Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Aktivis Muslim Malaysia Serukan Perdamaian Antarkelompok di Sudan

Minggu, 16 November 2025 | 05:25 WIB Last Updated 2025-11-15T22:29:08Z

TintaSiyasi.id -- Aktivis Muslim Malaysia Ustaz Abdul Hakim Othman menyerukan kepada kelompok-kelompok Muslim yang sedang berperang di Sudan untuk berdamai.

 

"Seruan kami atas apa yang terjadi di Sudan adalah agar mereka berdamai. Inilah yang mampu kami lakukan," ujarnya dalam program Kupas Tuntas bertajuk Memahami Konflik Sudan dan Solusinya di Facebook Juru Bicara HTM, Jumat (07/11/2025).

 

Ia mengatakan hal ini karena ia merupakan perintah Allah Swt. yang jelas dalam Al-Qur'an. Ia membaca ayat 9 dari surah Al-Hujurat:

 

Dan jika dua golongan orang beriman berperang, maka damaikanlah mereka; jika salah satu dari mereka mengingkari perjanjiannya dengan yang lain, maka perangilah yang mengingkari perjanjian itu hingga mereka kembali kepada perintah Allah; jika mereka kembali kepada ketaatan, maka damaikanlah mereka dengan adil, dan berlakulah adil. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang adil.

 

Ia melanjutkan, "Dengan kata lain, jika dua kelompok Muslim sedang berperang, tugas kita adalah mendamaikan mereka. Dan jika mereka sudah bersepakat dan ingin berdamai, lalu tiba-tiba mengingkarinya, maka perintah Allah adalah memerangi orang tersebut, memerangi orang yang mengingkari perjanjian agar ia kembali kepada perintah Allah. Dan jika ia kembali, maka berhentilah. Kita mendamaikan keduanya dengan adil," jelasnya.

 

Ia menjelaskan bahwa para pemimpin Muslimlah yang sebenarnya memiliki kemampuan untuk mendamaikan kelompok-kelompok yang berperang.

 

"Pemerintah Muslim bahkan lebih mampu mendamaikan kedua belah pihak, pemerintah Muslim mana pun. Namun saat ini, tidak ada satu pemerintahan pun yang peduli dengan apa yang terjadi di Sudan," ujarnya.

 

Ia mengatakan bahwa umat Islam dilarang memecah belah atau memisahkan wilayah-wilayah Muslim meskipun tidak ada khilafah.

 

"Kita dilarang berperang, dilarang membagi wilayah kita, dilarang saling membunuh meskipun tidak ada khilafah," ujarnya.

 

Di tengah kesedihan umat Islam atas apa yang terjadi di Sudan, ia mengatakan bahwa umat Islam dapat mengoreksi (muhasabah) para penguasa.

 

“Sebagai umat Islam, kami tidak memiliki kekuatan untuk menghentikan perang ini, tetapi kami dapat melakukan muhasabah terhadap penguasa. Kekuasaan itu ada di tangan pemerintah,” ujarnya.

 

Namun, ia menunjukkan bahwa pemerintah bersikap tidak peduli.

 

“Sayangnya, pemerintah ini adalah pemerintah yang tunduk kepada Amerika dan pemerintah yang mempertahankan nasionalismenya sendiri serta tidak peduli dengan apa yang terjadi di Sudan,” ujarnya.

 

Oleh karena itu, ia menyatakan bahwa umat Islam membutuhkan khilafah sebagai solusi atas masalah Sudan.

 

“Umat Islam harus berjuang untuk menegakkan khilafah karena dengan khilafah ini, umat Islam akan memiliki kekuatan, umat Islam tidak akan lagi terpecah belah,” tegasnya.

 

Ia menunjukkan bahwa rakyat Sudan akan terus hidup dalam penindasan selama khilafah tidak ditegakkan.

 

"Lihatlah rakyat Sudan. Siapa pun yang tidak berjuang untuk menegakkan khilafah, apalagi mereka yang berada dalam situasi tertindas seperti itu, maka mereka akan dibunuh begitu saja, mereka akan ditindas begitu saja," ujarnya.

 

Terakhir, ia mengatakan bahwa siapa pun yang berjuang untuk menegakkan khilafah harus memiliki mafhum (pemahaman) tentang persatuan umat Islam.

 

"Jadi mustahil mereka bertikai, apalagi saling serang. Karena kita sudah punya perjuangan untuk mempersatukan umat Islam. Kenapa kita mau bertikai? Kenapa kita mau terpecah belah, kan?" tegasnya.[] Syamsiyah Jamil

Opini

×
Berita Terbaru Update