Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Konsep Filsafat Pendidikan Islam menurut Al-Ghazali

Kamis, 13 November 2025 | 10:12 WIB Last Updated 2025-11-13T03:12:55Z
1. Pendahuluan

TintaSiyasi.id — Imam Abu Hamid Al-Ghazali (450–505 H/1058–1111 M) dikenal sebagai Hujjatul Islam, seorang ulama dan filosof besar yang berhasil memadukan antara ilmu syariat, tasawuf, dan rasionalitas filsafat. Dalam pemikiran pendidikannya, Al-Ghazali memandang bahwa pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, tetapi jalan penyucian jiwa dan pembentukan manusia paripurna (insan kamil) yang mengenal Allah dan hidup dengan nilai-nilai akhlak yang luhur.

Bagi Al-Ghazali, pendidikan adalah sarana utama menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Tujuan tertinggi pendidikan bukanlah sekadar kepintaran intelektual, tetapi taqarrub ilallah — mendekatkan diri kepada Allah SWT.

2. Landasan Filsafat Pendidikan Al-Ghazali

a. Landasan Ontologis

Menurut Al-Ghazali, hakikat manusia adalah makhluk ruhani yang memiliki potensi ilahiyah. Manusia diciptakan dengan fitrah suci dan diberi potensi akal untuk mengenal kebenaran. Oleh sebab itu, pendidikan bertujuan mengembalikan manusia kepada fitrahnya yang murni.

“Sesungguhnya hati manusia pada awalnya laksana cermin yang bersih; bila disinari ilmu dan amal, ia akan memantulkan cahaya kebenaran.”
— Ihya’ Ulum al-Din

b. Landasan Epistemologis

Sumber ilmu dalam pandangan Al-Ghazali adalah wahyu dan akal. Ia menolak pandangan yang hanya mengandalkan akal semata (seperti kaum filosof rasionalis), namun juga menolak paham yang menolak peran akal.
Menurutnya, ilmu yang hakiki adalah ilmu yang mengantarkan manusia untuk mengenal Allah dan tunduk kepada-Nya.

Ia membagi ilmu menjadi dua:

1. Ilmu syar’i (wahyu): seperti ilmu agama, tafsir, hadis, fiqih, dan akhlak.

2. Ilmu aqli (rasional): seperti kedokteran, matematika, logika, dan sains yang membantu kehidupan manusia.

Keduanya penting, namun harus diarahkan untuk mendukung pengabdian kepada Allah, bukan sekadar kepentingan duniawi.

c. Landasan Aksiologis

Nilai tertinggi dalam pendidikan adalah akhlak. Al-Ghazali menekankan bahwa ilmu tanpa amal dan akhlak akan menjadi petaka.

Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak diukur dari banyaknya pengetahuan, tetapi dari kemampuan peserta didik untuk hidup dengan adab dan kesucian hati.

3. Tujuan Pendidikan Menurut Al-Ghazali

Tujuan pendidikan tidak sekadar menyiapkan manusia menjadi pekerja, tetapi membentuk manusia yang:

1. Mengenal dan mencintai Allah (ma’rifatullah)

2. Berakhlak mulia dan menjauhi dosa

3. Menjalankan tugas khalifah di bumi dengan tanggung jawab moral dan spiritual

4. Menggapai kebahagiaan hakiki (sa‘adah) dunia dan akhirat

Dengan demikian, pendidikan menurut Al-Ghazali bersifat teosentris dan transendental, bukan antroposentris seperti dalam paradigma pendidikan modern Barat.

4. Konsep Guru dan Murid dalam Pandangan Al-Ghazali

a. Guru

Guru menempati posisi yang sangat tinggi, karena ia merupakan pewaris para Nabi.

“Seorang guru adalah orang yang berjuang mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, sebagaimana para Rasul membawa manusia kepada Allah.” — Ayyuha al-Walad

Tugas guru menurut Al-Ghazali bukan hanya mentransfer ilmu, tetapi membimbing hati, menyucikan jiwa, dan menjadi teladan moral. Ia menekankan sifat-sifat guru ideal:

Ikhlas dan tidak mencari keuntungan duniawi.

