“Bangsa ini merdeka karena perjuangan
gigih para pahlawan, dan mestinya kita jujur mengakui bahwa perjuangan tersebut
lahir dari spirit jihad fi sabilillah,” sebutnya pada VT berjudul Hari Pahlawan, Kamis (13/11/2025).
“Sejak masa penjajahan, umat Islam
memimpin perlawanan di seluruh Nusantara dengan spirit itu,” tambahnya tegas.
Lalu UIY menyebut, Sultan Agung di
Jawa berjuang mempersatukan negeri di bawah panji Islam, Sultan Hasanuddin di
Sulawesi menolak tunduk pada penjajah, Tuanku Imam Bonjol memimpin kaum Padri
di Sumatera Barat melawan Belanda dengan semangat dakwah yang menggelora.
Belum lagi di tanah Jawa, Ia menyebut
perlawanan Pangeran Diponegoro pun bangkit bukan karena persoalan tanah
pekuburan sebagaimana narasi buku pelajaran, melainkan karena kezaliman
penjajah dan pelecehan kehormatan rakyat. “Ia memimpin perang jihad bersama
para ulama, bahkan tercatat ada 15 syekh yang berjuang di barisannya,”
ungkapnya.
Dari Aceh, Cut Nyak Dien, Teuku Cik
Di Tiro, Teuku Umar, hingga Laksamana Malahayati disebut UIY berdiri di garis
depan. “Semua itu digerakkan oleh keyakinan pada sabda Rasulullah saw. bahwa
siapa yang terbunuh membela harta, keluarga, atau agamanya maka ia syahid,”
tandasnya.
“Man qutila duuna maalihi, fahuwa
syahid. Man qutila duuna ahlihi, fahuwa syahid. Man qutila duuna dinihi, fahuwa
syahid,” sebutnya
“Namun setelah kemerdekaan, narasi
besar ini seperti hendak dipinggirkan. Spirit Islam digeser, peran umat
disisihkan, dan perjuangan disederhanakan menjadi sekadar nasionalisme sempit,”
sesalnya.
“Hari Kebangkitan Nasional
diperingati berdasarkan berdirinya Budi Utomo, padahal tiga tahun sebelumnya
sudah berdiri Syarikat Islam, organisasi luas yang mempersatukan jutaan umat
dari berbagai lapisan dengan semangat membebaskan negeri atas dasar iman,”
tandasnya.
Sayangnya, sejarah memilih mengangkat
Budi Utomo yang bersifat kedaerahan, sementara Syarikat Islam yang menyatukan
rakyat justru dilupakan. “Dan hari ini, umat Islam yang berbicara tentang
syariat justru dituduh radikal, padahal tanpa syariat dan jihad bangsa ini
tidak akan pernah lahir,” urainya.
“Kita memuja pahlawan, tetapi
melupakan keyakinan yang membuat mereka berani berjuang bahkan tak takut mati.
Kita bangga pada kemerdekaan, tetapi lupa pada ruh yang melahirkannya,”
tegasnya
“Pertanyaan penting pun menggema, jika iman dahulu mampu melahirkan kemerdekaan, mengapa hari ini iman, Islam, dan syariat justru dianggap ancaman?” tutupnya.[] Titin Hanggasari
