Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Menjadi Pengusaha Pejuang Islam: Dakwah, Ngaji, Bisnis, dan Keluarga Gaspol

Kamis, 13 November 2025 | 10:09 WIB Last Updated 2025-11-13T03:09:13Z
TintaSiyasi.id — Dalam dunia yang penuh hiruk-pikuk kompetisi dan materialisme, menjadi pengusaha muslim bukan sekadar mencari untung dan menumpuk harta. Lebih dari itu, ia adalah medan jihad baru —medan dakwah dan perjuangan. Seorang pengusaha muslim sejati tidak hanya berbisnis, tetapi menegakkan nilai-nilai Islam di tengah aktivitas ekonominya, menjadikan setiap transaksi sebagai ladang pahala, dan setiap langkah bisnis sebagai bentuk ibadah.

Bisnis Sebagai Ladang Dakwah

Dakwah bukan hanya di mimbar. Ia bisa hadir di meja perundingan, di pasar, di toko, di startup, dan di ladang usaha. Rasulullah ﷺ sendiri adalah seorang pedagang yang amanah dan jujur. Sebelum menjadi Rasul, beliau telah membangun kepercayaan masyarakat Makkah lewat kejujuran dan etika bisnisnya. Dari sana kita belajar bahwa bisnis yang dijiwai iman akan menjadi dakwah yang hidup, nyata, dan menyentuh hati manusia.

Pengusaha pejuang Islam bukan hanya menjual produk, tapi menjual nilai: kejujuran, profesionalisme, dan keberkahan. Ia tahu bahwa keuntungan sejati bukan di laba finansial, tapi di ridha Allah.

“Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, shiddiqin, dan syuhada.” (HR. Tirmidzi)

Ngaji dan Ilmu: Bahan Bakar Ruhani Pengusaha

Dalam Islam, ilmu adalah cahaya, dan bisnis tanpa ilmu adalah kegelapan. Pengusaha muslim harus senantiasa ngaji, bukan hanya ngaji fiqih muamalah, tetapi juga ngaji hati — memperdalam makna ikhlas, sabar, syukur, dan tawakal.

Ngaji adalah cara menjaga agar hati tidak kotor oleh keserakahan. Ketika ilmu bertemu iman, maka bisnis menjadi ladang keberkahan. Ia bertransaksi bukan hanya dengan manusia, tetapi juga dengan Allah.

“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan memberinya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(QS. Ath-Thalaq: 2-3)

Bisnis: "Jihad" di Zaman Modern

Menjadi pengusaha muslim berarti berani berdiri di tengah badai sistem kapitalis, menawarkan solusi halal di tengah derasnya arus riba dan tipu daya dunia. Bisnis bukan semata kompetisi, tapi kontribusi.

Pengusaha pejuang Islam tidak akan menjual kejujuran demi cuan. Ia tidak akan menipu, memalsukan, atau menzalimi pelanggan. Ia tahu bahwa rezeki sudah diatur Allah, dan yang haram tak akan menambah kecuali kesialan.

Ia juga menjadikan bisnisnya sebagai wadah amal jama’i: membuka lapangan kerja, membantu fakir miskin, dan menyalurkan zakat dari hasil usahanya. Di sinilah nilai jihadnya — menggerakkan ekonomi umat dan menegakkan keadilan sosial.

Keluarga: Basis Kekuatan Dakwah

Di balik setiap pengusaha pejuang Islam, ada keluarga yang tangguh dan penuh doa. Ia tahu bahwa kesuksesan sejati bukan saat rekening bertambah, tapi ketika keluarganya semakin dekat kepada Allah.

Keluarga adalah madrasah pertama tempat ruh dakwah tumbuh. Seorang suami yang berbisnis tapi melupakan istri dan anak akan kehilangan keberkahan. Namun, ketika bisnisnya menjadi bagian dari ibadah keluarga — bersama ngaji, berbagi, dan berjuang — maka Allah akan melipatgandakan keberkahan hidupnya.

 Gaspol: Bergerak Tanpa Menunda

“GassPoll” di jalan dakwah dan bisnis bukan berarti gegabah, tapi semangat total dan tak setengah hati. Dalam bahasa ruhani, GassPoll artinya “bergerak dengan ikhlas dan istiqamah”.

Tidak ada keberkahan tanpa kerja keras. Tidak ada kemuliaan tanpa pengorbanan.

“Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin...”
(QS. At-Taubah: 105)

Penutup: Pengusaha Pejuang Islam Adalah Simbol Kebangkitan Umat

Umat Islam akan kuat bukan hanya dengan doa dan ceramah, tapi juga dengan pengusaha yang berdakwah dan dai yang berwirausaha. Mereka yang menyatukan dzikir dan pikir, spiritualitas dan profesionalitas, iman dan tindakan nyata.
 
Maka, mari jadikan hidup kita bukan sekadar mencari rezeki, tapi menjemput ridha Ilahi melalui dakwah, ngaji, bisnis, dan keluarga. Bergeraklah dengan visi akhirat, berbisnis dengan niat ibadah, dan berdakwah dengan semangat GassPoll — penuh energi, penuh cinta, penuh iman.

Oleh. Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update