Lemah lembut dan penuh kasih sayang.

Mendidik dengan hikmah dan adab.

Memberi contoh nyata dalam akhlak dan ibadah.

b. Murid

Murid adalah penuntut ilmu yang harus memiliki adab dan niat yang benar. Niatnya bukan untuk memperoleh kedudukan, tetapi untuk mencari ridha Allah. Al-Ghazali menyebut bahwa ilmu tidak akan masuk ke hati yang sombong, dan menekankan sikap rendah hati, hormat kepada guru, serta keuletan dalam belajar.

5. Metode dan Proses Pendidikan

Menurut Al-Ghazali, proses pendidikan harus memperhatikan keutuhan manusia: akal, hati, dan perilaku.
Beberapa metode pendidikan yang ia tawarkan antara lain:

1. Keteladanan (Uswah Hasanah)
– Guru harus menjadi model nyata dalam ibadah, akhlak, dan kesungguhan belajar.

2. Pembiasaan (Ta‘wid)
– Akhlak tidak cukup diajarkan, tetapi dibiasakan dengan latihan dan kontrol diri.

3. Nasihat dan Mau‘izhah
– Memberikan bimbingan ruhani dan dorongan moral secara lembut.

4. Targhib wa Tarhib
– Menumbuhkan motivasi dengan janji dan ancaman, agar siswa sadar akan tanggung jawabnya.

6. Kurikulum Pendidikan Al-Ghazali

Kurikulum menurut Al-Ghazali bersifat integratif antara ilmu agama dan ilmu dunia, dengan prioritas pada ilmu yang membawa manfaat dan keselamatan akhirat.
Ia menyusun hirarki ilmu sebagai berikut:

1. Ilmu fardhu ‘ain – wajib bagi setiap Muslim, seperti akidah, ibadah, dan akhlak.

2. Ilmu fardhu kifayah – wajib bagi sebagian umat, seperti sains, kedokteran, ekonomi, dan politik.

Dengan pembagian ini, Al-Ghazali menolak dikotomi antara ilmu agama dan ilmu dunia. Semua ilmu bernilai ibadah bila diniatkan untuk kemaslahatan umat.

7. Etika dan Moral dalam Pendidikan

Dalam pandangan Al-Ghazali, inti pendidikan adalah tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Ilmu harus mengantarkan pada amal saleh dan adab yang baik. Jika ilmu menjauhkan dari Allah, maka ilmu itu menjadi hijab (penghalang).

“Ilmu yang tidak mengantarkan pada takut kepada Allah, maka itu adalah bencana, bukan keberkahan.”
— Ihya’ Ulum al-Din

Oleh sebab itu, pendidikan Islam menurut Al-Ghazali tidak cukup dengan kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan spiritual dan emosional, yang mengantarkan manusia kepada kebahagiaan sejati.

8. Relevansi Pemikiran Al-Ghazali di Era Modern

Konsep pendidikan Al-Ghazali sangat relevan dalam menjawab krisis moral dan spiritual zaman modern.
Ketika dunia modern terjebak dalam materialisme dan kehilangan makna, Al-Ghazali menawarkan pendidikan berbasis hati — pendidikan yang memadukan ilmu dan iman, akal dan nurani, dunia dan akhirat.

Pendidikan modern membutuhkan keseimbangan antara kompetensi intelektual dan kesucian moral, sebagaimana yang diajarkan Al-Ghazali.

9. Kesimpulan

Pemikiran pendidikan Al-Ghazali adalah sintesis harmonis antara filsafat, tasawuf, dan syariat, dengan orientasi kepada tazkiyatun nafs dan ma‘rifatullah.
Ia meletakkan dasar kuat bagi lahirnya sistem pendidikan Islam yang holistik, humanistik, dan transendental.

Pendidikan baginya adalah jalan untuk: Menjadi manusia yang sadar akan hakikat diri, berilmu dengan adab, dan beramal dengan ikhlas demi mencapai ridha Allah SWT.

Oleh. Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update