Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Empat Wasiat Agung: Jalan Lurus Menuju Ketenangan Hati

Kamis, 13 November 2025 | 10:12 WIB Last Updated 2025-11-13T03:12:39Z

TintaSiyasi.id — Dalam sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Abu Darda’ r.a., beliau berkata: "Aku meminta wasiat kepada Rasulullah SAW, maka beliau bersabda: 'Carilah yang halal, beramallah shalih, mintalah rezeki secukupnya, dan anggaplah dirimu telah mati.'” (Nasihat ini juga dikutip oleh Imam al-Ghazali dalam Mukasyafatul Qulub).

Riwayat yang singkat namun sarat makna ini seolah mengandung peta kehidupan bagi setiap mukmin yang ingin hidup dengan tenang, bersih, dan bermakna. Mari kita renungi empat wasiat Rasulullah SAW ini satu per satu.

1. Carilah yang Halal

Wasiat pertama menegaskan pondasi hidup seorang Muslim: kehalalan sumber kehidupan. Makanan, pakaian, dan harta yang masuk ke dalam tubuh dan rumah kita akan membentuk karakter jiwa. Imam al-Ghazali menegaskan, “Daging yang tumbuh dari yang haram, maka api neraka lebih layak baginya.” Maka mencari yang halal bukan sekadar urusan ekonomi, tetapi ibadah spiritual yang menghubungkan rezeki dengan ridha Allah.

Bekerja keras dengan cara yang benar, menjauhi riba, manipulasi, dan tipu daya adalah bukti keimanan yang nyata. Karena hakikat keberkahan bukan pada jumlah harta, tetapi pada halalnya sumber dan sucinya niat.

2. Beramallah Shalih

Setelah memastikan yang halal, Rasulullah SAW menuntun kita untuk mengisi kehidupan dengan amal shalih.
Amal shalih adalah bentuk syukur atas nikmat Allah. Ia bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga mencakup setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas.
Imam al-Ghazali menjelaskan, amal shalih adalah cermin kejujuran hati — bukan sekadar banyaknya ibadah, tetapi ketepatan niat dan kesucian tujuan.

Beramal shalih berarti menjadi pribadi yang memberi manfaat, menghidupkan hati dengan dzikir, dan menebar rahmat bagi sesama.
Amal yang kecil tetapi ikhlas jauh lebih bernilai daripada amal besar yang disertai riya’. Karena Allah tidak menilai banyaknya perbuatan, tapi kemurnian hati yang melakukannya.

3. Mintalah Rezeki Secukupnya

Wasiat ketiga mengajarkan qana’ah — merasa cukup dengan karunia Allah.
Nafsu manusia tidak pernah puas; semakin banyak yang didapat, semakin ingin menambah. Tetapi hati yang qana’ah justru hidup damai walau sederhana.
Imam al-Ghazali berkata, “Kecukupan bukan terletak pada banyaknya harta, tetapi pada ketenangan hati terhadap apa yang telah dimiliki.”

Rasulullah SAW juga bersabda:
"Beruntunglah orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya qana’ah terhadap apa yang diberikan kepadanya." (HR. Muslim)

Orang yang meminta rezeki secukupnya bukan berarti malas, tapi ia tahu batas antara kebutuhan dan keserakahan.
Ia bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi hatinya tidak terikat dunia. Ia menjemput rezeki dengan tawakal, bukan dengan keluh kesah.

4. Anggaplah Dirimu Sudah Mati

Inilah puncak dari semua wasiat: kesadaran akan kefanaan. Menganggap diri sudah mati bukan berarti putus asa, melainkan hidup dengan kesadaran akhirat. Setiap langkah, setiap ucapan, dan setiap keputusan akan lebih berhati-hati jika kita merasa bahwa hari ini bisa jadi hari terakhir.

Imam al-Ghazali dalam Mukasyafatul Qulub menjelaskan bahwa mengingat kematian adalah obat bagi hati yang lalai.
Ia menumbuhkan keikhlasan, menumbuhkan semangat beramal, dan memadamkan api cinta dunia.

Orang yang menganggap dirinya telah mati akan hidup dengan lebih tenang, sederhana, dan berorientasi pada amal akhirat. Ia tidak sombong, tidak serakah, dan tidak mudah kecewa — karena ia tahu: dunia hanyalah persinggahan sementara.

Penutup: Jalan Menuju Kedamaian Abadi
Empat wasiat ini — mencari yang halal, beramal shalih, mencukupkan diri, dan mengingat kematian — adalah rangkaian jalan menuju hati yang tenang dan hidup yang diridhai Allah.

Jika hati sudah halal dalam rezekinya, bersih dalam amalnya, tenang dalam qana’ah-nya, dan sadar akan kematian, maka hidup ini menjadi indah dalam kesederhanaan dan bermakna dalam setiap langkah.

Imam al-Ghazali menutup nasihatnya dengan kalimat yang menggugah:
"Barang siapa hidupnya untuk akhirat, maka dunia akan datang kepadanya dengan tunduk. Tetapi barang siapa hidupnya hanya untuk dunia, maka ia akan hidup letih tanpa pernah kenyang."

Refleksi

Mari renungkan setiap pagi:
• Apakah rezekiku hari ini bersumber dari yang halal?
• Apakah amal yang kulakukan karena Allah atau karena manusia?
• Apakah aku sudah bersyukur dengan yang ada?
• Apakah aku siap jika hari ini adalah hari terakhirku?
Karena dalam empat pertanyaan inilah tersembunyi rahasia kebahagiaan sejati seorang mukmin.

Oleh. Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update