Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Keberkahan Silaturahmi dan Bahaya Memutuskannya

Kamis, 13 November 2025 | 10:12 WIB Last Updated 2025-11-13T03:12:28Z
Refleksi atas Sabda Rasulullah SAW dalam Riwayat Ibnu Majah

TintaSiyasi.id — “Sesungguhnya kebaikan yang paling cepat balasannya adalah berbuat baik dan menyambung silaturahmi. Sedangkan kejahatan yang paling cepat hukumannya adalah kezaliman dan memutuskan silaturahmi.” (HR. Ibnu Majah No. 4211)

1. Silaturahmi: Jalan Cepat Menuju Keberkahan Dunia dan Akhirat

Silaturahmi bukan sekadar ritual tahunan di hari raya, bukan pula basa-basi sosial yang formal dan kering. Dalam pandangan Islam, silaturahmi adalah ibadah sosial yang tinggi nilainya di sisi Allah SWT. Rasulullah SAW menegaskan bahwa silaturahmi bukan hanya membawa pahala akhirat, tetapi juga mendatangkan keberkahan duniawi yang nyata dan segera: kelapangan rezeki, panjang umur, dan kebahagiaan batin.

Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Nabi bersabda: “Barang siapa ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah tali silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa silaturahmi bukan sekadar memperpanjang umur dalam arti biologis, tetapi memperpanjang makna kehidupan — umur yang penuh berkah, manfaat, dan kebaikan yang terus mengalir meski jasad telah tiada.

Silaturahmi menghubungkan hati, menumbuhkan cinta, menenangkan batin, dan membuka pintu-pintu rezeki yang sebelumnya tertutup. Banyak orang yang mengalami keajaiban hidup setelah memperbaiki hubungan keluarga: urusan yang macet menjadi lancar, rezeki yang seret menjadi lapang, dan hati yang gelisah menjadi damai.

2. Rahasia Cepatnya Balasan Kebaikan

Mengapa Rasulullah SAW menyebut silaturahmi sebagai kebaikan yang paling cepat balasannya? Karena hakikat silaturahmi adalah menyatukan yang tercerai, menambal yang robek, dan menurunkan ego untuk menghidupkan cinta.

Kebaikan seperti ini menyentuh dimensi yang sangat dalam dari fitrah manusia. Allah mencintai orang-orang yang menyambung hubungan karena itu berarti menjaga ciptaan-Nya tetap terikat dalam kasih sayang. Dalam setiap pertemuan yang tulus, setiap pelukan maaf, setiap kata lembut yang memulihkan luka — di situ ada barakah ilahiyah yang turun tanpa kita sadari.

Imam al-Ghazali berkata, “Silaturahmi adalah tanda hati yang hidup. Sebab hati yang keras tidak akan mampu menyambung hubungan yang telah putus, karena di dalamnya telah mati rasa kasih sayang.”

3. Kezaliman dan Memutus Silaturahmi: Dosa yang Cepat Mengundang Azab

Rasulullah SAW melanjutkan, bahwa kejahatan yang paling cepat hukumannya adalah kezaliman dan memutuskan silaturahmi.

Kezaliman merusak harmoni kehidupan sosial, sedangkan memutus silaturahmi menghancurkan jalinan kasih antar manusia. Dua dosa ini sering kali membawa akibat duniawi yang cepat: hati resah, rezeki seret, keluarga berantakan, dan masyarakat kehilangan keberkahan.

Bahkan dalam Al-Qur’an, Allah memperingatkan dengan keras:

“Maka apakah kiranya jika kamu berpaling, kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah, yang ditulikan pendengarannya dan dibutakan penglihatannya.” (QS. Muhammad: 22–23)

Lihatlah betapa berat ancaman bagi orang yang memutuskan hubungan darah atau silaturahmi. Itu bukan hanya dosa sosial, tetapi juga tanda hati yang telah gelap. Sebab orang yang enggan menyapa, sulit memaafkan, dan tega membiarkan hubungan retak karena gengsi — sejatinya telah terhalang dari cahaya rahmat Allah SWT.

4. Menyambung Meski Disakiti: Jalan Para Pecinta Allah

Silaturahmi sejati diuji bukan ketika semuanya berjalan baik, tetapi ketika kita harus menyambung hubungan dengan orang yang pernah menyakiti kita.
Inilah puncak akhlak seorang mukmin. Rasulullah SAW bersabda:

“Bukanlah orang yang menyambung (silaturahmi) itu yang membalas kunjungan atau pemberian, tetapi yang menyambung adalah orang yang ketika diputuskan hubungannya, ia tetap menyambungnya.” (HR. Bukhari)

Orang yang mampu melakukan itu bukan orang biasa. Ia memiliki hati yang lapang, jiwa yang terhubung dengan Allah, dan kesadaran bahwa menjaga silaturahmi adalah bentuk pengabdian, bukan transaksi emosional. Ia sadar bahwa memaafkan bukan tanda lemah, tetapi bukti kuatnya iman.

5. Keajaiban Sosial dari Silaturahmi

Jika setiap Muslim membangun dan menjaga silaturahmi, masyarakat akan dipenuhi energi positif: kepercayaan tumbuh, solidaritas meningkat, dan kezaliman berkurang. Kehidupan sosial umat menjadi hangat, penuh kasih, dan jauh dari fitnah serta dendam.

Di tingkat keluarga, silaturahmi menciptakan ketenangan psikologis dan memperkuat pondasi kasih sayang antar generasi.

Di tingkat umat, silaturahmi melahirkan persatuan dan ukhuwah Islamiyah yang kokoh — inilah kekuatan yang pernah menjadikan umat Islam berjaya di masa lalu.

6. Refleksi Diri: Apakah Kita Masih Menyambung atau Justru Memutus?

Setiap kita perlu merenung:
Apakah ada saudara, teman, atau kerabat yang sudah lama tidak kita sapa karena kesalahpahaman kecil?
Apakah ada hati yang kita biarkan retak karena gengsi atau marah yang belum padam?

Barangkali keberkahan hidup kita tertahan bukan karena kurang doa, tetapi karena ada silaturahmi yang terputus.
Mungkin pintu rezeki belum terbuka karena ada hubungan yang belum kita perbaiki.

Maka, mulailah dengan langkah kecil: kirim pesan, ucapkan salam, atau sekadar mendoakan orang yang pernah kita jauhi. Allah akan menolong hamba-Nya yang berusaha memperbaiki hubungan sesama manusia.

7. Penutup: Cahaya di Jalan Silaturahmi

Menjaga silaturahmi adalah menyalakan cahaya di tengah gelapnya ego dan kebencian. Setiap kali kita memaafkan, menebar kasih, dan menjaga hubungan, kita sedang menghidupkan fitrah kemanusiaan yang paling suci.

Rasulullah SAW adalah teladan tertinggi dalam hal ini. Beliau selalu menyambung hubungan, bahkan kepada orang yang memusuhinya. Itulah sebabnya Islam menyebar dengan rahmah, bukan marah; kasih sayang, bukan permusuhan.

Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang dicintai karena menyambung tali silaturahmi dan menjauhi segala bentuk kezaliman.
Dan semoga setiap hubungan yang retak dalam hidup kita disatukan kembali oleh kasih sayang-Nya.

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10).

Oleh. Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update