Pendahuluan
TintaSiyasi.id -- Salah satu tantangan besar pendidikan Islam di era modern adalah bagaimana membentuk manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kesadaran berpikir Islami (fikrah Islamiyyah) dan kepribadian Islam (syakhsiyah Islamiyyah). Dua unsur ini merupakan inti dari proses pendidikan yang sejati dalam Islam — yaitu melahirkan manusia yang berpikir berdasarkan aqidah Islam dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai syariat.
Dalam konteks pendidikan, membangun kesadaran berpikir dan kepribadian Islam bukan sekadar mengisi otak dengan pengetahuan agama, melainkan menanamkan cara pandang (worldview) Islam dalam seluruh dimensi kehidupan. Pendidikan Islam sejati harus menumbuhkan manusia yang berpikir dengan landasan wahyu dan berkepribadian dengan akhlak Qur’ani.
Hakikat Kesadaran Berpikir dalam Islam
Kesadaran berpikir (al-wa’yu al-fikri) dalam Islam bukanlah sekadar kemampuan logika rasional, tetapi kemampuan berpikir yang terikat dengan aqidah Islam. Islam mengajarkan agar manusia menggunakan akalnya untuk memahami ciptaan Allah, menimbang segala fenomena kehidupan, dan mengambil keputusan dengan berlandaskan wahyu.
Allah berfirman: “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran [3]: 190)
Ayat ini menunjukkan bahwa berpikir dalam Islam adalah proses reflektif yang mengantarkan manusia kepada ma’rifatullah (pengenalan terhadap Allah). Dengan demikian, berpikir Islami adalah berpikir yang bertujuan mencari kebenaran hakiki, bukan sekadar mengejar manfaat duniawi atau prestise akademik.
Pendidikan Islam harus mengarahkan peserta didik agar memiliki cara berpikir yang berlandaskan aqidah, bukan sekadar berpikir bebas tanpa nilai. Dengan begitu, setiap ilmu dan pengetahuan yang diperoleh akan diarahkan untuk mengokohkan iman, memperluas pemahaman, dan meningkatkan amal saleh.
Makna Syakhsiyah Islamiyyah (Kepribadian Islam)
Syakhsiyah Islamiyyah adalah kepribadian yang terbentuk dari dua unsur utama:
1. Aqidah Islam sebagai landasan berpikir (fikrah), dan
2. Syariat Islam sebagai pedoman bertindak (nafsiyyah).
Ketika seseorang berpikir dengan fikrah Islam dan bertindak dengan nafsiyyah Islam, maka ia telah memiliki kepribadian Islam yang utuh. Ia tidak lagi menjadikan hawa nafsu, adat, atau ideologi Barat sebagai ukuran dalam menilai benar-salah, baik-buruk, melainkan seluruh sikap hidupnya diukur dengan neraca syariat.
Pendidikan Islam memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk syakhsiyah Islamiyyah. Hal ini dapat dilakukan melalui proses internalisasi nilai-nilai Islam ke dalam sistem pendidikan, lingkungan sekolah, dan interaksi guru-siswa yang berorientasi pada pembinaan ruhani, akal, dan akhlak.
Sinergi antara Fikrah Islamiyyah dan Syakhsiyah Islamiyyah dalam Pendidikan
Kesadaran berpikir Islami dan kepribadian Islami tidak dapat dipisahkan. Fikrah membimbing akal, sedangkan syakhsiyah membimbing perilaku. Jika seseorang hanya memiliki pengetahuan Islam tanpa kepribadian Islam, maka ia berisiko menjadi cendekiawan yang kehilangan arah moral. Sebaliknya, jika seseorang memiliki semangat keislaman tanpa pemahaman mendalam, maka ia rentan terhadap fanatisme sempit.
Pendidikan Islam sejati harus menyeimbangkan keduanya. Guru bukan sekadar pengajar (mu’allim), tetapi juga pendidik (murabbi) yang menanamkan cara berpikir Islami melalui dialog, keteladanan, dan pembiasaan.
Rasulullah ﷺ adalah contoh terbaik: beliau tidak hanya mendidik umat dengan ilmu, tetapi juga dengan akhlak dan kesadaran spiritual. Pendidikan Islam ideal adalah yang mampu meniru metode kenabian tersebut.
Strategi Membangun Kesadaran dan Kepribadian Islam
1. Integrasi Aqidah dalam Kurikulum
Setiap mata pelajaran, termasuk sains dan sosial, harus dikaitkan dengan pandangan tauhid. Dengan demikian, siswa menyadari bahwa seluruh ilmu adalah bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah.
2. Keteladanan Guru
Guru menjadi model utama dalam pembentukan kepribadian. Ucapan, sikap, dan keputusan seorang pendidik menjadi cermin nilai Islam yang hidup.
3. Pembiasaan Spiritual dan Etika
Kegiatan harian seperti shalat berjamaah, dzikir, tadabbur Al-Qur’an, dan gotong royong harus menjadi budaya sekolah. Nilai-nilai ini menginternalisasi syakhsiyah Islam secara alami.
4. Kritisisme Islami
Peserta didik didorong untuk berpikir kritis dalam bingkai Islam. Mereka belajar mempertanyakan nilai-nilai Barat sekuler yang tidak sesuai dengan akidah, dan mengembangkan cara pandang Qur’ani terhadap fenomena dunia.
5. Lingkungan Edukatif Islami
Suasana sekolah atau kampus yang islami — dari simbol, kegiatan, hingga relasi sosial — menjadi hidden curriculum yang membentuk kesadaran dan kepribadian Islam.
Penutup
Membangun kesadaran berpikir dan syakhsiyah Islam dalam pendidikan Islam adalah upaya membentuk manusia yang utuh: berilmu, beriman, dan beramal. Pendidikan Islam tidak boleh berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi harus berlanjut pada transformasi kepribadian.
Dengan kesadaran berpikir Islami, peserta didik mampu menilai dunia dari kacamata wahyu. Dengan kepribadian Islami, mereka menjadi agen perubahan yang menebarkan rahmat dan keadilan di tengah masyarakat. Inilah tujuan hakiki pendidikan Islam: melahirkan manusia yang berpikir, berjiwa, dan berperilaku berdasarkan nilai-nilai Ilahiah — menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
Oleh. Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)