Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Ayat-Ayat Al-Qur’an Penyembuh Post Power Syndrome

Minggu, 30 November 2025 | 18:17 WIB Last Updated 2025-11-30T11:28:02Z
Mengobati Luka yang Tidak Terlihat dan Menghidupkan Makna Hidup Setelah Panggung Redup

TintaSiyasi.id -- Ada fase dalam hidup ketika seseorang merasa dibutuhkan, dihormati, dicari, dan berpengaruh. Jabatan, kekuasaan, prestasi, atau posisi membuat seseorang menjadi pusat perhatian. Namun waktu berjalan.

Pada satu titik, panggung mulai sepi, kursi digantikan orang lain, nama perlahan terlupakan, dan dunia berjalan tanpa bertanya apakah kita masih ada atau tidak.

Di titik inilah sebagian orang mengalami keadaan yang disebut:
Post Power Syndrome — kondisi psikologis setelah kehilangan jabatan, posisi, atau peran sentral.

Gejalanya bermacam-macam:
• Merasa tidak berguna
• Mudah tersinggung
• Merasa kehilangan jati diri
• Merasa hidup tidak lagi berarti
• Merasa lebih baik dari pengganti
• Merasa dihianati kenyataan
Namun, Al-Qur’an hadir sebagai cahaya. Ia bukan hanya kitab petunjuk, tetapi juga kitab penyembuh luka batin.

Allah berfirman:
وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٞ وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارٗا  
“ Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.”(QS. Al-Israa’: 82)

1. Ayat Identitas: Nilai Diri Bukan dari Jabatan
"Dan kemuliaan itu milik Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman."
(QS. Al-Munafiqun: 8)
Ayat ini mengingatkan bahwa:
• Jabatan bisa hilang
• Popularitas akan redup
• Pengaruh akan berpindah
Namun kemuliaan dari Allah tidak pernah hilang selama seseorang menjaga iman, amal, dan akhlaknya.
Terapi Ruhani:
Bacalah Doa ini setiap merasa minder, lalu ucapkan:
"Ya Allah, muliakan aku dengan iman, bukan dengan pangkat."

2. Ayat Makna Hidup: Hidup Tidak Selesai setelah Jabatan Berakhir
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ayat ini mengingatkan:
Kita bukan diciptakan untuk jabatan, tetapi untuk tujuan yang lebih tinggi: ubudiyah (penghambaan).
Jika jabatan hilang, takdir ibadah masih ada.
Terapi Ruhani:
Tulislah hobi baru, peran baru, dan amal baru. Jadikan hidup setelah pensiun sebagai ladang amal jariyah.

3. Ayat Ketenangan: Allah Tidak Pernah Meninggalkanmu
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang."
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Ketika dunia tidak lagi mendengar suara kita — Allah masih mendengar bisikan hati kita.
Ketika manusia tidak lagi menghormati kita — Allah tetap memberi derajat kepada yang sabar.
Terapi Ruhani:
Perbanyak dzikir Ya Salaam, Ya Latif, dan Hasbunallah wa ni’mal wakil.

4. Ayat Kesadaran: Semua Ini Hanyalah Sementara
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Kemudian kepada Kami kamu akan dikembalikan.”
(QS. Al-Ankabut: 57)
Ayat ini bukan ancaman — tetapi penawar untuk melepas keterikatan pada dunia.
Yang pergi hanyalah jabatan, tetapi yang tinggal adalah amal.
Terapi Ruhani:
Setiap merasa kehilangan, katakan:
"Ini bukan hilang. Ini sedang dikembalikan kepada yang berhak: Allah."

5. Ayat Harapan Baru: Setelah Masa Lalu, Ada Masa Depan
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu."
(QS. Al-Baqarah: 216)
Post power syndrome adalah fase transisi — bukan akhir.
Kadang Allah mengambil panggung dunia untuk memberi panggung akhirat, ilmu, keluarga, tugas dakwah, atau kontribusi sosial.
Terapi Ruhani:
Renungkan:
APA yang bisa saya lakukan untuk umat setelah tidak menjabat?
Jika jawabannya ditemukan, maka yang datang bukan akhir panggung, tetapi awal peran baru.

6. Ayat Optimisme: Jangan Merasa Gagal
وَلَا تَهِنُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَنتُمُ ٱلۡأَعۡلَوۡنَ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ  
 “Janganlah kamu merasa lemah dan jangan bersedih hati, kamu pasti lebih tinggi (mulia) jika kamu beriman.”
(QS. Ali Imran: 139)
Kehilangan jabatan bukan kekalahan — ia adalah graduation dari Allah.
Seperti sekolah:
• Ada naik kelas
• Ada wisuda
• Ada fase kontribusi tanpa tekanan pangkat
Terapi Ruhani:
Berdirilah depan cermin dan katakan:
"Saya bukan kehilangan jabatan — saya sedang naik level kehidupan."
________________________________________
Penutup: Jabatan Adalah Amanah, Kehilangan Adalah Pembebasan
Allah mengambil jabatan bukan karena tidak sayang — tetapi karena ingin:
• Mendidik hati
• Menjaga dari ujub
• Mengalihkan energi ke ibadah
• Menjadikan seseorang guru kehidupan, bukan sekadar pemegang kekuasaan
Maka katakan dalam hati:
"Ya Allah, Engkau mengambil karena mencinta, bukan menghukum."
Dan jadikan sisa hidup sebagai:
• Waktu memperbanyak amal
• Membimbing generasi
• Menebar hikmah
• Mendekat kepada akhirat
Karena pada akhirnya…
Yang dikenang bukan jabatan kita — tetapi kebaikan kita.

Oleh. Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update