Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Dakwah sebagai Jalan Kedaulatan Islam: Keteguhan, Keberanian, dan Kemimpinan Fikriyah di Tengah Umat

Kamis, 13 November 2025 | 10:07 WIB Last Updated 2025-11-13T03:07:52Z

Pendahuluan

TintaSiyasi.id — Dakwah Islam bukan sekadar aktivitas keagamaan atau seruan moral. Dakwah adalah misi peradaban, tugas kenabian yang diwariskan dari generasi ke generasi untuk menegakkan kedaulatan Allah di muka bumi. Ia adalah panggilan jiwa yang menuntut keteguhan hati, kejernihan akal, dan keberanian yang tak tergoyahkan.

Di tengah perubahan zaman, kemajuan teknologi, dan pergolakan sosial, hakikat dakwah tidak pernah berubah. Yang berubah hanyalah bentuk dan sarana, sementara nilai, arah, dan tujuannya tetap satu — yaitu menjadikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam, dan menegakkan sistem kehidupan yang berlandaskan pada hukum Allah SWT.

Menapaki Metode Dakwah Rasulullah SAW

Mengemban dakwah pada hakikatnya berarti meneladani Rasulullah SAW dalam seluruh aspek perjuangannya. Beliau bukan hanya penyampai wahyu, tetapi arsitek peradaban yang membangun masyarakat di atas pondasi tauhid dan keadilan.

Rasulullah SAW mengajarkan bahwa metode dakwah adalah wahyu yang tidak boleh diubah. Yang boleh berubah hanyalah alat dan bentuk penyampaian. Oleh karena itu, meski dunia modern menuntut inovasi dan adaptasi, seorang dai sejati tidak boleh berpaling sedikit pun dari manhaj dakwah kenabian — yaitu menyeru dengan hikmah, mendidik dengan kesabaran, dan membangun masyarakat dengan ilmu serta keteladanan.

Perubahan zaman hanyalah ujian atas kesetiaan kita terhadap prinsip. Metode Rasulullah SAW tetap menjadi bintang penuntun, karena dari situlah lahir kekuatan dakwah yang menembus ruang dan waktu.

Keberanian dan Kejelasan dalam Dakwah

Dakwah Islam menuntut keberanian moral dan kejujuran intelektual. Seorang dai tidak cukup hanya berbicara lembut, tetapi harus berani mengatakan kebenaran, meski bertentangan dengan arus pemikiran mayoritas.

Islam mengajarkan bahwa kebenaran tidak boleh disembunyikan, kebatilan tidak boleh dibiarkan, dan kesesatan tidak boleh dikompromikan. Maka seorang pengemban dakwah harus tegas menentang setiap ide yang bertentangan dengan Islam, baik secara pemikiran maupun metode. Ia harus menjelaskan kepalsuannya dengan hujjah, bukan dengan kebencian; dengan ilmu, bukan dengan amarah.

Ketegasan dalam dakwah bukan berarti keras hati, melainkan tanda cinta yang tulus kepada kebenaran. Karena sesungguhnya, diam di hadapan kebatilan adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah risalah. Dakwah sejati menghendaki keberanian untuk berdiri tegak di atas prinsip, meski harus melawan arus dunia yang menyesatkan.

Menegakkan Kedaulatan Islam dan Qiyadah Fikriyah

Puncak dari perjalanan dakwah adalah menjadikan Islam sebagai kedaulatan tunggal dalam kehidupan umat — bukan sekadar di hati individu, tetapi juga dalam sistem sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Dakwah tidak berhenti pada penyadaran moral, melainkan berlanjut pada penerapan nilai-nilai Islam secara menyeluruh (kaffah).

Inilah makna sejati dari "menjadikan mabda’ Islam sebagai mabda’ umat", yaitu menjadikan ideologi Islam (mabda) sebagai asas berpikir, sumber hukum, dan arah peradaban. Islam harus tampil sebagai Qiyadah Fikriyah — kepemimpinan pemikiran di tengah masyarakat.

Tanpa kepemimpinan fikriyah, umat Islam akan kehilangan arah dan mudah terombang-ambing oleh ideologi asing yang menyesatkan. Maka, tugas para dai dan intelektual muslim hari ini adalah mengembalikan Islam ke posisi sentralnya, sebagai pemimpin pemikiran dan panduan kehidupan manusia.

Rasulullah SAW telah menunjukkan jalan itu dengan sangat jelas. Beliau membangun kesadaran, menanamkan aqidah, membentuk jamaah dakwah, lalu menegakkan masyarakat Islam yang berdaulat di bawah naungan wahyu. Inilah manhaj nubuwwah — jalan kenabian yang menjadi panduan setiap pengemban risalah sepanjang masa.

Dakwah sebagai Amanah dan Perjuangan

Dakwah bukan pekerjaan sambilan, melainkan amanah perjuangan yang memerlukan pengorbanan. Para pengemban dakwah harus siap menghadapi tantangan, ujian, bahkan pengorbanan besar. Mereka tidak menanti hasil, karena yang mereka cari bukan kemenangan sesaat, melainkan keridhaan Allah SWT.

Seorang dai harus memiliki visi jauh ke depan: membangun umat, menegakkan kebenaran, dan menghidupkan kembali peradaban Islam yang adil dan berwibawa. Itulah bentuk tertinggi dari cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Penutup: Dakwah sebagai Jalan Hidup dan Cahaya Peradaban

Dakwah Islam adalah jalan hidup dan misi pembebasan. Ia memanggil setiap muslim untuk tidak sekadar menjadi penonton dalam sejarah, tetapi menjadi pelaku perubahan yang membawa umat kembali kepada kemuliaannya.

Menegakkan kedaulatan Islam berarti menjadikan syariat Allah sebagai hukum tertinggi, menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman berpikir, dan menjadikan Rasulullah SAW sebagai satu-satunya teladan perjuangan.

Maka, marilah kita terus istiqamah di jalan dakwah ini, dengan keberanian, keteguhan, dan keikhlasan. Jangan pernah ragu, karena janji Allah itu pasti:

“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan atas segala agama, walau orang-orang musyrik membencinya.” (QS. At-Taubah: 33)

Dakwah adalah cahaya yang menuntun, keberanian yang menegakkan, dan cita-cita yang membangun peradaban.
Dan di antara hamba-hamba pilihan Allah adalah mereka yang tetap berdiri tegak di jalan ini — hingga kebenaran kembali memimpin dunia di bawah panji Islam.

Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
(Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa)

Opini

×
Berita Terbaru Update