Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Menegakkan Kebenaran di Jalan Dakwah: Keteguhan Metode Rasulullah dan Keberanian Para Pewarisnya

Kamis, 13 November 2025 | 10:06 WIB Last Updated 2025-11-13T03:06:59Z
Pendahuluan

TintaSiyasi.id — Dakwah adalah tugas mulia, amanah suci yang diwariskan oleh para nabi dan rasul kepada para penerus risalah di setiap zaman. Dalam setiap periode kehidupan manusia, dakwah selalu menjadi pelita yang menuntun umat dari kegelapan menuju cahaya. Namun, di tengah perubahan zaman, kemajuan teknologi, dan pergeseran nilai-nilai sosial, muncul tantangan baru bagi para dai dan pejuang Islam.

Di sinilah pentingnya mengingat kembali bahwa dakwah Islam tidak pernah berubah dalam nilai dan maknanya. Yang berubah hanyalah sarana dan bentuk kehidupan. Zaman boleh berganti, media dakwah boleh berkembang dari mimbar ke layar digital, namun metode dan spirit dakwah Rasulullah SAW harus tetap menjadi suri teladan yang tidak boleh ditinggalkan sedikit pun.

Keteguhan dalam Metode Rasulullah SAW

Mengemban dakwah di era modern menuntut kita untuk tetap berpijak pada manhaj kenabian. Rasulullah SAW bukan hanya penyampai wahyu, tetapi juga pembimbing jalan dan pembentuk peradaban. Metode beliau penuh hikmah, kesabaran, dan kasih sayang; namun pada saat yang sama juga tegas, lurus, dan tidak pernah kompromi terhadap kebatilan.

Perubahan zaman tidak boleh menjadikan kita goyah dalam prinsip. Sarana dakwah boleh berubah, dari lisan menjadi tulisan, dari majelis menjadi media sosial, dari mimbar ke mikrofon dan layar gawai. Tetapi tujuan dakwah tetap satu: mengajak manusia untuk mengenal Allah, mencintai kebenaran, dan menegakkan keadilan di atas bumi.

Rasulullah SAW menanamkan dasar bahwa dakwah bukan sekadar aktivitas komunikasi, tetapi ibadah yang bernilai perjuangan. Maka, seorang dai sejati tidak boleh berhenti di tengah jalan hanya karena penolakan atau cibiran manusia. Ia harus sadar bahwa keberhasilan dakwah tidak diukur dari banyaknya pengikut, tetapi dari keikhlasan dan keteguhannya di jalan Allah.

Keberanian dan Kejujuran dalam Dakwah

Dakwah Islam tidak hanya memerlukan kelembutan dan hikmah, tetapi juga keberanian moral dan ketegasan prinsip. Sebab dalam setiap zaman, akan selalu muncul tantangan yang menguji kebenaran — pemikiran sesat, ideologi batil, dan sistem hidup yang menentang nilai-nilai ilahi.

Seorang dai harus memiliki sikap terus terang dan keberanian untuk mengatakan yang hak sebagai hak, dan yang batil sebagai batil. Ia tidak boleh takut kehilangan posisi, pengikut, atau popularitas. Tugasnya bukan mencari tepuk tangan manusia, tetapi menegakkan kalimat Allah, sekalipun harus menghadapi badai celaan dan fitnah.

Dakwah menuntut kekuatan iman dan kejernihan pemikiran, agar mampu menentang setiap perkara yang bertentangan dengan Islam, baik dari segi ide maupun metode. Ia menghadapi kebatilan bukan dengan kebencian, tetapi dengan ilmu dan penjelasan yang terang, menyingkap kepalsuan agar manusia sadar dan kembali kepada kebenaran.

Keberanian seorang dai bukanlah keberanian fisik semata, melainkan keberanian spiritual — berani jujur, berani tegas, berani berbeda, dan berani menegakkan kebenaran walau sendirian. Karena hakikatnya, keberanian seperti inilah yang diwariskan Rasulullah SAW kepada para pengemban dakwah setelah beliau.

Dakwah sebagai Jalan Perjuangan

Menjadi da’i berarti menyiapkan diri untuk berjuang. Jalan ini bukan jalan yang dihiasi bunga, melainkan penuh ujian, tantangan, dan air mata. Namun di balik semua itu, terdapat kemuliaan yang tak ternilai.

Rasulullah SAW bersabda: “Sampaikanlah dariku walau satu ayat.” (HR. Bukhari)

Kalimat ini sederhana, tetapi mengandung makna yang sangat dalam. Ia menegaskan bahwa setiap muslim memiliki tanggung jawab dakwah — sesuai kadar ilmunya, sesuai kemampuan dan lingkupnya. Dakwah bukan hanya tugas ulama, tetapi panggilan hati setiap mukmin yang ingin agar cahaya Islam tetap menyala di tengah dunia yang gelap oleh hawa nafsu dan materialisme.

Maka, dalam setiap zaman, para dai sejati selalu tampil dengan wajah yang tegar dan hati yang lembut. Mereka tidak silau oleh dunia, tidak lelah karena penolakan, dan tidak berhenti karena rintangan. Mereka memahami bahwa dakwah adalah perjuangan yang abadi, dan hasilnya sepenuhnya berada di tangan Allah.

Penutup: Tetap Lurus di Jalan Dakwah

Dunia boleh berubah, teknologi boleh berkembang, tetapi nilai-nilai dakwah tidak pernah usang. Kebenaran tetap kebenaran, meski banyak yang menolaknya. Kebatilan tetap kebatilan, meski banyak yang memujanya.

Tugas seorang dai bukan menyesuaikan kebenaran agar diterima manusia, tetapi menyesuaikan manusia agar kembali kepada kebenaran.

Maka, marilah kita terus berjalan di jalan dakwah ini dengan penuh keikhlasan, keberanian, dan keteguhan. Jadikan Rasulullah SAW sebagai teladan, jadikan Al-Qur’an sebagai panduan, dan jadikan akhirat sebagai tujuan. Karena dakwah bukan hanya tugas, tetapi jalan menuju ridha Allah.

“Dakwah bukan sekadar kata, tetapi cahaya yang menuntun hati manusia menuju Sang Pencipta.”

Oleh. Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update