"Seruan kami atas apa yang
terjadi di Sudan adalah agar mereka berdamai. Inilah yang mampu kami
lakukan," ujarnya dalam program Kupas Tuntas bertajuk Memahami
Konflik Sudan dan Solusinya di Facebook Juru Bicara HTM, Jumat (07/11/2025).
Ia mengatakan hal ini karena ia
merupakan perintah Allah Swt. yang jelas dalam Al-Qur'an. Ia membaca ayat 9
dari surah Al-Hujurat:
Dan jika dua golongan orang beriman
berperang, maka damaikanlah mereka; jika salah satu dari mereka mengingkari
perjanjiannya dengan yang lain, maka perangilah yang mengingkari perjanjian itu
hingga mereka kembali kepada perintah Allah; jika mereka kembali kepada
ketaatan, maka damaikanlah mereka dengan adil, dan berlakulah adil.
Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang adil.
Ia melanjutkan, "Dengan kata
lain, jika dua kelompok Muslim sedang berperang, tugas kita adalah mendamaikan
mereka. Dan jika mereka sudah bersepakat dan ingin berdamai, lalu tiba-tiba
mengingkarinya, maka perintah Allah adalah memerangi orang tersebut, memerangi
orang yang mengingkari perjanjian agar ia kembali kepada perintah Allah. Dan
jika ia kembali, maka berhentilah. Kita mendamaikan keduanya dengan adil,"
jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa para pemimpin
Muslimlah yang sebenarnya memiliki kemampuan untuk mendamaikan
kelompok-kelompok yang berperang.
"Pemerintah Muslim bahkan lebih
mampu mendamaikan kedua belah pihak, pemerintah Muslim mana pun. Namun saat
ini, tidak ada satu pemerintahan pun yang peduli dengan apa yang terjadi di
Sudan," ujarnya.
Ia mengatakan bahwa umat Islam
dilarang memecah belah atau memisahkan wilayah-wilayah Muslim meskipun tidak
ada khilafah.
"Kita dilarang berperang,
dilarang membagi wilayah kita, dilarang saling membunuh meskipun tidak ada khilafah,"
ujarnya.
Di tengah kesedihan umat Islam atas
apa yang terjadi di Sudan, ia mengatakan bahwa umat Islam dapat mengoreksi
(muhasabah) para penguasa.
“Sebagai umat Islam, kami tidak
memiliki kekuatan untuk menghentikan perang ini, tetapi kami dapat melakukan
muhasabah terhadap penguasa. Kekuasaan itu ada di tangan pemerintah,” ujarnya.
Namun, ia menunjukkan bahwa
pemerintah bersikap tidak peduli.
“Sayangnya, pemerintah ini adalah
pemerintah yang tunduk kepada Amerika dan pemerintah yang mempertahankan
nasionalismenya sendiri serta tidak peduli dengan apa yang terjadi di Sudan,”
ujarnya.
Oleh karena itu, ia menyatakan bahwa
umat Islam membutuhkan khilafah sebagai solusi atas masalah Sudan.
“Umat Islam harus berjuang untuk
menegakkan khilafah karena dengan khilafah ini, umat Islam akan memiliki
kekuatan, umat Islam tidak akan lagi terpecah belah,” tegasnya.
Ia menunjukkan bahwa rakyat Sudan
akan terus hidup dalam penindasan selama khilafah tidak ditegakkan.
"Lihatlah rakyat Sudan. Siapa
pun yang tidak berjuang untuk menegakkan khilafah, apalagi mereka yang berada
dalam situasi tertindas seperti itu, maka mereka akan dibunuh begitu saja,
mereka akan ditindas begitu saja," ujarnya.
Terakhir, ia mengatakan bahwa siapa
pun yang berjuang untuk menegakkan khilafah harus memiliki mafhum (pemahaman)
tentang persatuan umat Islam.
"Jadi mustahil mereka bertikai,
apalagi saling serang. Karena kita sudah punya perjuangan untuk mempersatukan
umat Islam. Kenapa kita mau bertikai? Kenapa kita mau terpecah belah,
kan?" tegasnya.[] Syamsiyah Jamil
