Abstrak (Bahasa Indonesia)
TintaSiyasi.id — Artikel ini mengkaji posisi geopolitik China di era globalisasi digital serta implikasinya terhadap kemungkinan kebangkitan dunia Islam. Dengan pendekatan deskriptif-analitis, tulisan ini menyoroti kebangkitan China sebagai kekuatan ekonomi dan teknologi global yang berpengaruh luas terhadap negara-negara Muslim melalui jalur diplomasi ekonomi, teknologi, dan infrastruktur. Di sisi lain, dunia Islam dihadapkan pada tantangan dan peluang besar dalam mengelola potensi digital untuk membangun kembali peradaban Islam modern. Hasil kajian menunjukkan bahwa kebangkitan dunia Islam sangat bergantung pada kemampuan umat dalam menguasai teknologi informasi, memperkuat literasi digital, serta mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam dinamika global yang baru.
Kata Kunci: Geopolitik China, Dunia Islam, Era Digital, Kebangkitan Peradaban, Politik Global
Abstract (English)
This article examines China’s geopolitical position in the digital globalization era and its implications for the potential revival of the Islamic world. Using a descriptive-analytical approach, the study highlights China’s rise as an economic and technological power influencing Muslim countries through economic diplomacy, technological expansion, and infrastructure investment. Meanwhile, the Islamic world faces both opportunities and challenges in utilizing digital transformation to rebuild its civilization. The findings indicate that the revival of the Islamic world depends on the ability of Muslims to master information technology, strengthen digital literacy, and integrate Islamic ethical values into the emerging global order.
Keywords: China’s Geopolitics, Islamic World, Digital Era, Civilization Revival, Global Politics
1. Pendahuluan
Globalisasi digital telah mengubah struktur kekuasaan dunia secara fundamental. Kekuatan ekonomi, informasi, dan teknologi kini menjadi sumber pengaruh utama dalam geopolitik global. Salah satu aktor terpenting dalam tatanan dunia baru ini adalah Republik Rakyat China (RRC), yang dalam dua dekade terakhir berhasil membangun kekuatan ekonomi dan teknologi yang menyaingi dominasi Barat (Mahbubani, 2020).
Sementara itu, dunia Islam memiliki potensi luar biasa—dari sisi populasi, sumber daya alam, hingga warisan spiritual—namun belum mampu memanfaatkannya secara strategis di kancah global. Dalam konteks ini, muncul pertanyaan strategis: Bagaimana posisi geopolitik China dapat memengaruhi arah kebangkitan dunia Islam di era digital global?
Tulisan ini bertujuan menjawab pertanyaan tersebut melalui analisis geopolitik dan kajian peradaban Islam. Fokusnya adalah pada hubungan antara kekuatan digital China dan dinamika kebangkitan Islam yang sedang mencari bentuk baru dalam konteks modernitas global.
2. Posisi Geopolitik China dalam Konstelasi Global Digital
China kini menjadi kekuatan sentral dalam ekonomi dunia. Melalui kebijakan Belt and Road Initiative (BRI) yang diluncurkan sejak 2013, China memperluas pengaruhnya ke Asia, Afrika, dan Eropa, dengan membangun jaringan transportasi, energi, dan komunikasi lintas benua (Ferdinand, 2016). Strategi ini bukan sekadar proyek ekonomi, melainkan bagian dari geopolitik global yang menegaskan posisi China sebagai poros Eurasia.
Selain BRI, inisiatif Digital Silk Road memperkuat posisi China dalam ekosistem digital dunia. Dengan investasi besar di bidang 5G, kecerdasan buatan (artificial intelligence), dan e-commerce, China menempatkan dirinya sebagai “arsitek” tatanan digital global baru (Lee, 2018). Melalui dominasi teknologi informasi, China bukan hanya mengekspor barang, tetapi juga sistem dan standar digital yang membentuk perilaku sosial dan ekonomi dunia.
Dalam konteks politik, China mengusung model authoritarian capitalism—sebuah sintesis antara kapitalisme pasar dan kontrol ideologis negara. Pendekatan ini memungkinkan stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi pesat, namun sekaligus memperkuat pengawasan digital terhadap masyarakat (Fukuyama, 2018).
3. Hubungan China dengan Dunia Islam
Hubungan antara China dan negara-negara Muslim bersifat pragmatis dan saling menguntungkan. Dalam kerangka BRI, China menjadi mitra strategis bagi banyak negara mayoritas Muslim seperti Pakistan, Iran, Arab Saudi, Mesir, dan Indonesia. Jalur ekonomi yang dibangun melalui proyek-proyek seperti China–Pakistan Economic Corridor (CPEC) memperkuat integrasi ekonomi antara Asia Timur dan dunia Islam (Garver, 2016).
Namun, hubungan ini juga diwarnai dilema moral dan politik. Isu hak asasi manusia serta kebijakan domestik China terhadap minoritas Muslim menimbulkan sensitivitas diplomatik. Meski demikian, sebagian besar negara Muslim lebih memilih menekankan aspek kerja sama ekonomi ketimbang ideologis (Esposito, 2011). Dengan demikian, pengaruh China terhadap dunia Islam lebih bersifat ekonomi-struktural daripada ideologis atau kultural.
4. Era Digital dan Peluang Kebangkitan Dunia Islam
Era digital membuka ruang luas bagi kebangkitan dunia Islam, terutama dalam tiga ranah utama: pendidikan, ekonomi, dan solidaritas global.
