“Menurut saya yang paling penting
adalah tidak hanya fokus pada penanganan banjir di hilir, tapi yang paling
penting adalah mengendalikan penggunaan guna lahan di daerah Hulu untuk
mengatasi sedimentasi dan juga perubahan atau konversi lahan ya dengan banyaknya
daerah-daerah terbangun di hulu,” paparnya dalam Ahli Tata Kota Bicara
Solusi Banjir Semarang Tak Kunjung Surut, Ini yang Perlu Dibenahi di
kanal YouTube Kompas TV, Sabtu (25/10/2025).
Pembangunan pompanisasi dan tanggul
laut di hilir, lanjutnya, hanya bertahan sementara waktu. “Yang diperlukan
adalah solusi jangka panjang agar banjir ini secara perlahan tetapi pasti dapat
dikurangi,” urainya.
Menurutnya, setiap tahunnya banjir
mengalami kondisi parah tergantung dengan pola-pola tertentu. “Juga faktor
lainnya seperti tidak berfungsinya pompa saat hujan lebat,” tuturnya.
“Sebenernya ada polanya, jadi ada
pola-pola tertentu tergantung juga dengan tingkat kenaikan muka laut, saya bisa
bilang setiap tahunnya selalu ada kondisi yang parah begitu. Seperti sekarang
misalnya, banjir semakin diperparah karena ada beberapa pompa pada saat hujan
tidak berfungsi,” terangnya.
Tentu, tambahnya, yang paling
terdampak adalah masyarakat rentan yang tinggal di daerah-daerah berisiko
tinggi, karena tidak semua masyarakat punya kapasitas yang baik untuk
berhadapan saat situasi banjir terjadi. “Jangka panjangnya bisa berpengaruh
terhadap mata pencaharian masyarakat,” ulasnya.
“Jadi banyak masyarakat yang mungkin
tinggal di daerah rentan seperti padat penduduk yang terjebak dalam situasi
banjir, saya kira mereka yang paling terdampak. Secara jangka panjang dampak
perlu diperhatikan ketika dampak berkepanjangan akan mempengaruhi mata
pencaharian masyarakat,” ungkapnya.
Ia menambahkan, mengatasi banjir
harus dilakukan secara integratif dan komprehensif. “Penghijauan yang saya kira
masih perlu ditingkatkan sehingga pendekatan penanganan banjir ini harus
dilakukan secara integratif dan komprehensif,” pungkasnya.[] Sin
