Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Kemerdekaan Indonesia, UIY: Perjuangan itu Lahir dari Rahim Spirit Jihad Fi Sabilillah

Minggu, 16 November 2025 | 05:28 WIB Last Updated 2025-11-15T22:29:10Z

TintaSiyasi.id -- Cendekiawan Muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) menyampaikan bahwa bangsa Indonesia merdeka karena perjuangan gigih para pahlawan yang harus jujur diakui bahwa perjuangan tersebut lahir dari spirit jihad fi sabilillah.

 

“Bangsa ini merdeka karena perjuangan gigih para pahlawan, dan mestinya kita jujur mengakui bahwa perjuangan tersebut lahir dari spirit jihad fi sabilillah,” sebutnya pada VT  berjudul Hari Pahlawan, Kamis (13/11/2025).

 

“Sejak masa penjajahan, umat Islam memimpin perlawanan di seluruh Nusantara dengan spirit itu,” tambahnya tegas.

 

Lalu UIY menyebut, Sultan Agung di Jawa berjuang mempersatukan negeri di bawah panji Islam, Sultan Hasanuddin di Sulawesi menolak tunduk pada penjajah, Tuanku Imam Bonjol memimpin kaum Padri di Sumatera Barat melawan Belanda dengan semangat dakwah yang menggelora.

 

Belum lagi di tanah Jawa, Ia menyebut perlawanan Pangeran Diponegoro pun bangkit bukan karena persoalan tanah pekuburan sebagaimana narasi buku pelajaran, melainkan karena kezaliman penjajah dan pelecehan kehormatan rakyat. “Ia memimpin perang jihad bersama para ulama, bahkan tercatat ada 15 syekh yang berjuang di barisannya,” ungkapnya.

 

Dari Aceh, Cut Nyak Dien, Teuku Cik Di Tiro, Teuku Umar, hingga Laksamana Malahayati disebut UIY berdiri di garis depan. “Semua itu digerakkan oleh keyakinan pada sabda Rasulullah saw. bahwa siapa yang terbunuh membela harta, keluarga, atau agamanya maka ia syahid,” tandasnya.

 

Man qutila duuna maalihi, fahuwa syahid. Man qutila duuna ahlihi, fahuwa syahid. Man qutila duuna dinihi, fahuwa syahid,” sebutnya

 

“Namun setelah kemerdekaan, narasi besar ini seperti hendak dipinggirkan. Spirit Islam digeser, peran umat disisihkan, dan perjuangan disederhanakan menjadi sekadar nasionalisme sempit,” sesalnya.

 

“Hari Kebangkitan Nasional diperingati berdasarkan berdirinya Budi Utomo, padahal tiga tahun sebelumnya sudah berdiri Syarikat Islam, organisasi luas yang mempersatukan jutaan umat dari berbagai lapisan dengan semangat membebaskan negeri atas dasar iman,” tandasnya.

 

Sayangnya, sejarah memilih mengangkat Budi Utomo yang bersifat kedaerahan, sementara Syarikat Islam yang menyatukan rakyat justru dilupakan. “Dan hari ini, umat Islam yang berbicara tentang syariat justru dituduh radikal, padahal tanpa syariat dan jihad bangsa ini tidak akan pernah lahir,” urainya.

 

“Kita memuja pahlawan, tetapi melupakan keyakinan yang membuat mereka berani berjuang bahkan tak takut mati. Kita bangga pada kemerdekaan, tetapi lupa pada ruh yang melahirkannya,” tegasnya

 

“Pertanyaan penting pun menggema, jika iman dahulu mampu melahirkan kemerdekaan, mengapa hari ini iman, Islam, dan syariat justru dianggap ancaman?” tutupnya.[] Titin Hanggasari

Opini

×
Berita Terbaru Update