Pertama, kebangkitan intelektual digital terjadi melalui penyebaran ilmu keislaman di media sosial, e-learning, dan dakwah online. Platform digital memberi kesempatan bagi ulama dan cendekiawan Muslim untuk menjangkau umat lintas batas negara. Fenomena ini dapat disebut sebagai digital da‘wah movement, yang menandai pergeseran otoritas keagamaan ke arah yang lebih terbuka dan interaktif (Anderson, 2015).
Kedua, ekonomi syariah digital berkembang pesat melalui fintech syariah, zakat digital, dan platform wakaf daring. Hal ini membuka peluang besar bagi kemandirian ekonomi umat. Integrasi nilai-nilai Islam dengan inovasi teknologi memungkinkan terbentuknya ekosistem keuangan yang etis dan berkeadilan (Iqbal & Mirakhor, 2017).
Ketiga, solidaritas global umat Islam terbangun melalui media digital yang mempercepat pertukaran informasi, ide, dan advokasi kemanusiaan. Dunia Islam kini dapat menyuarakan narasi sendiri tentang perdamaian, keadilan, dan kemajuan, menantang dominasi wacana Barat dan sekulerisme global (Nasr, 1987).
Namun, peluang tersebut diiringi tantangan serius: pengawasan digital, penyebaran paham ekstrem, dan dominasi infrastruktur teknologi oleh kekuatan besar, termasuk China dan Amerika Serikat. Karena itu, kebangkitan Islam di era digital harus disertai strategi kemandirian teknologi dan kebijakan keamanan informasi yang kuat.
5. Implikasi Geopolitik China terhadap Dunia Islam
Pengaruh geopolitik China terhadap dunia Islam dapat dilihat dalam tiga aspek utama:
1. Aspek Ekonomi:
Melalui investasi dan perdagangan, China membantu pertumbuhan ekonomi banyak negara Muslim. Namun, ketergantungan yang berlebihan terhadap investasi China dapat menciptakan struktur ekonomi yang rentan dan menghambat kemandirian (Mahbubani, 2020).
2. Aspek Teknologi:
Keterlibatan China dalam pembangunan infrastruktur digital di dunia Islam membuka peluang transfer teknologi, tetapi juga risiko penguasaan data strategis. Kedaulatan digital menjadi isu penting yang perlu dijaga oleh negara-negara Muslim (Lee, 2018).
3. Aspek Ideologis:
Model pengelolaan digital China yang bersifat kontrol-sentralistik dapat diadopsi oleh sebagian negara Muslim, yang berpotensi membatasi kebebasan berpikir. Hal ini bertentangan dengan semangat ijtihad dan kebebasan akademik dalam Islam (Al-Attas, 1993).
6. Strategi Kebangkitan Dunia Islam di Era Digital Global
Dunia Islam perlu merumuskan strategi geopolitik dan digital yang komprehensif untuk menghadapi dominasi kekuatan besar. Beberapa langkah strategis meliputi:
1. Membangun kedaulatan digital melalui pusat data dan jaringan teknologi mandiri yang dikelola oleh negara atau lembaga Islam.
2. Integrasi nilai-nilai Islam dalam teknologi digital agar perkembangan teknologi tidak kehilangan orientasi etika.
3. Kolaborasi selektif dengan China dan negara lain yang berorientasi maslahat dan transparansi ekonomi.
4. Penguatan literasi digital umat Islam melalui pendidikan berbasis teknologi yang menanamkan nilai tauhid dan etika global.
7. Kesimpulan
China kini menjadi kekuatan geopolitik dominan di era digital global, dengan pengaruh besar terhadap perekonomian dan infrastruktur dunia Islam. Namun, kebangkitan Islam tidak ditentukan oleh kekuatan luar, melainkan oleh kesadaran internal umat dalam mengelola teknologi dan nilai-nilai spiritual secara seimbang.
Era digital memberikan peluang luar biasa untuk membangun peradaban Islam yang berakar pada ilmu, etika, dan keadilan sosial. Jika dunia Islam mampu memanfaatkan potensi digital dengan prinsip tauhid dan ilmu pengetahuan, maka kebangkitan peradaban Islam yang sejati akan menjadi kenyataan sejarah yang tak terelakkan.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Pakar Studi Islam dan Peradaban Global
Daftar Pustaka
Al-Attas, S. M. N. (1993). Islam and Secularism. Kuala Lumpur: ISTAC.
Anderson, J. W. (2015). Cyber-Islamic Environments: The New Media, the Internet, and the Reconfiguration of Religious Authority. Leiden: Brill.
Esposito, J. L. (2011). The Future of Islam. Oxford University Press.
Ferdinand, P. (2016). Westward Ho—the China Dream and ‘One Belt, One Road’: Chinese Foreign Policy under Xi Jinping. International Affairs, 92(4), 941–957.
Fukuyama, F. (2018). Identity: The Demand for Dignity and the Politics of Resentment. Farrar, Straus and Giroux.
Garver, J. W. (2016). China’s Quest: The History of the Foreign Relations of the People’s Republic of China. Oxford University Press.
Iqbal, Z., & Mirakhor, A. (2017). Ethical Dimensions of Islamic Finance. Springer.
Lee, K. F. (2018). AI Superpowers: China, Silicon Valley, and the New World Order. Houghton Mifflin Harcourt.
Mahbubani, K. (2020). Has China Won? The Chinese Challenge to American Primacy. PublicAffairs.
Nasr, S. H. (1987). Islam and the Problem of Modern Science. Kazi Publications.