

Fenomena cerai gugat juga meningkat tajam. Banyak perempuan kini merasa lebih mandiri secara ekonomi dan berani mengakhiri pernikahan ketika merasa tidak bahagia, menunjukkan pergeseran nilai dari ketundukan pada syariat menuju orientasi kepuasan pribadi. (VOI.id, 7 November 2025)

Lebih ironis lagi, Detik.com menyoroti fenomena “Yang Muda yang Bercerai”. Pasangan usia muda kini paling rentan bercerai karena lemahnya pemahaman agama, tekanan ekonomi, serta pengaruh gaya hidup digital yang menjauhkan mereka dari nilai sakral pernikahan.(Detik.com, 4 November 2025)

Akar Masalah: Sistem Sekuler Kapitalistik

Fenomena perceraian yang marak bukan semata akibat lemahnya cinta atau ekonomi, tetapi buah dari sistem kehidupan yang rusak sistem sekuler kapitalistik yang memisahkan agama dari kehidupan. Sistem ini menanamkan nilai kebebasan tanpa batas, materialisme, dan individualisme yang menghancurkan makna keluarga.

Dalam sistem sekuler, pendidikan gagal membentuk kepribadian Islam. Anak-anak tumbuh dengan orientasi duniawi, bukan ketakwaan. Sistem ekonomi kapitalis menekan keluarga dengan biaya hidup tinggi, membuat perempuan keluar rumah demi nafkah, sementara laki-laki kehilangan peran sebagai qawwam. Di sisi lain, sistem sosial liberal membuka pintu pergaulan bebas, perselingkuhan, dan gaya hidup hedonis.

Ketika iman tidak lagi menjadi fondasi rumah tangga, maka cinta pun kehilangan arah. Pernikahan hanya bertahan selama bahagia, dan perceraian menjadi “pintu keluar” dari masalah yang seharusnya diselesaikan dengan sabar dan iman.

Solusi Islam: Menegakkan Sistem Kaffah

Islam memiliki solusi yang menyeluruh dan ideologis. Keluarga dalam Islam bukan sekadar institusi sosial, melainkan ladang ibadah dan pondasi peradaban.

Pertama, sistem pendidikan Islam menanamkan aqidah dan akhlak sejak dini. Anak dididik memahami peran suami-istri sebagai amanah, bukan sekadar pilihan pribadi.

Kedua, sistem pergaulan Islam menjaga interaksi antara laki-laki dan perempuan agar tetap dalam koridor syariat. Tidak ada pacaran, tidak ada kebebasan yang menjerumuskan pada dosa.

Ketiga, sistem ekonomi Islam menjamin kesejahteraan keluarga dengan meniadakan riba, memerangi kemiskinan, dan memastikan nafkah menjadi tanggung jawab suami.

Keempat, sistem pemerintahan Islam (khilafah) menegakkan hukum Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Negara membina keluarga, menjaga moral publik, serta menindak setiap kemaksiatan yang merusak ketahanan sosial.

Dengan sistem ini, keluarga dibangun atas dasar iman dan tanggung jawab, bukan sekadar cinta dan keinginan. Suami menjadi pelindung, istri menjadi penenang, dan anak-anak tumbuh dalam lingkungan penuh kasih dan ketakwaan.

Keluarga Kuat, Generasi Tangguh

Krisis perceraian sejatinya adalah krisis ideologi. Selama manusia hidup di bawah sistem sekuler kapitalistik, keluarga akan terus rapuh dan generasi akan kehilangan arah.

Hanya Islam yang mampu mengembalikan pernikahan pada maknanya yang hakiki sebagai ibadah dan jalan menuju ridha Allah. Ketika Islam ditegakkan secara kaffah, pendidikan akan mencetak generasi beriman, ekonomi akan adil, dan masyarakat akan hidup dalam ketenangan.

Selama sistem sekuler kapitalistik tetap menjadi landasan kehidupan, perceraian akan terus meningkat, keluarga akan terus runtuh, dan anak-anak akan tumbuh tanpa arah.

Sudah saatnya umat sadar bahwa solusi bukan pada seminar keluarga atau terapi emosional, melainkan pada perubahan sistemik kembali pada aturan Allah secara menyeluruh.

Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit.” (TQS. Thaha [20]: 124)

Hanya dengan Islam kaffah, keluarga akan kembali kokoh, cinta kembali bermakna, dan generasi kembali tangguh dalam naungan ridha Allah SWT. []


Sera Alfi Hayunda
(Aktivis Muslimah)

Opini

×
Berita Terbaru Update